Apakah Dia Imamku

Apakah Dia Imamku
Tali


__ADS_3

"Astaghfirullah" pekik Maryam karena terkejut.


"Mas Fathan? " . Ucap Yasmin spontan.


"Loh, Yasmin! Kapan dateng? "


"Baru kemarin sih"


"Owh, kok ngga mampir ke rumah pakde? "


"Nunggu tamu dulu, Mas" jawab Yasmin yang diangguki oleh Fathan.


"EKHHEEEMMM!!! "


Setelah terdengar suara deheman Maryam, mereka pun menghentikan perbincangan dan menoleh ke Maryam.


"Eh, iya. Sampai lupa,Mas Fathan bisa nolongin ngga? "


"Aduh, gimana ya? Mas masih punya wudhu"


Fathan berpikir sembari mengamati sekeliling. Netranya menangkap seutas tali yang tergulung rapi di sebuah gubuk. Ia mendapatkan sebuah ide. Tanpa berpikir panjang, ia pun melangkah menuju gubuk tersebut dan mengambil tali lalu membawanya ke tempat berdirinya semula.


"Mmm bisa pegang ini ngga?" tanya Fathan setelah melemparkan salah satu ujung tali kepada Maryam.


"Bisalah!" jawab Maryam ketus.


Tanpa banyak berpikir, Maryam pun meraih ujung tali tersebut. Dan, Fathan pun mulai menarik ujung tali yang lain guna membantu Maryam.


Baju yang dikenakan Maryam separuh badan ke bawah sudah terbalut oleh lumpur sawah. Oh, ya! bahkan sandal jepit yang digunakannya pun salah satu selopnya terlepas.


"Ngga papa Mba? " tanya Yasmin.


"Ngga papa kok, dulu juga suka gini kalo main"


"Owalah, ku kira kamu itu anak kota yang ngga suka sama lumpur! " ketus Fathan.


Sementara Maryam tak berniat untuk membalas ucapan Fathan. Karena baginya, menanggapi orang yang belum di kenal malah seperti "sok kenal sok dekat".


" Yaudah, yuk Mba. Kita pulang"ajak Yasmin yang diangguki oleh Maryam.


"Ehem" Fathan berdehem seperti mengingatkan sesuatu.


"Eh, makasih ya, Mas. Nanti kita mampir ke rumah Pakde"


"Iya, hati hati. Ntar kecebur lagi"


"Iya, Mas. Assalamualaikum" ucap Yasmin sambil tersenyum dan melirik Maryam sekilas.


"Waalaikumsalam"

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, mereka berdua pun memasuki halaman rumah kakek-Yusuf.Semuanya terlihat sedang berbincang di teras rumah.Dan seketika mereka semua terkejut karena pakaian Maryam yang kotor setengah.


"Assalamu'alaikum" ucap Maryam-Yasmin bersamaan.


"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.


"Subhanallah! Maryam, Yasmin. kalian dari mana? kok sampai kayak gini" ujar Halimah dengan wajah terkejut sekaligus khawatir.


"Hehe, kita dari jalan jalan di sawah, bun" jawab Yasmin dan Maryam serempak.


"Bun? " ujar Yusuf terkejut.


"Ya nggapapa dong"


"Hehe, iya iya"


"Jadi?" tanya Halimah lagi.


"Kita mau bersih bersih dulu, Bun. Oh iya, tadi kita ketemu Mas Fathan. Katanya, ditunggu sama pakdhe di rumah"


"Oh, yaudah nanti sore kita kesana"


Setelah perbincangan tadi, Maryam dan Yasmin pun segera melangkah masuk untuk membersihkan diri.


🍁


Semilir angin menggerakkan rambut sedikit-panjang milik seorang pria yang tengah melantunkan sholawat. Hingga suara bass milik seseorang-lain membuatnya menjeda kegiatannya.


"Waalaikumsalam, eh Yusuf. Pribun kabare? Kapan sampai? "


"Alhamdulillah, sae mas.Baru kemarin, Mas. Sampeyan tak cari ning griya mboten wonten, lajeng Budhe ngendika yen sampeyan nembe ing sabin"


"Owalah, berarti mau wis tekan omahku ta? "


"Yo nek kula mpun, wong madosi sampeyan. Tapi ayah kalih bunda yo dereng"


"Owalah, ngono ta"


"Iya ta, lha pie maneh" keduanya pun tertawa bersama.


"Tak sih ana tamu ta, ning mbah? "


"Mboten egh, mas"


"Lha terus sing kalih Yasmin mau? "


"Owalah, mau ki yo pie ya kanca ya cedhak, sedulur yo adoh"


"Lha maksute pie? "

__ADS_1


Akhirnya Yusuf pun menceritakan pertemuannya dengan Maryam dari awal hingga saat ini.


"Owalah ngono ta. Dee ayu ya? "


"Iyolah. Wadon kok mas"


"Hahaha. Yo ora ngono ta, Suf. Eh nak aku karo de'e cocok po ra, Suf?"


"Ha?! "


"Nopo ta, Suf? kok kaget temen. Aku ki takok cocok po ra aku karo de'e. Sopo mau jenenge eh Maryam Iyo Maryam"


"Oalah pek o, Mas."


"Lha kok malah kok nge-pek. Po sampean ki nduweni ta? "


"Hehe, guyon mas"


"Owalah, saiki aku ngerti. Sampean remen ta karo de'e. He'e ta he'e ta. Ngaku wae, Suf. Ket jaman cilik sampean ki ra iso ngapusi aku"


"Hehe"


"Ora orane, Suf de'e tak pek. Aku ki wis ndue kok"


"Lha sopo egh, mas? "


"Yo rahasia, mengko sampean tak kandani nek wis ning omahku.


Oh iyo, saiki kayane sampean bahasa Indonesia-ne wis lancar ya? "


"Alhamdulillah, yo walaupun isih 'medok' "


"Yo rapopo, kui kan bahasa persatuan. Masalah kasih 'medok' ki menurutku rapopo wong yo kan ra kudu podo, amarga Indonesia ki Bhineka tunggal ika.Yo po ra? "


"Nggih, mas"


"Yo wes, meh ashar ki. Ayo ndang balik, ngko aja lali mampir"


"Nggih, mas"


Keduanya pulang ke tempat tujuan masing masing dan benar saja, tak lama adzan ashar berkumandang.


.


.


.


.

__ADS_1


Untuk readers, maaf ya aku jarang update. Soalnya ya gitu banyak banget kesibukan akhir akhir ini, hehe. Maaf ya


See you next episode.


__ADS_2