Apakah Aku Pantas?

Apakah Aku Pantas?
Pertemuan


__ADS_3

Karan masih berdiri di depan pintu ruangan pak Hadi. Tatapannya kosong dan nampaknya ia harus menuruti perintah papanya. Pintu terbuka, pak Hadi keluar dari ruangannya.


"Karan?. Kamu masih di sini? kenapa tidak masuk? apa papamu sudah pergi?". Pak Hadi.


"Emm, iya pak. Tadi saya mengantar papa keluar". Karan.


"Kenapa tadi melamun?". Tanya pak Hadi yang membuat Karan bingung harus jawab apa.


"tidak apa-apa pak". Karan.


"Tidak usah terlalu formal, ini hanya toko bukan perusahaan besar seperti milik mama mu". Pak Hadi ingin mencoba mengakrabkan dirinya kepada putra teman SMA nya itu.


"Tidak perlu, pak. Saya ingin belajar saja". Karan.


"Belajar? belajar apa?". Tanya pak Hadi.


"Ah bukan, bukan belajar apa-apa, pak. Jadi apa yang harus aku kerjakan?". Karan mengalihkan topik pembicaraan.


"Ah iya, aku lupa kita akan membicarakan ini, ayo kita masuk lagi!". ajak pak Hadi yang melupakan hal tersebut. Karan mengekor di belakang teman papanya itu.


*Di ruangan pak Hadi.


"Kau ingin aku tugaskan sebagi apa, karan?". Pak Hadi.


Karan heran dengan orang yang ada di dahapannya ini, bukankah dia sendiri yang akan mengatakan bahwa dia sendiri yang memposisikan dirinya di bagian apa saja.


"Terserah dari anda saja, pak". Ucap Karan.


"Hmm, baiklah kalau begitu". Apa kau suka mengelola uang?, kata papamu kau sangat ahli dalam mengelola uang". Tanya pak Hadi serius,


ia tidak tahu apa maksud dari papa Lukman berbicara seperti itu.


"Apa? memang apa yang papa katakan?, apa papa membicarakan kebiasaanku yang katanya bodoh itu ke orang ini?. Astaga si tua itu, bagaimana bisa dia membongkar aib anaknya, seharusnya aku tetap membenci mereka mereka menjadikanku seakan anak yang tidak dianggap". Keluh kesah Karan di dalam hatinya.


"Aku sebenarnya tidak begitu ahli, pak. Aku pikir ini kan toko, bagaimana kalau aku jadi merchandiser saja?". Tawar Karan yang sudah tidak nyaman dengan pembahasan sebelumnya.


"Merchandiser?. Apa aku tidak salah dengar?". Tanya pak Hadi, bagaimana bisa anak pengusaha seperti Karan mau jadi pengelola barang.


"kalau begitu apa yang akan aku kerjakan?". Tanya Karan yang sudah bosan dengan diskusi ini".


"Baiklah, Karan. Kamu akan ku jadikan Manager saja, jika kamu jadi manager, aku akan selalu dekat denganmu untuk membinamu". Tawar Pak Hadi.


"Baiklah, terserah anda saja". Pasrah Karan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Karan tidak tahu tentang pekerjaan seorang manager itu seperti apa, yang jelas ia sudah bosan dengan situasi ini.


"Hahaha, kamu memang anak penurut. Baiklah, aku akan mengantarkanmu di ruang kerjamu, nanti akan kuberi sedikit panduan untukmu". Pak Hadi.


Karan mengangguk dan mengikuti langkah Pak Hadi keluar ruangan.


Karan hanya mengekor sampai masuk ke dalam sebuah ruangan yang katanya akan menjadi ruang kerjanya. Setelah itu, Karan diberi sedikit panduan untuk memulai pekerjaannya.


*Beberapa menit kemudian.


"Baiklah, Karan. Apa kau paham?". Tanya pak Hadi.


"Paham, pak". Jawab karan yang sebenarnya tidak begitu paham.


"Bagus kalau begitu, kalau begitu saya pamit dulu ke ruangan saya, jika ada kesusahan jangan sungkan untuk memberitahuku, semoga pekerjaanmu lancar".Pak Hadi pun pergi.


"Tidak mungkin, ini pasti sangat membosankan, arrkh!".


"Huft, lebih baik aku melihat-lihat pekerjaan karyawan lain di bawah, daripada tidak tahu apa yang harus lebih dulu ku kerjakan".Kesal Karan mengusap wajahnya kasar.


"Sebentar, itu artinya jika aku turun ke bawah untuk melihat-lihat perkembangan para Merchandiser aku harus membawa buku catatan". Pikir karan.

