API CINTA

API CINTA
3. mimpi yang memalukan


__ADS_3

Priyono, satu-satunya anak tiriku, yang sudah dua tahun tinggal di jakarta, sengaja ku telepon dan ku minta segera datang, karena keadaan mas jarot cukup mencemaskan.



Mengenai priyono, ada sedikit kisah yang masih ku ingat benar, yakni pada waktu ia baru pulang dari Jerman dengan menggondol gelar sarjana di bidang teknik mesin, memang lucu kalau ku ingat bahwa saat itu usiaku baru sembilan belas tahun, sementara anak tiri ku lima tahun lebih tua dari ku.



ketika pertama kali berjumpa dengan priyono dalam keadaan dewasa, anak tiri ku itu memandang tajam- tajam, seperti memperhatikan sesuatu, lalu berkata, "inikan Lastri anaknya pak Karto itu?"



Aku mengangguk-angguk. Dahulu, waktu priyono masih tinggal di kampung, aku memang sudah mengenalnya, tapi waktu itu aku masih anak ingusan, sementara priyono sudah remaja. Dan kami kini berjumpa lagi setelah sama-sama dewasa, dalam kedudukan yang berbeda, karena walau usiaku lima tahun lebih muda darinya, aku ini adalah ibu tirinya.



"Waktu kecil kamu... eh, ibu hee hee hee...


waktu kecil keliatannya ngga manis begini, "kata priyono lagi dengan senyuman, "pantes ayahku mau menikahi kamu, eh, ibu hee hee hee...


" Kamu jangan konyol, pri, "sahut ku bersifat tegar, "biar begini aku sudah menjadi ibumu."



"Iya bu... hee hee hee..., "Priyono tetap saja menggodaku dengan senyuman dan tawa nakalnya.



Sementara aku tetap canggung menghadapi anak tiriku yang sudah dewasa itu.



Setelah bekerja di jakarta, Priyono hampir tiap bulan pulang ke kampung. Dan tampaknya iya mulai berusaha menyesuaikan diri dengan kedudukanmu sebagai ibu tirinya, namun aku masih tetap saja merasa canggung jika berhadapan dengan anak tiriku itu.



\* \* \* \* \*



Keadaan bapak tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi memang sebaiknya bapak tetap di rawat di rumah sakit sampai tekanan darahnya normal kembali.


Karena kalau di rumah, nanti sulit di atur makannya, "kata priyono dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.


"Tapi waktu ku temukan dia pingsan di kamar mandi, aku kaget sekali lho, "sahutku.



"Memang berbahaya juga, untungnya waktu jatuh pingsan itu bapak tidak stroke, kalau sampai stroke memang sulit juga menolongnya."



"Walaupun begitu kamu jangan ke Jakarta dulu sebelum bapak sembuh benar, soalnya aku ndak punya teman untuk di ajak bertukar pikiran."


__ADS_1


"Aku hanya di kasih ijin seminggu, tapi nantilah di atur lagi, Syukur-syukur kalau bapak sehat lagi sebelum cuti ku habis, "kata priyono waktu Jeep yang dikemudikannya berbelok ke pekarangan rumahku.



"Rumah yang di kampung tak pernah di huni lagi sekarang? "kata priyono sewaktu turun dari mobil.



Di huni seperti biasa, "sahutku, "inikan lantaran bapakmu sedang di rumah sakit saja, biar kalo ada apa-apa gampang, karena jaraknya ke rumah sakit lebih dekat dari sini."



"Tapi aku kepengen tidur di rumah lama, "tiba-tiba saja Priyono menggenggam pergelangan tanganku, "kesana kita sekarang. Rumah lama itu adalah tempatku dilahirkan dan di besarkan, kesannya sangat mendalam di hatiku."



"Tapi kalau ada apa-apa dengan bapakmu? "Bapak tidak akan apa-apa, percayalah. Aku sudah sering liat orang kena darah tinggi. Pokonya masa kritis bapak sudah lewat, aku yakin ndak sampai seminggu juga bapak sudah boleh pulang ke rumah, Ayolah Tri, eh, ibu hee.. hee.. hee."



