
* * * * *
"Jadi dik Tri mengajak ku ke sini untuk meminta di belikan furniture dan segal perabotan untuk segala rumah ini? " Tanya mas bambang sambil sambil memegang kedua bahuku.
Aku terkejut, karena sesungguhnya aku menajamkan mas Bambang ke rumah ini bukan untuk minta ini dan itu. Aku hanya ingin memamerkan keberhasilan ku dengan me miliki rumah ini, Sekalian mau minta saran tentang rencana baru ku. Tapi ucapan mas bambang justru mengingatkan ku bahwa tida salahnya kalau aku meminta bantuan padanya.
"Bukan begitu maksudku, " Kata ku sesaat kemudian, Sebenarnya aku bermaksud mengubah rumah ini menjadi penginapan kecil. Mas bambang liat sendiri, Tanah di belakang itu asih luaskan? "
Mas bambang seperti kaget mendengar rencanaku, Lalu melangkah ke halaman belakang rumah, ku ikuti langkahnya.
"Memang cukup luas, bisa jadi empat puluh kamar lebih, " Katanya.
Ah, mungkin tidak sebanyak itu, mas. Perhitungan ku paling banyak hanya lima belas kamar, "kataku.
" Kalau tidak di naiknya ke atas memang paling banyak hanya lima belasan, "
"Maksud mas Bambang? "
"Setengah dari bagian rumah ini di ratakan untuk pelataran parkir. Bagian belakangnya di bangun tiga tingkat."
"Ah, mas bambang terlalu merencanakan nya, Kalau di bikin tiga tingkat, jelas butuh modal besar, mas. Dari mana aku punya uang sebanyak itu? "
"Memangnya para pengusaha itu hanya mengandalkan modalnya sendiri,? " Tidak dik. Ada yang pakai dukungan Bank, Ada yang di bantu oleh kawan-kawan atau saudara-saudara dan banyak lagi.
Aku cuma terpana. Sementara mas bambang bicara tentang kemungkinan- kemungkinan yang biasa ku lakukan. Kemungkinan-kemungkinan yang membuatku berpikir.
Tadinya aku tak pernah memiliki rencana sejauh itu, mengingat keadaanku memang belum sampai ke taraf sana. Tapi saran dan dorongan moral mas bambang seolah membuka mataku lebar-lebar. Bahwa sebenernya cukup banyak yang bisa ku lakukan untuk mengejar uang di jaman sekarang ini.
B"Kalau dik Tri ndak mau pinjam pada Bank, bisa juga di carikan dengan cara lainnya. Aku punya kawan yang bisa menyatakan modalnya, bunganya sama dengan bunga Bank, " Kata mas Bambang setelah mengungkapkan beberapa kemungkinan yang bisa ku lakukan.
Spontan saja ku jawab, "Kalau ada yang seperti itu kan lebih baik. Ketimbang minta kredit sama bank yang prosesnya bertele-tele. Kapan mas bambang bisa mempertemukan aku saat kawanmu itu? "
"Orang itu ndak mau bertemu sama sembarang orang. Maklum orang gedean. Biar aku yang urusan semua itu nanti, yang penting matang kan dulu rencananya. "
Aku mengangguk-angguk, sementara benakku penuh dengan rencana dan khayalan indah. Dadaku juga penuh dengan semangat.
Tapi pulangnya dari Sagan, aku di buat resah sendiri. Soalnya di bagian Sagan tadi mas Bambang memeluk ku dengan mesra. Anehnya diam-diam aku menuntut lebih. Aku memang Ter bangkitkan oleh perlakuan mas Bambang.
Tapi mas bambang tidak melanjutkannya. Mas bambang seakan meninggalkan ku begitu saja. aku memang belum mengerikan jiwa mas Bambang yang sesungguhnya. Apakah moralnya sedemikian tingginya sehingga menganggapnya hubungan **** hanya boleh di lakukan oleh sepasang suami isteri? "Apakah ia belum menemukan saat yang tepat untuk melakukan nya? " Entahlah. Yang jelas sebelum berada di Salon, cukup lama aku merenungkan nya, Bahkan setelah Nina pulang pun aku masih memikirkannya di ruang tengah.