__ADS_1


Karan mengambil notebook yang tersedia dan menuju lantai bawah dengan perasaan yang sedikit gugup, ini adalah kali pertamanya bekerja seperti di posisi rakyat jelata. Bagaimana bisa anak pengusaha dan dokter sepertinya bekerja seperti ini, begitu kira-kira pemikiran Karan.


Di tangga menuju lantai bawah, Karan berpapasan dengan pria yang dipikirnya sama dengan posisi pekerjaannya. Pria itu tak lain adalah Hino, Karan memperbaiki postur tubuhnya, sikap angkuhnya menjadi ketika ada yang mencoba menyainginya. Di sisi lain, Hino hanya sekedar melihat dirinya dengan tatapan ramah.


"Emm Selamat pagi, anda staf baru?". Tanya Hino dengan ramah.


Karan tidak menggubris sapaan itu, Ia melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah dengan tatapan dingin.


Hino mematung.


"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?". Hino merasa tidak dihargai, sambil membalik badannya melihat punggung pria yang tidak menggubris sapaannya.


"Ah, bukan urusanku. Toh aku tidak melakukan kejahatan juga". Ucap Hino, ia juga tidak peduli sebenarnya.


Sesampainya di bawah, ia melihat karyawan perempuan yang tampak lebih muda darinya sedang menata produk beras di rak paling bawah, ia menurunkan karung beras lima kilogram dari troli dan menatanya di rak. Karan melihat hal itu.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu, tapi sepertinya gadis itu kesusahan". Pikir Karan yang lebih baik membantu karyawan wanita yang ia lihat nampak kesusahan harus mengatur karung yang berisi beras itu. Ia pun menghampiri wanita tersebut yang ternyata adalah Shenna.


"Minggirlah, aku akan menata itu". Tawar karan yang tanpa mengucapkan permisi dahulu.


Shenna yang melihat hal itu terlonjak kaget, ia hendak menolak, namun Karan sudah mengambil alih pekerjaannya. Shenna hanya bisa berdiri sambil mengamati dengan perasaan tidak enak pada.


"Terima kasih atas bantuannya, pak". Saya izin mau ke gudang lagi untuk mengambil barang yang lain". Shenna hendak meninggalkan Karan dan mengambilnya trolinya.


"Lain kali, jika barang-barang yang berat biarkan karyawan laki-laki saja yang mengurusnya". Karan.


Shenna menghentikan langkahnya.


"Eh Iya, pak. Sebenarnya seperti itu, tapi kebetulan tadi karyawan laki-laki sedang di tugaskan ke gudang lantai 2 untuk membawa barang-barang lainnya ke bawah". Jawab Shenna.


"Kalau begitu saya permisi, pak". Pamit Shenna.


Karan hanya diam dan melihat punggung Shenna yang kembali ke gudang, ia sempat melihat keringat peluh di wajah wanita itu.


Sebelum masuk, Karan menghentikan langkahnya di depan pintu gudang. Ia mendengarkan ada suara Pria di dalamnya yang nampaknya sedang memerintahkan seseorang.


*Di dalam gudang.


"Sudah selesai Shenna?, setelah itu bawa susu-susu kaleng itu lagi. Oh ya, bawa 1 troli agar kau tidak mondar- mandir". Perintah Pria yang merupakan rekan kerja Shenna yang sama dengan posisi pekerjaannya.


"Baik, kak. Tapi aku istirahat dulu, setelah ini aku akan membawa susu kalengnya". Ucap Shenna yang sebenarnya sudah lelah.


"Bawa sekarang, bodoh!. Apa kau mau manager memeriksa rak susu yang masih kosong? nanti kita akan dimarahi". Paksa karyawan laki-laki tersebut yang hanya duduk sambil merokok dan memainkan ponselnya.


Di luar gudang, Karan mendengar percakapan itu. Tanpa berpikir lama, karan membuka pintu lebar-lebar dan melihat ternyata ada 5 orang karyawan pria di dalamnya, juga ada karyawan wanita lain yang sedang membuka barang dari kardusnya. Di sana Ia melihat Shenna masih berdiri sambil menautkan jari telunjuknya dengan wajah kelelahan. Mata karan teralihkan pada karyawan pria yang sedang merokok dan duduk dengan santainya, pria itu sontak berdiri dengan perasaan takut.


"Emm, pak?. Ada yang bisa kami bantu?". Tanya pria yang memarahi Shenna tadi, ia ber basa-basi dengan Karan yang posisinya sebagai manager toko.


