API CINTA

API CINTA
1. Kagum


__ADS_3

Aku tidak tahu apakah tulisan ini bermanfaat bagi diriku sendiri maupun bagi orang lain, ataukah tidak bermanfaat sama sekali. Aku hanya ingin melepaskan unek-unek ku tentang masa silam yang takkan kembali lagi. Barangkali dengan menuliskan semuanya itu, aku akan merasa seolah kembali ke masa laluku. Karena aku tahu bahwa di balik beberapa kepahitan hidup terselip juga keindahan-keindahan yang terkadang sulit di lukiskan dengan kata-kata. Dan aku akan mengenangkan kembali manakala ku baca dan ku baca lagi tulisan yang bersilat pribadi itu.



Tiada tanggal, bulan dan tahun yang akan ku tulis disini. Karena hal itu tak penting bagiku. Yang terpenting bagiku, adalah pernah terjadinya demi peristiwa itu. Semuanya perlu ku catat, terutama sejak aku menginjak jenjang perkawinan. Karena sejak saat itulah aku mulai merasa jadi manusia yang sebenarnya.



Memang menyedihkan kalau di ingat bahwa masa remajaku hilang begitu saja. Karena pada usia empat belas tahun aku harus duduk di pelaminan, di samping lelaki yang usianya hampir empat kali lipat usiaku. Usia suamiku bahkan lebih tua dari usia ayahku sendiri!



Aku memang anak penurut, sehingga waktu kedua orang tuku meminta agar aku menerima pak jarot sebagai suamiku, dengan patuh ku terima saja. Terutama setelah mendengar alasan-alasan yang masuk ke akal ku. Bahwa pak jarot sudah cukup lama di tinggal mati istrinya, sementara anak tunggalnya bersekolah di luar negeri, sehingga pak jarot tiada yang mengurus di rumahnya.



Sebelum aku di kawinkan dengan pak jarot, ayahku berkata, "kasihan dia, Tri. Ndak ada yang ngurus. Padahal kamu kan tahu bahwa pak jarot itu orang baik, Kita juga sejak sering berhutang budi padanya. "



Memang bener, pak jarot sebagai orang terkaya di kampungku, terkenal berjiwa pemurah. Senang mengulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Sementara kehidupan orang tuaku serba kekurangan dan sering pula menerima bantuan dari pak jarot.



Aku masih ingat, ketika ibuku sakit keras, ayahku kebingungan. Karena dokter di puskesmas menyarankan agar ibuku di rawat di rumah sakit yang peralatannya lengkap di Yogyakarta. Jelas ayahku bingung, karena dari mana ia punya uang untuk biaya rumah sakit? "Jangankan untuk rumah sakit, untuk ongkos ambulance pun ayahku tidak punya.

__ADS_1



Pada saat itu lah pak jarot mendadak muncul. Dan untuk kesekian kalinya ia membantu kami. Tanpa banyak bicara ia mendatangkan ambulance. Dengan ambulance itu ibuku di bawa ke Yogyakarta yang letaknya tidak jauh dari kampungku.



Setelah di rawat selama tiga bulan di rumah sakit, kesehatan ibuku pulih kembali dan boleh di bawa pulang ke rumah. Dan aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada diri ibuku seandainya tidak ada pertolongan dari pak jarot.



Sebenarnya banyak lagi bantuan dari pak jarot yang telah di terima oleh keluarga ku. Tapi tak perlu ku tuliskan satu persatu di sini, yang jelas kami sangat berhutang budi padanya, sehingga ketika ia melamar ku, kedua orang tua ku bahwa merasa datangnya suatu kehormatan besar. Bahwa seorang duda kaya mengharapkan seorang gadis dari keluarga miskin. Sementara keluarga gadis itu sudah banyak menerima bantuan dari sang duda.