__ADS_1
Brengsek memang, bahwa pada saat aku harus memusatkan pikiran ke arah rencana usaha baru itu, jiwa ku bahkan di goda oleh khayalan bayangan tentang hangatnya dekapan lelaki.
Tapi terawang aku buyar ketika mendengar ketukan di pintu belakang, satu-satunya pintu yang menghubungkan rumah dan salon ku dengan deretan kamar kost di belakang.
Aku bangkit dari sofa, lalu melangkah kearah pintu itu,
Seorang anak kuda berdiri di ambang pintu yang baru aku buka.
Eh, dik Dadang, ayo masuk dik. "Sahut ku ramah pada anak muda bernama dadang itu.
Dadang berasal dari Bandung, Ia salah seorang mahasiswa yang tinggal di rumah kost ku.
"Nggak liburan di kampung? "Tanyaku setelah Dadang duduk di salah satu kursi ruang tengah.
"Hanya saya sendiri yang nggak pulang kampung mbak,
"Kata Dadang sambil menunduk. Sikapnya tampak murung, Aku belum menertibkan apa sebabnya.
"Memangnya kenapa ndak pulang? "Liburannya cukup lama kan? " Memangnya ndak rindu sama orang tua dan kampung halaman? "
"Rindu sih rindu, tapi keadaannya begini mbak, " Suara Dadang terdengar nada keluhan.
"Iya, "Dadang mengangguk, " Makanya saya menghadap sekarang, mau minta maaf sama mbak, karna uang kost bulan lalu belum bisa bayar, Soalnya ayah saya di bandung sedang mendapat kesulitan, Suratnya baru saya Terima tadi pagi. "
"Yas sudah toh, kalau belum ada ndak apa-apa. aku kan ndak nagih sama dik Dadang. "
"Memang betul, tapi sayanya yang punya perasaan bersalah, Sebenarnya saya ndak menunggu-nunggu pos wesel. Tapi yang datang malah surat berisi keluhan orang tua saya. "
"Memangnya ada apa di Bandung? "
"Adik saya berkelahi.... mencederai lawannya. "
"Oh! "
"Makanya orang tua saya jadi habis-habisan mengurus ke sana-sini, supaya adik saya bisa di tahan di luar saja, mengingat ujian smu nya sudah dekat. Tapi untuk mengurus hal itu, banyak sekali uang yang harus di keluarkan oleh ayah saya, Ah... adik saya yang satu itu memang bandel, mbak. Hanya menyusahkan orang tua saya saja kerjanya. Maklum anak bungsu, terlalu di manja pula. "
"Ada-ada saja ya, berkelahi ya berkelahi saja, jangan pakai Mencederai segala. "
"Iya, mbak. "
__ADS_1
"Tapi dik Dadang kan ndak suka berkelahi? "
"Sejak kecil sampai sekarang, saya belum pernah berkelahi, mbak. Kalau bertengkar kecil-kecilan sih pernah, tapi ndak sampai pakai tangan. "
Aku mengangguk-angguk.
Lalu kata Dadang lagi, "Jadi gini mbak saya mohon kebijaksanaan Mbak sampai saya menerima pos wesel nanti. "
"Ya sudahlah, mengenai uang kost jangan di pikirkan dulu. "
"Terima kasih, mbak. Sebenarnya saya malu menceritakan ini, Karna kawan-kawan lain kan pada lancar saja bayar uang kost. "
"Kenapa mesti malu? " Justru saya menghargai sikap terus terang begitu. Oh ya, yang sekamar sama dik Dadang itu... Romli kan? "
"Betul mbak. "
"Dia juga ndak pulang kampung? "
"Pulang, mbak. semua kamar kosong. Hanya saya sendiri yang tinggal sekarang. "
"Wah kesepian dong sekarang dik Dadang ya. "
"Hhh... mang betul, mbak. "
Iba juga hatiku mendengar nya, Lalu aku berusaha menghibur nya: "Sabar dik. Manfaatkan saja waktu liburan panjang itu untuk belajar. "
"Iya, mbak. Tampaknya harus begitu, Soalnya sebentar lagi saya mau ujian. "
*
*
*
*
**BERSAMBUNG
karena pekerjaan saya padat sedang mengejar waktu, jadi saya dak bisa lancar update,
__ADS_1
saya mohon maaf 🙏🙏🙏🙏🙏**