Apakah Dia Imamku

Apakah Dia Imamku
Kok Mas?


__ADS_3

Tak butuh waktu lama,ketiganya kini sudah berada di dalam mobil Azzam.


"Ayo Kak berangkat"


"Doa dulu dek"


"oke"


Setelah selesai berdoa,perlahan Azzam melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata.


Mobil memasuki kawasan jalan Ambarawa-Magelang.Terlihat hamparan sawah yang mulai menguning,burung burung beterbangan kesana kemari, dan para petani sibuk mengguncangkan kaleng kaleng yang digantung tapi secara berurutan. Terdengar suara riuh sehingga mengusir burung burung yang gemar memakan biji biji padi.


Hanya memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai Kabupaten Magelang. Sekarang tinggal mencari alamat milik rumah Yusuf.


"Assalamualaikum, halo Suf, ini kita udah masuk Magelang"


"... "


"Oh oke"


"... "


"Wa'alaikumsalam"


Tak lama, mereka sudah bertemu Yusuf dan Yasmin yang menjemput mereka di sebuah pertigaan. Akhirnya, mereka sampai di kediaman kakek Yusuf yang berada di daerah dataran tinggi.


"Assalamu'alaikum" ujar semua yang baru datang dengan serempak.


"Wa'alaikumsalam" jawab penghuni rumah tak kalah kompak.


"Wah, Maryam dateng juga" ujar Halimah.


"Iya, ngikut kita mulu" ujar Azzam mengerjai adiknya.


"Tante, kamar mandi dimana? " tanya Maryam.


"Di belakang, mau tante anterin?"


"Mmmm, ngga usah tante. Cuma mau tanya barangkali Mas Azzam ngantuk dan mau cuci muka".


" Loh, kok Mas? "


"Mmmm tadi aku kayaknya yang DIAJAK ke sini deh" ujar Maryam dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Maryam, Halimah pun menjewer telinga Azzam dan memarahinya.


"Hiiihhh, bohong kamu ya?! rasain nih heehh! "


Seketika semua yang ada di dalam ruangan pun tertawa renyah melihat adegan tersebut.


"Ampunnnn Tan! ampun! Azzam cuma bercanda. Aishaaaa!!! tolongin mas dong"ujar Azzam sambil berlari kesana kemari tanpa arah, namun masih dapat tergapai oleh Halimah mengingat banyak orang yang ada di dalam ruangan sehingga membuat Azzam tak leluasa berlari.


Aisha hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya yang sedang kewalahan menghadapi kemarahan Halimah.


Setelah lelah berlarian kesana kemari, akhirnya keduanya pun letih dan duduk di sofa ruang tamu. Kakek nenek Yusuf pun meminta Yasmin untuk membuatkan minum dan membawakan beberapa kue tradisional khas daerah tersebut. Mereka pun mengobrol santai tentang perjalan Azzam ke Magelang dan hal hal lain sampai sampai waktu masuk dzuhur.


"Disudahi dulu ngobrolnya, sekarang yang laki laki ikut kakek ke mushola. Terus yang perempuan mau ikut ke mushola juga nggak apa apa. Tapi lebih baik sholat di rumah" ujar kakek setelah mendengar suara adzan selesai.


"Kek, Maryam boleh ikut? "


"Sendirian? "


"Sama Yasmin kek" sambung Yasmin.


"Ya sudah, ayo siap siap"


"Mba Aisha, ikut? "


"Oke oke"


Mereka pun bergegas pergi ke mushola terdekat dan melaksanakan kewajiban kepada Tuhan. Setelah selesai menunaikan ibadah,Yasmin dan Maryam pun meminta izin untuk berjalan jalan ke sawah.


Setibanya di area sawah, mereka berdua berulang kali mengucapkan takbir dan tasbih memuji ciptaan Allah yang indah. Mulai dari padi yang mulai menguning, gagahnya Gunung Merbabu, dan langit cerah tanpa awan kesedihan.Angin yang berhembus juga teduhnya pohon di tepi sungai turut menjadi saksi atas kebahagiaan mereka.


Banyak berdiri gubuk para petani untuk berlindung dari panas matahari juga beristirahat di siang hari. Menikmati bekal yang disiapkan dari rumah bersama kawan seprofesi, menambah erat tapi silaturahmi.


Karena merasa sudah cukup lama, akhirnya mereka memutuskan pulang.


"MasyaAllah, jadi ngga pengen pulang aku Yas"


"Mba Maryam mau tinggal di tengah sawah? " tanya Yasmin.


"Astaghfirullah, ngga lah. Maksudnya tinggal di rumah kakek. Jadi bisa ke sini tiap saat"


"Owh kirain. Makanya nikah sama Mas Yusuf biar bisa ke sini"


"ADUHHH!!! "

__ADS_1


Karena kurang konsentrasi dalam memperhatikan jalan, salah satu kaki Maryam pun terperosok ke kubangan lumpur.


"MasyaAllah, Mba.Kok bisa sih?" tanya Yasmin, khawatir namun sambil menahan tawa.


Sementara Maryam sudah tertawa pelan dan mengeluarkan air mata.


Bukan, bukan karena sedih kakinya masuk ke kubangan. Namun karena hal tersebut mengingatkan masa lalu saat dirinya main ke sawah bersama Fatimah dan teman yang lainnya, dia juga pernah terjatuh persis seperti ini.


Mengingatnya membuat Maryam terharu.Karena tak menyangka, dia dan temanya dulu yang masih main main ke sawah sekarang rata rata sudah menikah.


"Mbak?"


Suara bariton asing memecahkan lamunannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Wah siapa tu? 🙂


Maaf ya author jaraaaangggg buaanggeeeeett up. Karena kesibukan di dunia nyata sangat boommmm! 🤣


Oh iya, author minta do'anya ya dari readers,(author mau ujian hehe).


oke yaudah gitu aja. selalu jaga kesehatan yaaa.


see you next episode


daadaaaa

__ADS_1


__ADS_2