Mendengar suaranya, sudah bisa Karan pastikan bahwa pria ini yang memarahi Shenna tadi.


"Siapa nama mu?". Tanya karan mengabaikan Sikap basa basi karyawan pria itu.


"Emm saya Dion, Pak. Ada yang bisa saya bantu?". Tanya karyawan pria itu lagi.


Karan mencatat nama itu dengan baik di otaknya untuk menindak lanjutinya.


"Berapa lagi rak susu kaleng yang kosong di sana?". Tanya Karan dengan tatapan dingin disertai gaya angkuhnya.


"Ada 4 rak lagi, pak". Jawab Karyawan pria itu mulai merasakan hal yang tidak enak.


"Kalau begitu segera isi rak-rak itu sekarang, oh ya jangan lupa isi juga rak-rak barang yang lain, jangan lupa rapikan juga, apa kau mengerti?". Ucap karan berniat memberi hukuman bagi karyawan pria tersebut.


"Siap, pak!". Ucap karyawan pria itu sambil memberi kode mengajak karyawan lain untuk membantunya.


"Apa maksudmu?, aku tidak menyuruhmu mengajak orang lain, kerjakan semuanya sendiri!". Tegas Karan yang membuat karyawan lain yang di gudang hanya diam tak bersuara, termasuk Shenna.

__ADS_1


"Emm, baik pak. Saya akan melakukannya". Ucap Karyawan pria dengan perasaan takut, dan ia segera mengerjakan yang telah di perintahkan Karan.


Tatapan Karan teralihkan kepada Shenna yang masih berdiri menautkan jemarinya.


"Dan kau..". Karan.


Shenna menoleh.


"Emm, iya pak?". Shenna ikut takut akan kejadian barusan.


"Ikut saya!". Perintah Karan.


Shenna semakin terkejut lagi dan semakin takut jika dia akan di pecat.


"Baik, pak". Shenna menurut dan mulai gemetar.


Karan Keluar dari gudang dan Shenna mengikuti langkahnya. Karan hendak mengajak Shenna untuk ke ruang kerjanya. Sesampainya di depan pintu ruangan, Shenna menghentikan langkahnya dan hanya menatap pemilik punggung itu. Karan sudah masuk di ruang kerjanya namun Shenna belum menampakkan batang hidungnya.


"Kemana gadis itu?". Karan.


Karan kembali berdiri dan membuka pintu ruangan, dan melihat Shenna masih berdiri di sana.


"Apa yang kau lakukan di situ?, bukankah tadi aku menyuruhmu untuk ikut denganku?". Tanya karan sedikit kesal.


"Maaf, pak. Saya pikir hanya mengikuti bapak sampai di depan ruangan ini saja". Jawab Shenna.


Karan menghembuskan nafas kasar.


"Ayo masuk!". Tegas Karan.


Tanpa basa-basi lagi, akhirnya Shenna masuk dan duduk di Sofa dengan perasaan takut.


Mereka berdua sudah duduk di posisi masing-masing. Hening sejenak.


"Siapa namamu?". Karan membuka suara.


"Shenna Almayra, pak. Saya di panggil Shenna". Jawab Shenna sambil mengontrol perasaan takutnya.


"hmm, oke. Apakah karyawan laki-laki tadi yang suka memerintahmu?". Tanya Karan langsung pada intinya.


Shenna diam sejenak.


"Walaupun kau tidak menjawab, aku sudah mengetahui jawabannya". Karan.


"Iya, pak". Kak Dion yang menyuruhku untuk menata beras tadi". Jawab Shenna jujur. Ia takut akan mendapatkan masalah dengan seniornya setelah pengaduan ini.


"Di Toko ini tidak ada perpeloncoan, jika kau merasa ditindas, kau wajib melaporkannya". Karan.


Shenna masih terdiam


"Setelah ini jangan mau ditindas oleh orang lain. Apa kau takut jika menolak perintah karyawan itu?"


"I-iya, pak." Jawab Shenna jujur, sebenarnya ia sudah mengingkan orang lain untuk mengadilinya, namun ia juga takut.


"Baiklah, sekarang kau tidak perlu takut. Aku akan menindak lanjuti karyawan pria tadi".


Shenna terdiam dan masih takut.


"Pergilah kembali bekerja". Karan.


"Baik, pak. Shenna


Shenna keluar ruangan dengan perasaan takut dan gelisah, ia takut kalau ia akan dibenci oleh semua rekan kerjanya karena ketahuan mengadu pada manager pria yang belum ia ketahui namanya itu.


"Semoga semuanya baik-baik saja". Shenna berdoa di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2