
"Baiklah, Shenna. Saya akan mengurusnya, siapa nama seniormu itu?".
"Kak Dion, pak. Emm, tapi saya mohon jangan melakukan hal yang keterlaluan padanya, seperti memecatnya".
"Kenapa?. Hino mengeryitkan alisnya.
"Kasian, pak".
"Hahaha kau memang gadis yang baik, Shenna. Saya tidak akan memecatnya, saya hanya akan membuatkannya surat peringatan, kau tenang saja, setelah ini saya akan mengurusnya".
Shenna mengulum senyum di bibirnya, ia bersyukur bahwa hal ini akan segera selesai.
"Terimakasih banyak pak, terimakasih, saya sangat senang". Shenna tertawa bahagia.
Melihat itu, tatapan Hino terkunci pada Shenna.
"Gadis ini manis sekali".
"Ah, lupakan bodoh. Kau hanya berniat membantunya, bukan untuk mengagumi gadis ini".
Hino tersadar.
"Baiklah, Shenna. Kembalilah bekerja". Hino berdiri dan kursinya.
"Baik, pak. Saya mau membayar makan siangnya dulu". Shenna hendak beranjak untuk membayar makanannya.
"Hei, biar saya yang membayarnya". Hino mengeluarkan dompet dari sakunya.
Shenna terkejut dengan hal itu.
"T-tapi kan saya yang membuat anda makan di sini pak". Shenna semakin merasa tidak enak dengan atasannya ini.
"Hahaha, saya makan di sini karena memang lapar dari tadi, Shenna. Sudahlah, jangan sungkan seperti itu, dan kenapa kau malah Memanggil bapak?, bukankah waktu itu saya menyuruhmu panggil kak saja?, saya belum setua itu".
"Astaga saya lupa, pak. Eh, Kak". Shenna tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dan.. saya tidak tahu kalau bapak ternyata lapar. Pantas saja saya melihat bapak makan dengan lahap tadi". Cengir Shenna, ia baru sadar bahwa atasannya ini makan dengan lahap tadi, ia tidak menyadarinya karena terlalu fokus bercerita tentang kasusnya.
"Astaga, kau sangat menggemaskan, aku jadi teringat adikku yang sudah tiada". Gumam Hino yang sedari tadi melihat wajah Shenna mengeluarkan segala ekspresinya, hino terdiam mengingat hal itu.
Hino mempunyai adik perempuan yang usianya hampir seperti Shenna, ia cantik dan menggemaskan. Namun sayang, adik perempuan satu-satunya yang ia sayangi itu pergi menghadap Tuhan karena kanker otak.
"Kakak jadi kangen kamu, dek". Hino mengingat masa masa terakhir bersama adiknya dua tahun yang lalu.
"Emm, kak? Kak Hino?". Shenna menyadarkan Hino yang tenggelam dalam lamunannya.
"Ya?!, ah, astaga maaf Shenna". Hino tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang anda pikirkan, kak?".
"Hahaha, tidak ada. Saya hanya mengingat adik perempuan saya. Emm.. dia mirip sepertimu".
"Oh ya?, pasti dia sangat cantik".
"Iya, dia juga menggemaskan. Tapi dia sudah tiada". Hino.
Raut wajah Shenna berubah, ia merasa bersalah.
"Hahaha, sudahlah Shenna kau jangan memperlihatkan wajah seperti itu, tidak perlu meminta maaf, bukan salahmu kan?".
Hino merasa gemas melihat Shenna yang selalu meminta maaf yang ia pikir itu berlebihan.
Shenna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Baiklah, tunggu di sini saya akan membayar makanannya".
"Baik, kak. Terimakasih sudah membayar makan siangku". Ucap Shenna dengan senyuman.
Hino mengangguk dan beranjak membayar semua makanan mereka, setelah itu mereka kembali ke toko dan melanjutkan pekerjaan.
.
.
*Di toko.
Shenna kembali ke bekerja, ia ingin mengepel lantai yang terlihat kotor.
"Ya ampun kenapa kotor sekali? apa pengunjungnya menginjak kotoran sapi?". Kesal Shenna yang melihat bekas jejak sepatu yang pastinya sangat kotor dan terlihat sedikit basah.
__ADS_1
Shenna beranjak mengambil kain pel dan air beserta pewangi laintai untuk membersihkannya. Tidak membutuhkan waktu 15 menit akhirnya lantai sudah bersih dan wangi.
"Huft, selesai. Kan kalau begini jadi wangi dan nyaman, hihi". Gumam Shenna puas melihat lantai yang telah ia bersihkan.
Sebelum mengangkat ember air dan membawa peralatan pel, Shenna terkejut berhadapan dengan senior kerjanya yang beberapa hari yang lalu telah Ketahuan oleh Karan karena suka memerintahi Shenna seakan mengganti tugasnya di toko, Shenna terdiam melihatnya.