Aku pun lalu melangkah ke jenjang perkawinan. Tampaknya peristiwa ini cukup menggetarkan di kampung ku. Pesta perkawinan selama tiga hari tiga malam, adalah hal yang belum pernah terjadi di kampungku. Sementara mas kawin yang di serahkan untuk ku, berupa tiga perangkat perhiasan, juga merupakan hal yang luar biasa. Selama pesta perkawinan, aku pun langsung di boyong ke gedung pak jarot, (yang lalu di panggil mas jarot atas permintaannya sendiri). Pada saat itulah ku lihat banyak sorot mata kagum, karena aku telah menjadi istri seorang hartawan terkaya di kampung ku.




Tetapi persetan dengan semua itu. Yang jelas aku sudah memalukan hal terbaik bagi kedua orang tua ku dan ketiga adik ku yang masih kecil - kecil. Bukan kan setelah aku menjadi istri mas jarot, rumah orang tua ku di rombak menjadi rumah yang layak untuk ukuran kampung ku? Bukankan aku pun lalu secara teratur mengirimkan uang untuk kebutuhan orang tua dan adik - adik ku? Bukan kah aku telah berhasil mengubah susana murung menjadi suasana gembira?"



Aku tidak tahu apakah saat itu aku merasa bahagia atau tidak. Yang pasti aku merasa senang hidup di samping mas jarot yang ternyata sangat menyayangiku. Aku bahkan sering membandingkan senangnya hidup di samping mas jarot dengan waktu masih bersama dengan orang tua ku. Terus terang, mas jarot jauh lebih sabar dari pada ayah ku sendiri. Kalau ayah ku agak keras dalam membimbingku, maka mas jarot sebaliknya, tak pernah ku dengar kata kata kasar terlontar dari mulutnya, Aku bahkan merasa sangat di manjakan olehnya, sehingga apa pun yang ku ingin kan senantiasa di wujudkan nya.

__ADS_1



Lalu apa yang di sebut kehilangan masa remaja pun tak begitu ku pedulikan. Bahkan istilah itu pun baru ku ketahui setelah usiaku menginjak usia dua puluh tahun. Pada saat itu usia mas jarot sudah mencapai enam puluh tahun.



Tanpa terasa aku sudah enam tahun hidup sebagai istri mas jarot. Tiada kejadian yang berarti dalam waktu sekian lamanya, kecuali bahkan tubuhku berkembang pesat, Sehingga Lastri yang hitam dan kerempeng telah berubah menjadi Lastri yang tinggi, padat dan berisi. Rasanya aku tak dapat di golongkan sebagai wanita montok, hanya saja pinggul dan p\*yudara ku memang besar, sementara pinggang ku kecil, sehingga banyak yang menyebut tubuhku laksana gitar spanyol.



Mengenai wajahku, bukan aku sendiri yang menilainya, tapi sudah sering ku dengar pujian dari teman temanku bahwa wajahku manis dan punya daya tarik tersendiri, kulitku juga sudah tidak lagi hitam seperti masih waktu kecil, mungkin karena jarang berjemur jemur di bawah terik matahari lagi, memang kulitku tidak tergolong putih, tapi setelah dewasa kulit ku juga tak dapat di sebut hitam. Entah apa namanya golongan kulit ku ini, mungkin tergolong kulit sawo matang.



Tapi jelas aku sudah pandai merawat tubuh, kulit, wajah, rambut dan semua yang ku miliki, karena aku sudah memiliki beberapa ijazah dalam ilmu kecantikan, dengan sendirinya aku mampu merawat kecantikan sendiri, bahkan kemudian aku pun mulai merawat kecantikan pasien pasienku di salon kecantikan yang letaknya di pinggir kita yogyakarta.


*


*


*


*


BERSAMBUNG....

__ADS_1


maaf nulis perdana mohon maaf jika banyak kesalahan tata letak penulisan, koma, dan titik,


dan mohon maaf jika jalur cerita ini menyerupai dan menyamai cerita yang lainnya, karna ini hanya ingatan" dari novel novel yang pernah saya baca di masa lalu...!!


__ADS_2