Apakah Aku Pantas?

Apakah Aku Pantas?
"Papa Ingin Kamu berubah"


__ADS_3

Pagi hari yang indah, matahari yang hangat menghangatkan setiap tubuh makhluk Tuhan di bumi. Hari yang sangat baik untuk orang-orang yang akan pergi mencari nafkah demi menghidupi keluarga. Shenna sudah siap untuk berangkat ke toko dengan semangat dan wajah berseri-seri, ia memesan ojek yang biasa ia tumpangi.


"Semangat banget hari ini neng". Sapa bapak ojek kepada Shenna.


"Ya semangat dong pak, kerja kan digaji pake duit, hehehe". Jawab Shenna.


"Iya juga sih, neng. Hehehe, yaudah ayo neng ini helm nya! " Bapak ojek.


"Oke Let's go!". Semangat Shenna sambil memasang helm.


Keakraban Shenna dengan bapak ojek yang biasa ia tumpangi sedikit membuatnya merasa tidak sendirian di ibukota. Bapak ojek yang baik, bersahabat, dan asyik diajak bercanda. begitu pikir Shenna.


***


Shenna akhirnya sampai di depan toko.


"Huft sampe deh. Makasih ya, pak. Besok anterin aku lagi ya". Ucap Shenna sambil membayar ojek.


"Sama-sama neng, besok bakal saya anterin lagi". Ucap Bapak ojek sambil mengambil helm dari pegangan Shenna.


"Semangat nariknya pak, kalo ga semangat nanti cuannya ga banyak kalo kata ayah saya". Canda Shenna.


"Hahaha, Yowes neng. semangat terus ini mah, Yaudah saya pamit dulu yo Assalamualaikum". Bapak Ojek.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati pak". Shenna.


"Yoo". Bapak Ojek.


Shenna memasuki Pintu utama toko dan memulai pekerjaannya dengan baik.


***


Di tempat lain, dirumah keluarga Papa Lukman.


Sarapan yang biasa-biasa saja menurut Karan, disetiap hari ia memang pendiam dan tertutup pada orangtuanya, jarang-jarang ia mengeluarkan suara yang keras dan berkata kasar sekalipun orang ia tahu bahwa orangtuanya selalu memberinya nasihat, ia berbicara seperlunya saja.


"Karan, setelah ini ikut papa, papa mau bicara". Papa Lukman membuka suara. Sedangkan Mama Norah sudah merasakan hal yang tidak mengenakkan.


"Hmm". Ucap karan sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya. Papa Lukman sekilas melihat ke arah putranya.


Acara sarapan pun selesai. Selesai makan tadi, karan sudah memasuki kamarnya. Papa Lukman menuju kamar karan dan mengetuk pintu.


*Tok tok Tok..


"Karan? sepertinya yang papa katakan tadi, papa mau bicara". Perintah papa Lukman.


"Iya, aku akan segera keluar". Ucap karan singkat.


Karan menuju pintu kamarnya dan membuka pintu.


"Ikut ke ruangan papa!". Perintah papa Lukman. Karan mengekor di belakang papanya.


Di ruang kerja Papa Lukman, karan duduk menghadap papanya dengan wajah datar.


"Bisakah kau menarik ujung bibirmu sedikit saja untuk tersenyum, karan?. Apakah tulang di wajahmu terdapat kelainan?". Papa Lukman membuka suara karena sebal melihat putranya dengan wajah datar disetiap harinya.


"Untuk apa aku tersenyum kalau tidak ada hal yang membahagiakanku selama aku hidup?". Ucap karan ketus, berhasil membuat Papa Lukman Menyeryitkan dahinya.


"Apa maksudmu, karan?". Tanya papa Lukman serius.


"Tidak ada, apa yang ingin papa bicarakan?". Karan mengalihkan pembicaraan, ia sedang tidak mood untuk berdebat di pagi hari.


Papa Lukman menghembus nafas kasar atas sikap putranya.


"Karan, kamu adalah anak sulung yang papa punya. Papa ingin kamu berubah dari kebiasaan burukmu itu". Ucap papa Lukman dengan nada serius.


"Pa, sudah berapa kal.."


"Cukup karan!". Bentak papa Lukman mulai emosi.

__ADS_1


"Papa hanya ingin kamu pergi ke masa depanmu yang lebih baik, bahkan hanya ketika kamu melihat masa depanmu saja papa sudah bahagia, tidak lebih dari itu, Karan!".


Suasana Hening sejenak. Karan duduk diam sambil menyilangkan tangannya.


"Aku tau, jadi apa yang papa inginkan?. Tanya karan masih ketus.


"Papa ingin mulai hari ini kamu berkerja!". Papa Lukman.


Perhatian Karan sontak beralih ke papanya.


"Berkerja? kerja apa?". Tanya Karan.


"Bersiap-siaplah, papa akan mengurusnya". Papa Lukman.


Karan berdiri dari duduknya.


