Apakah Aku Pantas?

Apakah Aku Pantas?
Kunjungan ke pabrik


__ADS_3

*Ke esokan harinya, pagi hari.


Pagi hari yang cerah dengan matahari yang hangat, pagi yang sangat indah bagi setiap orang yang menjalankan aktivitas. Shenna sudah sampai di depan Toko, tentunya dengan perasaan takutnya, karena apa? sudah jelas masalah kemarin. Shenna membayar ongkos ojek yang biasa ia tumpangi.


"Nih pak". Shenna menyodorkan uang senilai lima ribu rupiah kepada bapak ojek.


"Terimakasih, neng"


"Kok mukanya datar gitu neng? Saya nganternya lambat ya?" Tanya bapak ojek sembari meraih uang yang disodorkan Shenna.


Shenna tersadar.


"Hah? astaga ga kok pak. Kok bapak gitu mikirnya?".


"Soalnya neng dari tadi gak banyak omong, kalo kata orang-orang sih, cewek kalo banyak diem pasti lagi ada apa-apa".


Shenna tersenyum.


"Hehehe, ga kok pak. Saya lagi gak mood aja. Soalnya hari ini saya lembur".


"Oalah gitu toh, gapapa mah, neng pernah bilang harus semangat, kan kerja dibayar pake duit".


"Hahaha, ya ampun bapak bisa aja. Yaudah deh saya semangat, Bapak juga semangat ya". Tawa Shenna pecah, ya, ia pernah mengatakan seperti itu kepada si bapak ojek.


"Nah gitu dong, kan kalo semangat makin cantik hehehe. Yaudah neng, saya pamit dulu, mau narik lagi".


"Iyaaa pak, hati-hati ya".


Bapak ojek pun pergi.


Di tempat lain, seorang pria melihat Shenna di halaman toko dari jendela ruang kerjanya. Itu adalah Karan, ia melihat setiap gerak gerak Shenna. Di bawah sana, Shenna menatap pintu utama toko, ia diam sejenak dan mengulum senyum di bibirnya kemudian melangkah masuk, tatapan Karan tidak lepas darinya.


"Apa dia sudah gila? kenapa dia senyum sendiri di bawah sana". Gumam Karan menarik sudut bibirnya, yang sebenarnya Karan juga terhenyak melihat gadis itu tersenyum.


"Gadis itu murah senyum, tapi kenapa ketika denganku ia tidak pernah tersenyum se ikhlas itu?".


.


.


Shenna memasuki toko, hari ini ia mendapatkan tugas untuk mendata setiap barang yang telah habis stok dan yang di pajang di rak penjualan. Shenna mengambil notebooknya, dan memulai pekerjaannya.


20 menit berlalu Shenna sudah selesai melakukan pekerjaannya, ia menyerahkan catatannya kepada rekannya yang lain untuk di tindak lanjuti. Kini Shenna berpikir untuk menuju ruangan Karan berada.


"Huft".


"Apa aku harus kesana, ya?"


Shenna menatap tangga menuju lantai atas, ia menggigit jarinya.


"Hmmp hufft, baiklah Shenna ayo lakukan, kau tidak ingin pikiranmu terbebani kan?". Shenna melangkah menuju tangga dengan perasaan yakin.


Shenna sudah tiba di lantai atas toko, ia menatap pintu ruang kerja Karan dengan perasaan was-was. Shenna melangkah dan perlahan mengetuk pintu.


*Tok tok tok


"Masuk". Terdengar suara Karan.


Perasaan Shenna semakin was-was. Ia membuka pintu dengan perlahan.


Karan terkejut dengan kedatangan Shenna.


"Pak Karan". Shenna mengulum senyum dengan perasaan takut.


Hening sejenak, Karan menatap gadis itu.


"Duduk". Ucap Karan dingin.


Shenna duduk di depan meja kerja Karan.


"Ada apa?".


"Emm, Pak. S-saya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin, Dan.. T-tolong jangan pecat saya, maafkan saya yang sudah menghancurkan kepercayaan anda, pak". Ucap Shenna tanpa basa-basi lagi.