Aku tersenyum geli, Priyono selalu saja gugup waktu mau memanggilku dengan sebutan ibu.



"Kalau ada apa-apa kamu yang bertanggung jawab nanti, "kataku waktu sudah ada di dalam jeep Priyono kembali, yang kini meluncur keluar kota.



"Ah, jarak dari lampung ke yogya hanya delapan kilo meter, kalau di kebut ngga sampai seperempat jam juga sudah sampai ke rumah sakit, kecuali kalau jalannya macet."




Kami turun dari jeep Priyono ketika hari mulai gelap.



"Rumah ini memang membangkitkan nostalgia masa kecil, "Kata Priyono setelah berada di ruang depan dan langsung duduk menghempas di sofa, "Aku mohon dengan sangat, apa pun yang terjadi, rumah ini jangan di jual, "Siapa yang mau jual rumah segala? "sahutku dengan senyum, "kamu kan sudah membuktikan rumah kita malah menjadi tiga sekarang,"



"Ya, Priyono mengangguk-angguk, bapak beruntung punya istri yang rajin berusaha sendiri, sehingga hartanya berkembang."



"Padahal banyak lelaki yang kawin sama perempuan muda, lantas hartanya di bikin ludes kan?"



"Betul, Priyono mengangguk-angguk lagi. "Makanya ku bilang bapak beruntung, kalau salah pilih, kan bisa di kuras hartanya."



\* \* \* \* \*

__ADS_1



Ombak terhempas di pantai, ber dentuman. bergemuruh, Angin Mengibar-ngibarkan rok dan rambutku, Anehnya angin yang begini kencangnya kurasakan nyaman sekali. Anehnya lagi ketika tanganku di tarik, aku menurut saja, mengikuti ajakan tanpa lisan itu, melangkah kearah semak-semak yang sunyi, tiada orang lain kecuali kami berdua.



Dan ketika aku terhempas ke pasir hangat di balik semak-semak, oh, lelaku muda itu mulai mengelus lututku, padahal aku tau lelaki muda yang tengah bersamaku itu anak tiriku sendiri!



Aku tau ini bahwa semuanya ini tidak pada tempatnya, tapi ku biarkan saja.



Tapi pada saat itu juga aku terjaga dari tidurku. Pesawat televisi masih menyala, padahal siarannya sudah habis, rupanya aku masih tergeletak di sofa.



Dengan perasaan malu pada diriku sendiri, aku bangkit dan mematikan pesawat televisi, kemudian aku agak bergegas menuju ke kamar kecil.



Gila! "kenapa aku bisa mengalami mimpi yang begitu memalukan? "Bukankah mimpi seseorang terkadang muncul dari angan-angannya sendiri? "Apakah diam-diam aku menyukai Priyono?



Oh, tidak! "Betapa jahanamnya diriku ini kalau berpikir segila itu. Suamiku sedang berbaring di rumah sakit, masa aku malah melamunkan kemesraan dengan anak tiriku sendiri?



Tapi kenapa mimpi tadi begitu kuat pengaruhnya pada jiwa ku? "Mengapa selesai buang air kecil aku tidak bisa tidur lagi sampai sekarang?



Oh, kenapa aku jadi begini?



Dengan tekad untuk mengusir pikiran tak menentu inilah akhirnya aku berangkat sendirian menuju rumah yang ada di batas kota yogya ketika hari mulai siang.



Setibanya di rumah yang bersatu dengan salon dan rumah kost ini, ku lihat Nina baru saja memotong rambut seorang lelaki muda yang sudah sangat ku kenal. Nama lengkapnya Herlambang, tapi aku biasa memanggilnya mas Herlambang saja.



Terus terang aku agak kaget ketika melihat mas Bambang di salon ku. Soalnya lelaki berperawakan tinggi elastis itu sering menggodaku dengan kelakar yang terkadang membuatku deg-degan. tapi aku harus tetap menegakkan prinsip-prinsip di salon ku. Bahkan pasien-pasienku adalah raja-rajaku. Maka meskipun terkadang candaannya terkadang kelewatan. Aku harus tetap bersikap seluwes mungkin.


*


*


*


*

__ADS_1


*


BERSAMBUNG...


__ADS_2