Apakah Aku Pantas?

Apakah Aku Pantas?
Pengaduan Shenna berakhir pertengkaran


__ADS_3

Shenna menunggu Hino di depan gudang, ia sedikit takut, walaupun tidak ada raut galak di wajah Hino tapi tetap saja ia merasa takut. Hino sudah sampai di di lantai bawah, ia tidak melihat batang hidung Shenna disana. Sedangkan Shenna masih fokus pada ponselnya, entah apa yang ia lihat di ponselnya.


Hino melihat ke berbagai arah, dan ia menangkap satu objek disana. Ya, di depan pintu gudang adalah Shenna, Hino berjalan mendekat ke arah Shenna.


"Shenna?".


"Aaa!"


Shenna hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut. Hino pun ikut terkejut dengan teriakan Shenna. Melihat yang menyebut namanya adalah Hino, Shenna menutup mulutnya dan menyesal.


"Hei, kau kenapa?. Hino.


"Astaga, maaf pak. S-saya terlalu fokus melihat ponsel, saya tidak tahu kalau bapak datang secepat ini. Maaf pak"


Shenna menjelaskan dengan perasaan khawatir ditambah malu, ia ingin menangis rasanya. Di sisi lain ada beberapa orang yang melihatnya termasuk pengunjung toko, Shenna menggigit jarinya.


"Aaaa mana suaraku tadi melengking sekali, huhuu".


"Hahaha, kau sangat aneh". Hino.


Shenna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah, lupakanlah. Ayo ke kantin!". Hino langsung melangkah, Shenna mengekor di belakangnya.


.


.


*Di kantin.


Mereka sudah sampai di kantin dan duduk di meja yang dipilih oleh Hino. Shenna sedikit tidak enak dengan atasannya ini.


"Duh, sebenarnya kan aku ingin di ruangan pak Hino saja, kenapa malah di kantin, ya Tuhan".


Shenna duduk dengan sopan di sisi meja sebelah kiri Hino, Hino membuka suara.


"Jadi bagaimana, Shenna?. apa yang ingin kau bicarakan? apa ada masalah?".


Shenna terdiam sejenak.


"I-iya pak. Jadi begini, Sebenarnya.. saya sudah lama dijadikan babu oleh rekan kerja senior saya".

__ADS_1


Hino mengeryitkan dahinya.


"Siapa? perasaan selama saya bekerja disini tidak ada laporan seperti yang kau laporkan".


Pelayan kantin datang dan membawakan pesanan mereka, Nasi goreng ayam dan lalapannya serta sambal, sangat menggugah selera Hino yang sudah lapar, Ia mulai memakan makanannya, sedangkan Shenna masih meneruskan ceritanya.


"Saya yang merasakannya pak, Satu bulan lebih saya bekerja disini, di minggu kedua terlihat banyak yang tidak menyukai keberadaanku. Sampai saat ini, saya belum mempunyai teman walau hanya sekedar mengobrol. Sebelumnya, saya tidak memperdulikan itu, tapi lama kelamaan saya sudah tidak tahan dan berniat resign, tapi di sisi lain saya juga mengerti bahwa mencari pekerjaan di ibu kota sangatlah sulit, pak. Jadi, sekiranya anda bisa membantu saya untuk mencari jalan keluar dari masalah ini".


Shenna menjelaskan dengan panjang lebar dengan raut wajah sedih, ia ingin menangis namun harus ia tahan sebisa mungkin.


Hino berhenti mengunyah makananya, ia melihat mata gadis yang di depannya sedikit berkaca-kaca namun perlahan hilang. Ia langsung paham dengan kondisi Shenna saat ini.


"Hmm, begitu ya. Baiklah, makanlah dulu nasi gorengnya, nanti dingin". Hino.


Shenna sedikit heran dengan respon atasannya ini.


"Emm baik, pak." Shenna kecewa dengan respon atasannya yang sudah ia percayai, namun ia masih berpikir positif, mungkin tidak baik jika dia terus mengajak ngobrol orang yang sedang makan.


"Baiklah Shenna, lebih baik kau makan dulu, pak Hino adalah kunci kau bertahan untuk mencari uang buat ayah".


Shenna mengambil sendoknya dan mulai memakan nasi gorengnya dengan perlahan.


.


"Shenna?pria itu?, sepertinya aku pernah melihat pria itu".