Karan mengeryitkan dahinya.


"Sebentar, maksudnya permintaan maaf atas kejadian kemarin?, gadis ini meminta maaf?".

__ADS_1


"Apa dia pikir aku akan memecatnya? aku saja tidak tahu bagaimana level kesalahan Merchandiser jika pantas di pecat".


Karan mengutuki dirinya lagi atas kebodohannya dalam dunia kerja.


Karan diam mendengar permohonan maaf Shenna.


"Aku memaafkanmu".


Disaat Karan mengatakan bahwa ia memaafkan Shenna, terdengar lagi ketukan pintu.


*Tok tok tok


Shenna yang tadinya tersenyum ikut menoleh ke arah pintu


"Masuk!". Karan


Terlihat pak Hadi disana, Karan segera memperbaiki posisi tubuhnya yang duduk dengan santai. Pak Hadi masuk menatap Karan dan gadis yang ada duduk di depan mejanya.


"Karan? kau sedang bekerja?". Pak Hadi


"Tidak pak, m-maksudnya iya, saya sedang mengurus masalah Merchandiser seperti yang anda lihat". Karan melihat Shenna sekilas.


Pak Hadi yang melihat Karan menyampaikan dengan gugup sedikit heran. Pak Hadi tersenyum.


"Hmm, bagus bagus. Bagaimana? apa ada kendala".


"Tidak ada pak, semua berjalan sesuai dengan semestinya".


.


.


Shenna yang sedari tadi memperhatikan Pak Hadi tercengang. Ia menyadari bahwa pria yang tidak jauh beda dengan ayahnya ini adalah pemilik toko, ia pernah melihatnya di internet sebelum melamar pekerjaan. Shenna hanya memperbaiki posisi duduknya dan memperhatikan percakapan dua pria di depannya.


.


.


"Baiklah, Karan. Apa boleh saya mengambil sedikit waktumu?". Pak Hadi duduk di Sofa.


"Saya tidak keberatan, Pak. Ada hal apa yang akan bapak bicarakan?". Karan ikut duduk di samping Pak Hadi.


"Jadi begini, Karan. Saya memiliki pabrik kornet yang ada di Jakarta Timur, di jalan xx nomor 28".


Pak Hadi memperlihatkan lokasinya pada peta digital di ponselnya.


Karan memperhatikan dengan teliti.


"Jadi kornet-kornet di pabrik ini sudah lebih dari 4 tahun di produksi dan di jual di toko ini juga".


Pak Hadi terus memperlihatkan gambar-gambar tentang pabriknya kepada Karan.


Shenna hanya memperhatikan dan mengingat kornet-kornet yang ia susun di lemari pendingin toko, Shenna mengangguk-nganggukkan kepalanya. Shenna masih asyik mendengarkan percakapan kedua pria di depannya.


"Jadi, saya ingin kamu pergi ke pabrik ini untuk menggantikan jadwal saya besok. Jadwalnya selama 2 hari, tugas mu adalah mendata apa saja yang kau lihat disana". Pak Hadi menjelaskan.


Karan tercengang, ia merasa tidak mampu untuk melakukannya. Karan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Shenna melihatnya.


Pak Hadi melihat reaksi Karan yang nampaknya tidak bersedia.


"Kau boleh mengajak 1 orang partner dalam tugas ini, terserah kau saja, yang penting dia adalah karyawan di toko ini".


Karan mengingat ia tidak dekat pada siapa pun di toko, ia ke toko hanya sekedar untuk bekerja atas permintaan papanya, Karan berpikir sejenak.


Karan mengalihkan pandangannya pada Shenna yang masih duduk di depan meja kerjanya. Pak Hadi melihat arah mata putra sahabatnya itu.


"Apa kau mau mengajaknya?". Pak Hadi.


"Emm iya pak, dia akan menemaniku!". Karan tidak memiliki pilihan lain.


"Emm, apa? kenapa aku?. Mau di ajak kemana?"


Shenna masih melihat dengan tatapan bingung.


"Emm, maaf pak. Mengajak untuk apa?". Shenna memberanikan diri untuk bertanya sambil menautkan jemarinya di bawah meja.


