
Tanpa mempedulikan keletihan habis menempuh perjalanan jauh tadi, ku ambil sapu dan Ku rapikan setiap sebagian yang terlihat kurang beres.
Istirahat saja dulu. ndak enak lah, masa datang-datang malah kerja, "kata Priyono sambil melepaskan sepatu dan kaos kali nya diruang tengah.
" Aku memang mau istirahat, tapi nanti kalo sudah rapi rumahnya, sekalian mau mandi dulu, badan ku kotor bekas dalam perjalanan tadi."
"Nanti mendingan bareng sama aku, tiba-tiba pri memeluk ku dari belakang, "Aku juga pengen mandi dulu, biar bersih dan segar."
"Jangan muluk-muluk dulu dong, aku mau nyapu lantai nih, kamu tunggu dulu sana."
"Ndak sabar lagi rasanya, sudah kangen kamu nih."
"Pri... geli, pri!. "Gendeng kamu, kalau di lihat orang bagai mana?"
Sebenarnya ada yang mau aku katakan padanya, tapi ku pikir belum saatnya.
"Lebih dari sebulan aku menahan kangen ku, tapi ndak menyangka kalau hari ini mau ketemu, saking girangnya, habis-habisan deh."
"Tapi, pri......
" kenapa.....!
"Aku...!, mengalami sesuatu yang baru."
"Maksudmu...!
"Sejak kamu meninggalkan Yogya, aku tidak pernah dapat menstruasi."
"Terus.....?
"Bukan terus-terusan, kalo aku hamil bagai mana?"
"Paling juga bapak menyangka anaknya, padahal cucunya, aku sendiri akan bersikap seperti kepada adik, walaupun sebenarnya anakku."
"Bukan itu masalahnya, pri."
"Lantas?"
"Sejak di rawan di rumah sakit sampai sekarang, bapak ndak pernah berhubungan intim sama aku."
__ADS_1
"Pancing saja biar dia kepengen."
"Sudah berkali-kali ku coba. Tapi gagal terus, pri.
"Itu pertanda bapak sayang sama aku, bapak ndak mau lagi sama wanita yang sudah ku miliki, bapak mengalah?"
"Jangan bercanda terus, pri ini serius lo, kalau aku hamil sementara bapakmu ndak bisa di bangkitkan lagi, aku mesti ngomong apa nanti?"
"Begini saja, "Priyono mulai bersikap serius, "nanti malam kita pergi ke dokter spesialis kandungan, periksa di sana, hamil apa ndak, supaya jelas, jangan tebak-tebakan saja, begitu...!
"Kalau ternyata hamil gimana...?"
"Jangan kalau-kalau dulu, yang penting kita lihat hasil pemeriksaan nya nanti, baru kemudian di pikirkan langkanya nanti."
Hasil pemeriksaan kandungan, persis seperti dugaanku, bahwa aku di nyatakan positif hamil.
"Kalau mau mengambil tindakan, sekarang lah Waktunya. "kata Priyono dalam Jeep nya waktu baru pulang dari dokter spesialis kandungan.
"Tindakan apa?, " Tanyaku heran...!
"Hamil nya kan belum sampai dua bulan, di sedot juga bisa, ya di tempat dokter tadi.
"Aku netral dalam hal ini, di biarkan juga oke, di sedot juga oke, aku hanya memikirkan kata-kata mu tadi siang, bagai mana kalau hal ini menimbulkan keretakan dalam rumah tangga bapak dan kamu.
Aku terdiam, pikiranku, sudah menjadi enam tahun aku menjadi istri mas Jarot, tanpa kehadiran seorang anak pun, dan sebagai seorang wanita, tentu aku juga pingin punya keturunan, ingin memeluk bayi yang kulahirkan sendiri, tetapi kenapa kehamilan ini terjadi pada saat sepeti ini? "kenapa kehamilan ini bukan berasal dari benih mas Jarot?.
"Kalau mau di sedot, sekarang lah saatnya, pada waktu sedang berada di Jakarta, jadi kamu bisa pulang ke Yogya dengan sikap seperti ndak pernah terjadi apa-apa, tapi ini bukan berarti bahwa aku tidak menghendaki kelahiran anak ku, aku cuma memikirkan kata-kata mu tadi lho, "kata Priyono ketika Jeep nya meluncur terus ke jalan raya, yang aku sendiri belum tahu mau ke mana.