"Apa ini pa? Kenapa papa memaksaku seperti ini??" .Ucap karan mulai menaikkan volume suaranya.


"Karan dengarlah!!". Papa Lukman ikut berdiri atas respon putranya.


"Dengar baik-baik, nak. Jika kamu menolak, papa akan mencabut semua aset yang sedang kamu pakai saat ini. Papa hanya ingin kamu untuk jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, papa ingin kamu bekerja dan mandiri, papa ingin kamu membangun duniamu sendiri. Apakah itu salah, Karan?!, apakah salah didikan papa yang kau anggap sebagai tuntutan?!. Ucap Papa Lukman panjang lebar.


Suasana Hening lagi, karan menampakkan wajah tidak terimanya.


"Bersiap-siaplah, pergi ke kamarmu dan papa akan mengantarmu".


Karan menatap papanya dengan amarah. Ia pergi meninggalkan ruang kerja papanya dan menutup pintu dengan kasar. Di kamar orangtuanya, mama Norah yang sedang merapikan kamar mendengar suara itu dan hendak keluar. Ia melihat putranya berjalan dengan langkah lebar dan tangan yang dikepal, mama Norah sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi dan pergi menuju ruang kerja suaminya.


"Pah? bagaimana? apa dia mau?". Tanya mama Norah yang sebenarnya sudah tahu akan rencana yang sudah mereka bicarakan semalam, hanya saja ia takut putranya itu akan mengamuk dengan papanya.


"Dia mau, dia tidak menjawab pertanyaanku, itu artinya dia mau". Jawab Papa Lukman.


Mama Norah sedikit ragu akan hal itu, namun ia serahkan saja pada suaminya.


*Di kamar karan.


"Sialan!, Aku sudah sangat malas menghadapi ini". Ketus Karan duduk di sofa kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu.


"Tapi bagaimana jika fasilitasku di cabut papa? Arkhh!!". Kesal Karan mengusap kasar wajahnya.


Karan berdiri dari duduknya dan akan keluar kamar, disaat ia membuka pintu ia menemukan papanya yang hendak mengetuk pintu, papa Lukman terlonjak kaget, namun hal itu bukanlah hal yang lucu bagi Karan. Ia hanya menatap papanya. Papa Lukman melihat penampilan putranya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Apakah papa menyuruhmu bekerja di kantor, karan?". Tanya papa Lukman yang melihat Karan menggunakan setelah jas rapi.


"Apa pakaianku salah?, lalu pakaian apa yang aku gunakan? Karung bekas? Papa menyuruhku bekerja menjadi pengemis?". Pertanyaan karan berhasil membuat Papa Lukman tertawa kecil namun hanya di dalam hati. Ia mengingat bahwa ia sedang marah saat ini.


"Astaga apa-apaan anak ini". Papa Lukman.


"Papa tidak menyuruhmu bekerja di kantor, ganti jas itu dengan kameja putih!". Perintah papa Lukman membuat wajah Karan malas. Tanpa berkata-kata lagi, Karan masuk ke kamarnya kembali untuk mengganti pakaiannya sesuai yang di perintahkan papanya.


*Lima menit kemudian, karan keluar kamar dengan Kameja putih, celana hitam dan sepatu pantofel yang mengkilap.


"Nah, ini pas. Ayo berangkat". Papa Lukman.


"Huft, bahkan memujiku penampilanku saja tidak". ketus karan di dalam hati.


Ayah dan anak itu langsung menuju halaman rumah dan mama Norah mengantarkan mereka sampai di teras. Karan yang heran kenapa mamanya tidak menanyakan sesuatu pada mereka tentang dirinya yang akan di paksa bekerja oleh papanya.


"Kenapa wajah mama terlihat biasa-biasa saja?. Apakah mama juga tahu kalau aku akan di paksa bekerja oleh papa?. Kalau begini, mereka pasti merencanakan ini sebelumnya, arkh sialan!". Karan menebak situasi bercampur dengan perasaan kesalnya.


Sesampainya di halaman dan hendak memasuki mobil. Karan buka suara.


"Tunggu pa". Karan.


"Ada apa lagi?". Tanya papa Lukman yang nampaknya sudah bosan dengan penolakan putranya.


"Kemana papa akan membawaku?". Tanya Karan.


"Membawa? hah?, kata apa itu? kau bertanya sudah seakan aku akan membuangmu, karan. Ada-ada saja anak ini".

__ADS_1


"Papa bisa tinggal menjawabnya". Ucap karan tetap dengan nada dingin.


"Masuklah, karan!". Ucap papa Lukman yang tidak kalah dingin.


Tanpa berkata-kata, Karanpun masuk ke dalam mobil dengan kesal namun tetap diam.


"Nanti kau akan tau kemana papa akan mengantarmu". Ucap papa Lukman sembari memasang sabuk pengaman.


