API CINTA

API CINTA
12. Belajar gitar


__ADS_3

...* * * * *...


Setelah dadang kembali ke kamarnya, aku tercenung sendirian lagi di ruangan tengah. Tadinya sempet juga ku pikirkan masalah bisnis rumah kost.


Tadinya aku hanya menyewakan kamar- kamar kepada mahasiswa itu. Tapi atas usul mereka sendiri, sejak tiga bulan yang lalu aku menyediakan makanan untuk mereka. Tapi tentu saja bukan aku sendiri yang mengerjakannya. Kebetulan mbak endang berminat masak rantangan. Maka kuserahkan masalah makannya kepada wanita yang tinggal di sebelah barat salon ku.



Sebenarnya kalo di bandingkan dengan rumah yang di sagan, rumah yang di batas kota ini punya tanah lebih luas. Hanya saja yang di sagan jauh lebih strategis.



Tapi bukankah yang namanya penginapan tetap punya kemungkinan maju sekali pun letaknya di luar Kota? "Bahkan setahuku banyak yang sengaja mencari penginapan yang agak jauh dari kecamatan Kota.



Tapi biarlah masalah penginapan dan segala \*\*\*\*\* bengeknya itu ku lupakan dulu. Kakiku melangkah terus memajang di deretan rumah kost. Apakah aku hanya ingin memeriksa kamar-kamar kost itu, ataukah aku terpancing oleh dentingan gitar yang datang dari kamar paling selatan?



Entahlah, yang pasti kamar demi kamar tampak gelap, karena penghuninya sedang pada liburan di lampunya masing-masing. Hanya kamar di ujung selatan yang tampak terang. Kamar dadang. ya, Dadang yang belum lama meninggalkan ruang tengah.



Aneh memang. Bahwa mendadak saja perhatian ku berjumlah pada anak muda berperawakan tinggi dan agak kurus itu.



Tapi petikan gitarnya memang halus kedengarannya, sehingga aku terpancing untuk menghampirinya.



Dadang tampak kaget ketika melihat ke arah ku yang sedang berdiri di ambang pintu kamar nya.



" Eh, mbak...saya sangka siapa. "



"Lanjutkan saja main gitar nya, aku senang ko dengarnya, " sambil melangkah masuk ke dalam kamar dadang. lalu ku ambil kursi dan ku letakkan di depan dadang, "ayo lanjutkan lagi, aku senang ko, petikan gitarnya kok halus gitu ya, sekalian pengen belajar. "



"Mbak, ada minat main gitar? " tanya dadang dengan senyum sopan.



"Memang sejak kecil aku kepengen bisa main gitar. Tapi ndak ada yang ngajarin. Kamu Mau ngajarin kan? "



"Boleh, " Dadang menyerahkan gitarnya padaku, "untuk permulaan, belajar kunci-kunci nya saja dulu. "



Ku sambut gitar itu, sambil memperhatikan pemiliknya dengan sudut mataku, sekilas wajah priyono melintas dalam ingatanku. Mengingatkanku pada segala langkah yang pernah ku tempuh bersama-nya. Tapi, akh, persetan dengan pri, ia sedang bahagia delam pelukan Amelia tercintanya. Lantas apakah aku harus menderita sendirian?.



Huh, tidak! "Aku tak mau rusak sendiri, aku masih muda.


...* * * * *...


Tak sulit mengajak dadang pindah mengajar bermain gitar ke ruang tengah. Kamar dadang terasa sumpek bagiku. Dan setelah berada di ruang tengah, aku masih belajar bermain gitar.


__ADS_1


" Ih....lama-lama tangan sakit juga ya, "kataku, sambil memperhatikan ujung-ujung jariku.



" Mula-mula sih begitu, tapi kalo sudah seringkali main gitar, ujung jari mbak akan tebal dan tidak sakit lagi.



Aku mengangguk-angguk sambil memperhatikan Dadang dengan sudut mataku.



Sebenarnya hatiku berkali-kali tertawa geli ketika dadang berulang-ulang membetulkan jari jemari ku, supaya tepat letaknya pada kunci-kunci nada yang sedang ku pelajari. Masalahnya adalah bahwa jari jemari dadang, pasti radang tak akan menduga bahwa semua itu memang ku sengaja, Bahkan ketika dadang membetulkan posisi jari jemari ku dari samping, sengaja pula ku sentuh pipiku dengan pipinya, Kulihat anak muda itu mendadak rikuh, tapi ketika melihatku tersenyum, ia tampak tenang lagi.