Aku baru tahu kemana tujuan Priyono, setelah Jeep yang dikemudikannya membelok ke pintu gerbang Ancol, dan aku hanya diam saja. Entahlah, sekarang aku hanya merasa aman jika berada di dekat priyono.
"Bulan sedang Purnama, kata Priyono setelah menghentikan Jeep nya di dekat pantai, "Ayo kita nikmati indahnya ancol di malam hari."
Aku hanya menurut saya, mengikuti langkah Priyono menuju pantai, dan duduk berdampingan di salah satu bangku tembok yang berderet di pantai ancol.
kalau ada orang yang memperhatikan kami sedang berduaan begini, mungkin akan mengira kami sepasang suami-istri atau sepasang kekasih yang sedang berpacaran, karena usia Priyono beberapa tahun lebih tua dari ku, layaknya sebagai pacar atau suamiku, siapa yang akan menyakat bahwa Priyono adalah anak tiriku?"
"Bagai mana keputusan nya? "Kata Priyono sambil menatapku di keremangan sinar bulan purnama.
__ADS_1
Sebagai jawaban, ku genggam tangannya erat-erat sambil berkata perlahan, "nanti sajalah ku pikirkan dulu, sekarang aku belum bisa memutuskan apa-apa."
"Masalahnya, kalo kamu keburu pulang ke Yogya, sulit melakukan penyedotan, karena biasanya kalo sudah di sedot ya harus beristirahat barang sehari dua hari."
"Hariku malah condong membiarkan nya, jadi, "kataku lirih. Entah kenapa aku menjadi perasa begini, meski belum apa-apa, aku membayangkan tidak tega nya membuang calon janin, calon bayi, calon anak, calon manusia yang seharusnya aku jaga sebaik-baiknya di dalam rahimku.
"Ya, kalau ada kepikiran kesitu, ndak ada persoalan lagi, tinggal tunggu perkembangan nya saja nanti,"
"Tapi kalau bapakmu ndak ada perkembangannya dalam waktu-waktu dekat ini, mungkin aku akan terpaksa kabur dari rumah."
"Ya, Priyono mengangguk. "Bisa saja ku sembunyikan di jakarta nanti."
"Sebagai perempuan simpanan?"
"Jangan buruk begitu pikiranmu, "Priyono mengelus-elus ujung hidungnya ke pipiku. "satu hal yang harus di pikirkan, kita ini ndak akan bisa kawin secara resmi kan?"
Aku tercenung, kata-kata Priyono menyandarkan aku pada sesuatu yang selama ini ku lupakan. Memang aku pernah mendengar bahwa seseorang lelaki tidak boleh menikahi bekas ibu tirinya, demikian juga menikahi bekas anak tiri. Tapi bukankah sejak awal pun aku tak pernah mengharapkan Priyono menjadi suami ku secara resmi?"
\* \* \* \* \*
Masalahnya itu menjadi pikiran terus bagiku, Dalam perjalanan pulang ku ke yogya pun terus menerus memikirkan nya, dan untuk menenangkan diriku sendiri, diam-diam aku merencanakan sesuatu, bahwa setibanya di Yogya nanti, aku harus berusaha mati-matian untuk berusaha membangkitkan semangat mas Jarot.
Kedatanganku di rumah mendapatkan sambutan yang hangat dari mas Jarot, yang berjalan dengan bimbingan Miranti, menyingsingkan di depan pintu pagar.
"Kamu ndak pernah meninggalkan ku begitu lama.
aku jadi sangat merasa kehilangan lo, "kata mas Jarot ketika memelukku di ruang keluarga.
"Sama, mas. aku juga kangen sekali, "Sahut ku ber basa basi, "Kalau ndak ingat mas, mustinya empat hari lagi aku baru pulang. soalnya ada alat yang belum terbeli, katanya hari senin baru datang, tapi lantaran kangen sama mas, aku pulang saja, alat yang belum dateng itu bisa di beli bulan depan, biar aku ke Jakarta lagi nantinya."
"Kenapa ndak nyuruh si pri aja buat menyelesaikan semua itu?, "mas Jarot duduk di kursi malasnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih
🙏🙏🙏