***


Dua puluh menit di perjalanan, sampailah mereka di depan toko supermarket. Karan mengira papa Lukman akan membeli sesuatu di supermarket, jadi ia masih santai sambil memainkan ponselnya. Papa Lukman keluar dari mobil dan melihat Karan masih belum keluar juga, ia membuka pintu mobil.


"Turunlah, karan!. Apa yang kau tunggu?". Papa Lukman.


"Aku akan menunggu di mobil saja, pergilah jika papa ingin membeli sesuatu". Karan masih asik dengan ponselnya.


"Membeli apa? Ini adalah tempat tujuan kita, ayo turun!". Ucap papa Lukman sedikit kesal. Ia merasa keliru kenapa dari tadi tidak mengatakannya saja pada Karan bahwa putranya itu akan di pekerjakan di Supermarket.


"Apa?!". Karan terkejut dan melepas kontak matanya pada ponselnya.


"Turun!". Perintah papa Lukman tidak bisa dibantahkan.


Ekspresi wajah Karan sudah tidak bersahabat, ia sangat membenci situasi ini. Namun ia tidak bisa menolak rencana ayahnya ini. Karan keluar dari mobil masih dengan wajah datarnya, mengingat ia sedang diluar saat ini. Ia mengikuti langkah papanya yang hendak memasuki toko supermarket dan pergi menuju ruangan khusus pengurus toko.


*Di ruangan pemilik toko.


Terlihat di dalamnya ada seorang Pria hampir seumuran papa Lukman namun terlihat lebih muda. Mereka berjabat tangan sambil saling melempar senyuman.


"Selamat datang, pak Lukman. Silahkan duduk". Ucap pemilik toko supermarket yang merupakan teman SMA papa Lukman dahulu. Ia adalah Hadiansyah, di panggil Hadi.


"Ah tidak perlu terlalu formal, Had. Langsung saja ke intinya. Jadi ini adalah putraku yang aku maksud, Namanya Karan". Papa Lukman memberi kode agar berjabat tangan dengan pemilik toko tersebut. Karan melakukannya dengan senyuman yang sedikit ia paksa.


"Jadi, aku menyerahkan anakku ini agar supaya bergabung dan bekerja di tokomu, terserah kau saja mau kau beri posisi di bagian mana".


Karan membulatkan matanya mendengar perkataan papanya.


"Apa?!, astaga, papa seperti menjualku seperti budak pada orang orang yang berkuasa, kenapa terserah orang ini mau di beri posisi sebagai apa?, kenapa tidak papa saja yang atur? Toh pekerjaan papa lebih mahal dari si pemilik toko ini, huft sialan!". Ketus Karan yang sudah pasrah.


"Hahaha, maaf Lukman. Lucu sekali ekspresi anakmu setelah kau mengatakan itu".


Pak Hadi si pemilik toko yang sontak melihat ke arah Karan setelah Papa Lukman mengatakan terserah dia saja mau di beri posisi sebagai apa.


Papa Lukman melihat ke arah Karan sekilas.


"Ah, itu tidak masalah, Hadi. Itu ekspresi senang, benar kan begitu, nak?".


"I-iya pa, aku senang". Jawab Karan berbohong, rasanya ia ingin sekali mengamuk melihat respon papanya.


"Hahaha baiklah, Lukman. Aku akan menempatkan putramu pada posisi yang bagus, tenang saja". Pak Hadi.


"Iya terserah dari kau saja. Jadi putraku akan bekerja mulai hari ini, kau silahkan atur saja dia sesukamu, diskusikan apa saja yang akan dia kerjakan. Setelah ini aku akan pergi ke rumah sakit untuk melanjutkan pekejaaanku". Ucap Papa Lukman yang memang setelah ini akan pergi bekerja.


"Oh begitu, ya. Baiklah. Aku akan mendiskusikan ini dengan putramu setelah kau pergi". Pak Hadi


"Baiklah". Papa Lukman.


Papa Lukman melihat ke arah Karan yang masih duduk, dan izin pamit keluar ruangan sebentar untuk berbicara pada putranya.


*Di luar ruangan.


"Karan, papa sangat menyayangimu, papa hanya ingin kamu merasakan bagaimana kehidupan di dunia lain selain kehidupan hura-huramu yang tidak berguna itu. Papa ingin kamu berubah, maafkan papa jika cara ini sedikit menekanmu. Papa berjanji akan terus ada disampingmu setiap kamu punya masalah entah dalam hal apapun setelah ini, berjanjilah kau akan jadi anak yang baik". Nasihat papa Lukman panjang lebar.


Karan menatap papanya dengan perasaan yang tidak menentu, ada rasa terharu yang ia rasakan, namun sifatnya yang pembangkang tetap merasukinya.


"Iya pah". Jawab Karan singkat.


"Baiklah, papa pergi dulu, bekerjalah dengan baik". Papa Lukman.


Tidak lupa Papa Lukman berpamitan dengan pak Hadi, setelah itu barulah ia menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2