Karan berpikir lagi.


"Ternyata ini yang dia katakan urusan Pribadi?"


Entah mengapa Karan sangat penasaran, dan kakinya melangkah ke arah Hino dan Shenna yang sedang makan siang. Shenna melihatnya, dan sampailah Karan di meja mereka.


"Pak?, selamat siang". Shenna menghentikan makannya dan menyapa Karan dengan senyuman.


Hino menoleh kebelakang, melihat arah mata Shenna tertuju kemana. Ia melihat Pria yang sedang berdiri di sisi mereka, Hino melihatnya dari atas sampai bawah. Hino melepaskan sendoknya.


"Selamat siang, Sepertinya saya pernah melihatmu". Hino berpikir senejak.


"Ah iya kata orang-orang kau karyawan baru, ya?. Apa benar kau manager?". Tanya Hino serius, raut wajahnya tetap ramah seperti biasa.


"Benar". Jawab Karan singkat.

__ADS_1


Hino tercengang


"Cuek sekali orang ini, kau pikir kau keren seperti itu? apa mungkin dia bersikap sok cool di depan Shenna?"


Sorot mata Karan berpindah kepada Shenna yang ikut tercengang, ia mengira bahwa kedua atasannya ini sudah saling kenal, ternyata belum.


"Shenna". Karan


"Iya pak?".


"Ikut saya".


Melihat Karan yang terlihat seenaknya memerintah Shenna, Hino mengubah posisi duduknya dan menghadap Karan.


"Hei, apa maksudmu?. Jangan mengganggu orang yang sedang makan, apa kau tidak tahu aturan? kau seorang manager padahal". Ucap Hino dengan nada serius, mana mungkin pria yang belum dikenalinya ini seenaknya memerintah tidak melihat situasi orang lain.


"Saya hanya memerintah Shenna, bukan kau". Jawab karan tetap santai.


"Saya tahu. Tapi apakah kau buta? Shenna sedang makan disini, kenapa langsung memerintahnya untuk ikut denganmu?". Hino terlihat kesal.


"Saya hanya membantunya, Saya manager di toko ini, jadi saya lebih berhak atas karyawan yang dibawah".


"Manager? manager macam apa memerintah karyawan yang sedang makan?. Dan apa tadi yang kau katakan? karyawan yang dibawah? hmm, memangnya setinggi apa dirimu pak Manager?". Hino berdiri menghadap Karan yang memasukkan tangannya di sakunya, Karan tetap santai.


"Tentu saja, Saya.."


"Cukup!". Shenna mencairkan suasana.


"Pak Hino, Pak Karan. Apa yang sedang kalian ributkan?, banyak orang yang sedang makan disini". Shenna merasa tidak enak dengan pengunjung kantin yang lain, ada karyawan lain juga yang melihat mereka, ada pula yang menatap sinis pada Shenna, bagaimana bisa ia sedekat itu pada pak manager dan pengelola keuangan.


"Shenna, saya ingin membicarakan kasusmu yang kemarin". Karan duluan membuka suara.


"Pak Karan, mohon maaf pak. Kita akan membahasnya lain kali, saat ini saya sedang membahas masalah pekerjaan dengan pak Hino, saya akan pergi ke ruangan bapak setelah saya selesai dengan pak Hino". Ucap Shenna tetap sopan kepada atasannya itu.


Hino menatap Karan dengan tatapan sinis, Hino terlihat kesal dengan pria yang ada di depannya. Hino adalah pria yang menjunjung tinggi kesopanan dan kedisiplinan, walaupun ia tergolong pria humoris dan friendly namun ia tetap mengutamakan etika. Melihat Karan seperti itu, rasanya ia ingin memukulnya.


Melihat penolakan Shenna, Karan berhenti berbicara dan melangkah mundur sambil menatap Hino yang juga menatapnya. Ia bukan marah pada Shenna, namun ia merasa sudah di permalukan di depan umum oleh Pria yang bernama Hino. Karan pergi meninggalkan mereka.


"Emm, pak Hino. Silahkan duduk kembali, ini salah saya, jadinya pak Karan ribut di sini". Shenna merasa tidak enak.


"Bukan salahmu, pria sombong itu yang memulai".

__ADS_1


Hino dan Shenna kembali duduk di kursinya, melanjutkan makan dan kembali mengobrol tentang masalah Shenna.


__ADS_2