Senior yang bernama Dion itu tahu kalau lantai yang akan dia lalui baru saja selesai dibersihkan oleh Shenna, ia pergi dan mencari jalan lain tanpa memperdulikan Shenna.
"Loh? tumben ga nyuruh-nyuruh". Ucap Shenna di dalam hatinya, ia heran dengan Seniornya itu.
"Apa dia sudah mendapat surat peringatan, ya?"
"Tapi kalau sudah dapat masa kak Hino bisa secepat itu kasih surat peringatannya?, Ah sudahlah, yang penting lantai ini sudah bersih".
Shenna tidak ingin ambil pusing dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.
*Di ruang kerja Karan.
Ia baru saja selesai makan Siang, Karan sempat membawa bekalnya dari rumah. Melihat Shenna dan Hino makan bersama ia juga ikutan lapar dan memakan bekalnya yang di siapkan oleh pelayan dirumahnya.
"Ah, sialan. Aku bahkan tidak tahu cara membuat surat peringatan seperti apa". Kesal Karan mengusap wajahnya kasar.
Sebenarnya Karan lah yang lebih dulu memberi peringatan kepada karyawan pria yang bernama Dion itu, hanya saja Shenna tidak yakin bahwa Karan tidak akan melakukannya mengingat tatapan Karan yang dingin dan terlihat santai saja, itulah mengapa Shenna melaporkannya langsung pada Hino, satu-satunya atasannya yang ia percayai.
Karan bersandar di kursi kerjanya, ia mengingat kejadian disaat Shenna dan Hino makan siang bersama.
"Pria itu bernama Hino?. Pria yang ku lihat pada hari pertama aku bekerja, aku baru melihat karyawan Merchandiser bisa akrab dengan pengelola keuangan". Karan menarik sudut bibirnya.
Karan berpikir lagi.
"Apa mereka ada hubungan?, hmm kurasa tidak".
"Ah, sudahlah bukan urusanmu, Karan". Karan sebal sendiri dengan pikirannya
*Tok tok Tok...
Terdengar ketukan pintu di sela-sela Karan yang sedang melamun.
"Huft, siapa ini".Keluh Karan pergi berjalan menuju pintu dan membukanya.
*Pintu terbuka.
"Shenna".
"Ku pikir dia bercanda saat mengatakan itu tadi".
Karan tidak memperdulikan perkataan Shenna saat kejadian di kantin tadi, Karan berpikir itu dilakukan Shenna hanya untuk meredakan suasana pertengkaran antara dia dan pria akuntan yang bernama Hino.
"Oh, iya. Masuk".
Melihat sikap cuek atasannya yang satu ini membuat Shenna malas untuk membahas masalahnya, namun Shenna harus tetap menghargainya, bagaimanapun juga posisi Karan lebih tinggi darinya.
Mereka sudah duduk di posisi masing-masing.
"Emm, pak. Sebelum itu, saya memohon maaf atas kejadian di kantin tadi". Shenna membuka suara.
Karan diam sejenak sambil mengotak-atik laptop di depannya, ia melihat ke arah Shenna sekilas.
"Tidak masalah". Jawab Karan singkat, ia tidak melihat ke arah Shenna saat menjawabnya.
"Apa pria sombong itu kekasihmu?".
Alangkah terkejutnya Shenna mendengar pertanyaan itu, Shenna mengeryitkan alisnya namun tetap memasang postur tubuh yang sopan pada atasannya ini.
"Apa?, tidak pak. Kak Hino adalah pengelola keuangan di toko ini, dia sekedar membantuku tadi".
"Pria sombong bagaimana?, justru kaulah yang sombong pak Karan. Kak Hino yang suka tertawa lebih enak dipandang walaupun faktanya kau yang lebih tampan".
"Gadis ini memanggilnya kak?".
"Memangnya dia mambantumu dalam hal apa?". Tanya Karan lagi.
Shenna sontak terkejut.
"Hah? Astaga, kalau kuberi tahu apakah Pak Karan marah?, kan dia yang lebih berhak untuk masalahku daripada Kak Hino yang lebih fokusnya mengelola keuangan. Aduh bagaimana sih ini ". Shenna khawatir.
"Apa kau mendengarku, Shenna?. Kenapa kau diam saja?". Tegas Karan.
"Emm, Kak Hino membantuku untuk menyelesaikan masalahku dengan senior rekan kerjaku di beberapa hari yang lalu".
__ADS_1
Karan menatap Shenna, ia mengabaikan layar laptopnya.
"Maksudmu? Masalahmu dengan pria rekan kerjamu yang bernama Dion? yang menjadikanmu babu itu?". Karan mengeryitkan alisnya memastikan maksud Shenna.