"Ikut denganku untuk mengunjungi pabrik kornet di Jakarta Timur". Jawab Karan.

__ADS_1


"Ap-apa? kenapa harus aku?"


"Emm, maaf Pak Hadi. Tapi saya tidak memiliki pengalaman". Shenna hendak menolak.


"Kau sudah di setujui Pak Hadi, jangan membantah!". Karan mengingatkannya kembali, sebenarnya karan takut jika gadis ini benar-benar tidak mau, jika bukan dia, lalu siapa lagi yang akan pergi dengannya? begitu kira-kira pikiran Karan disertai rasa takutnya karena tidak mengerti sepenuhnya tentang hal pekejaan.


Sedangkan Shenna, entah apa sebenarnya yang di rasakan olehnya, ada perasaan senang di dalam dirinya, karena ia di beri amanah oleh atasannya. Namun, ia juga takut karena ia tidak memiliki pengalaman.


Karan menarik sudut bibirnya melihat ekspresi Shenna. "Anggap saja ini bentuk balas dendam".


"Ah, baiklah Karan, saya tidak menyangka hal ini akan segera selesai. Saya akan memberitahu pekerja disana bahwa saya akan digantikan olehmu, malam ini kau dan..?" Pak Hadi menoleh pada Shenna.


"Shenna, Pak".


"Nah, Shenna. Kalian boleh menyiapkan barang-barang kalian malam ini, besok pagi kalian boleh berangkat. Semoga sukses, ya".


Pak Hadi mengulum senyum dan berdiri, Karan ikut berdiri dari duduknya.


"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi saya, Karan". Pak Hadi menepuk punggung Karan, layaknya ayah dan anak.


Shenna ikut berdiri dan mengikuti langkah kedua pria itu. Pak Hadi pun pergi meninggalkan ruang kerja Karan, tersisalah ia dengan Shenna.


Karan melihat Shenna yang masih berdiri tidak jauh darinya.


"Duduk kembali!". Karan


Shenna duduk kembali, Karan juga kembali di kursi kerjanya, duduk berhadapan dengan Shenna.


"Kau mendengar kesepatan tadi? malam ini bersiap-siaplah, besok aku akan menjemputmu". Karan.


"Baik, pak. Emm pak, apakah anda tidak akan memecat saya?". Tanya Shenna yang kembali dibuat galau.


Karan bosan dengan pertanyaan gadis yang ada di depannya ini.


"Apa kau tidak melihat tadi Pak Hadi menyuruh kita untuk melakukan tugas besok?". Karan melemparkan pertanyaan balik kepada Shenna.


"Pak Hadi atau anda Pak Karan?, jelas-jelas tadi anda yang menunjukku, huft". Gumam Shenna, ia sedikit kesal pada atasannya ini.


"Itu artinya kau tidak dipecat". Tegas Karan.


Shenna tersenyum dan menundukkan kepalanya, ia bahagia. Walau besok ia akan mengikuti Karan untuk menjalankan dari pemilik toko. Karan memperhatikannya.


"Apa dia sangat takut dipecat?"


Karan masih menatap Shenna yang duduk di hadapannya dan tersadar.


"Hmm, baiklah. Kau boleh keluar sekarang". Karan.


"Baik, Pak. Terimakasih banyak, kalau begitu saya permisi dulu, jika ada apa-apa anda bisa memanggil ".


"Hm". Jawab Karan hanya berdehem.


Shenna tersenyum dan berlalu menuju pintu.


Tatapan Karan tidak lepas pada Shenna sampai punggung gadis itu menghilang dari pintu.


Karan tersadar.


"Huft, baiklah Karan. Besok adalah tugas pertamamu". Karan berdiri dari kursi kerjanya dan membaringkan tubuhnya Di sofa. Ia menyilangkan tangannya, Karan menarik sudut bibirnya mengingat gadis yang barusan keluar dari ruangannya.


"Argh, Sialan, kenapa aku terus mengingat gadis itu, apa yang spesial darinya?". Karan mengacak-acak rambutnya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


🩶🩶🩶


__ADS_2