Sampai pada suatu saat.



"Cape ah, istirahat dulu, " kataku sambil menyerahkan gitar kepada pemilihnya, "Dik dadang mainkan dulu lagu yang sentimental, aku mau ganti baju dulu, "



Dadang patuh saja pada permintaanku. Waktu aku masuk ke dalam kamarku, ia mulai memainkan gitarnya dengan nada-nada yang menyentuh.



Tapi tahukah Dadang, apa yang sedang ku rencanakan di dalam kamarku? "Tahukah Dadang bahwa aku sedang bingung mencari cara yang paling tepat untuk meruntuhkannya?



Ah, kalo aku butuhkan nya, kenapa tidak terang-terangan saja? " kenapa harus bersandiwara segala?.




"Memang rumah ini terlaku sering di tinggalkan, " kata Dadang yang masih memeluk memeluk gitarnya, "Kalo ngga ada anak-anak yang kost gawat juga, terutama pada malam harinya. "



"Kalo dik Dadang mau, di sini saja tidurnya. Sekalian jaga rumah waktu aku ndak tidur di sini, " kataku sambil duduk bersila di karpet.



Dadang masih duduk di kursi, tapi lalu pindah ke bawah, ke karpet, mungkin ngga enak duduk lebih tinggi dari ku.



"Malam ini tidur di sini saja, ya"kataku sambil menghidupkan televisi.



" Di sini? "Dadang menunjuk di karpet.



"Di mana saja, " sahutku dengan senyum. "Di kamarmu juga cuma sendirian kan? " ya, mending di sini, biar ada teman ngobrol. "



"Mm... boleh, "Dadang mengangguk sambil meletakkan gitar di kursi, lalu duduk di karpet lagi,menghadap ke televisi.



Ku ambil sebuah bantal bulat, lalu ku letakkan di samping Dadang. Di situ aku merebahkan kan diri. Menelungkup dengan mata terarah ke layar kaca.

__ADS_1



" Sesekali aku ingin membebaskan diri dari masalah-masalah rumah tangga. Makanya mulai sekarang sedikitnya seminggu sekali aku akan tidur di sini. "



Dadang tampak rengkuh. Tapi aku berusaha ngusir ke rengkuh an nya, Dengan genggaman di pergelangan tangganya, dengan pertanyaan: "sudah punya pacar belum, "



Dadang memandang ku sesaat, tanpa meneruskan genggaman tangan ku. Lalu Menggeleng, belum. "



"Bohong ah, kataku sambil mengubah posisiku jadi menelentang, Sementara pergelangan tangannya tetap berada dalam genggaman ku.



" Bener-bener belum punya pacar? "tanyaku lagi dengan senyum menggodanya, " sementara genggaman tanganku mulai menjadi remasan lembut.



"Belum."



"Di Bandung kan banyak cewek-cewek cantik. "



"Memang banyak, tapi saya belum kepengen pacaran, ingin jadi sarjana dulu. Kasian sama orang tua saya. " Suara dadang terdengar aneh, Dan aku berusaha memaklumi nya. Karena suasana ini memang lain. Suasana yang ku ciptakan sendiri dengan sikapku.



Dan suasana pun semakin lain ketika aku bangkit dengan rangkulan hangat di leher Dadang, di sertai bisikan-bisikan, "Kalo begitu ku ajari cara berpacaran.... caranya bercinta.... supaya nanti ndak kaku lagi. mau?? "



"Ma... mau..., sahut dadang rengkuh.



" Begini mula-mula nya, "kataku sambil mendekatkan bibirku ke bibirnya, Dadang tampak gelagapan. tapi segera ku kecup bibirnya dengan mesra.



Terasa Dadang mengejut sesaat. Tapi lalu terdiam, bahkan seperti menikmatinya apa yang ku lakukan.



" Jangan pasif dong, "kataku sambil melepaskan ciuman. " bibirmu harus bergerak-gerak. "


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...BERSAMBUNG...


Bagaimana kelanjutannya apakan akan terjadi??..

__ADS_1


__ADS_2