"Iya, Pak". Shenna menjawab dengan mantap, padahal di dalam hatinya ia sebenarnya sangat takut pada orang yang ada di hadapannya.
Karan menyingkirkan laptop di depannya dan menatap gadis di depannya.
"Apa kau lupa kalau aku yang mengatakan padamu waktu itu bahwa aku yang akan mengurusnya?, bukankah aku yang lebih dulu melihat kejadiannya waktu itu dibanting kakak priamu itu?". Karan bertanya tetap pada nada dingin, namun hal inilah yang sangat di takuti Shenna.
Shenna tidak tahu harus menjawab apa, ia tahu bahwa atasannya ini sangat kecewa.
"Emm, pak.."
"Aku sadar bahwa setidak berguna itu dalam hal pekerjaan". Karan menarik sudut bibirnya.
"Pak, mohon dengarkan penjelasannya. Kak Hino katakan bahwa dia sudah banyak membantu karyawan dalam berbagai permasalahan, walaupun dia bukan manager, tapi toko ini sangat mengenal beliau, termasuk saya". Ucap Shenna panjang lebar.
"Baiklah, kau boleh keluar ruangan". Tatapan Karan tidak menentu, ia merasa tidak berguna sekarang. Ia sudah berjuang untuk beradaptasi di dunia pekerjaan namun ia mendapatkan kekecewaan.
Shenna terdiam sejenak, ia tidak tahu harus keluar atau tetap ditempat. Ia sangat takut saat ini.
"Apa yang kau tunggu?, bukankah yang membantumu sudah ada?, itu artinya aku tidak perlu membantu untuk menyelesaikan masalahmu lagi". Karan.
Shenna mengerti bahwa atasannya ini tengah menggeggam kekecewaan. Shenna beranjak dengan hati-hati, demi apapun ia sangat takut saat ini.
"B-baik pak. Saya izin pamit keluar, permisi". Shenna keluar dengan perasaan takut.
"Astaga, bagaimana ini. Bagaimana kalau aku dipecat oleh pak Karan?, apakah ini adalah masalah baru lagi?, Ya Tuhan Tolonglah aku". Shenna ingin menangis rasanya. Ia pun beranjak pergi ke lantai bawah dengan perasaan sedih dan takut.
.
.
*Di ruangan Karan.
Karan mengemasi barang-barangnya, ia ingin pulang sekarang, toh pekerjaannya sudah tidak ada saat ini.
"Tidak ada gunanya aku bekerja".
Karan meraih ponselnya dan menuju pintu untuk keluar dari ruangannya, ia menuju lantai bawah. Tatapannya hanya fokus ke depan, ia tidak menoleh ke berbagai arah. Di tempat lain Shenna melihat atasannya pergi menuju parkiran mobilnha, Karan berjalan dengan langkah lebar namun tetap terlihat santai jika dilihat dari sudut pandang orang lain. Shenna tahu dari raut wajah Karan yang datar.
"Astaga, Pak Karan sangat kecewa". Shenna melihat mobil milik Karan keluar dari wilayah parkiran toko, Shenna merasa bersalah sekaligus takut.
.
.
*Di perjalanan Karan menuju rumah.
Karan fokus menyetir namun hatinya sangat kecewa, ia merasa tidak berguna. Shenna menghancurkan niatnya yang ingin bekerja dengan tekun.
"Setidak berguna itukah aku?". Nafas Karan memburu.
"Argh!!".
Karan memukul setir mobil, kini amarahnya memuncak.
"Apa semua pandangan orang-orang terhadapku seperti Shenna?"
Karan tetap fokus menyetir walau hatinya sangat sakit.
.
20 menit kemudian ia sampai di depan rumah. Karan memarkirkan mobilnya sembarangan. Ia memasuki rumah dengan langkah lebar dan wajah datarnya. Terlihat pelayan yang menyapanya dengan senyuman, namun Karan sama sekali tidak memalingkan wajahnya.
"Karan? sudah pulang?".
Papa Lukman yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran menyapa putranya, Papa Lukman kebetulan pulang lebih dulu dari rumah sakit karena tidak banyak pasien yang ditangani.
.
Karan mengabaikan papanya, ia tidak menoleh sedikitpun.
"Karan? Apa papa jadi makhluk halus di sini?". Papa Lukman yang sedikit kesal karena di abaikan.
"Aku lelah, aku tidak ingin bertengkar saat ini". Karan sudah sampai di lantai atas dan memasuki kamarnya.
"Memangnya siapa yang ingin bertengkar?"
__ADS_1
"Huft, anak ini ". Gumam Papa Lukman, ia menghela nafas melihat sikap putranya.
Papa Lukman kembali duduk dan lanjut membaca koran di tangannya.