
"Aku, ndak mau mengganggu pekerjaan dia, " sahut ku sambil melepaskan tas kecil. Sementara sutinah sibuk mengangkut barang-barang bawaanku ke dalam, "Ternyata pri sibuk skali kerjaannya, Mas. Pulangnya malam terus, lagi pula alat yang mau di beli itu kan harus dibeli dulu bagus atau tidaknya. Tentu harus ku sendiri yang mencobanya, Pri mana ngerti soal alat-alat salon? "
Aku bersi keras mau ke Jakarta lagi bulan depan. Karena aku punya rencana untuk membuat kejutan. Datangi rumah Priyono tanpa Pemberitahuan dulu.
Tapi hal itu harus ku pikirkan nanti saja, setelah rencana pertamaku berjalan mulus. Sekarang aku harus mulai merangsang mas Jarot, meski kelihatannya belum sehat bener.
* * * * *
Ternyata tidak mudah membangkitkan libido mas Jarot. Waktu aku berusaha habis-habisan untuk itu, hatiku malah merasa iba. Karena aku sedang berpura-pura pengen sekali, pdhl aku sedang berusaha meloloskan diri dari lubang jarum.
Mas Jarot memang tampak heran, "kenapa begini banget? "
"Ndak tahu, rasanya kepengen sekali mas, " sahut ku dengan lembut. Padahal hatiku terus-terusan memekik, bangunlah mas, supaya aku lolos dari bahaya ini, keuletan ku mlah itu mendatangkan hasil. Mas jarot mulai bangkit. makin lama main meyakinkan. O, senangnya hatiku.!
Walaupun semuanya cuma berlangsung beberapa menit, mungkin karena sudah terlalu lama mas Jarot tidak melakukannya, aku merasa senang, senang sekali. Maka ku kecup pipi mas jarot berulang-ulang, laksana ungkapan rasa terima kasih.
Tapi aneh mas Jarot diam saja? "Kenapa wajahnya merah padam?
Ah, mas Jarot kambuh lagi, kali ini malah lebih berat keliatannya.
Dan aku panik sendiri. Belum berani membangunkan si tinah, karena mas Jarot belum berpakaian. Dengan susah payah aku sendiri memasangkan pakaian mas Jarot yang tak sadarkan diri.
Setelah pakaian mas Jarot terpasang, barulah aku membangunkan si Tinah dan Miranti.
Dengan sigap Meranti memeriksa keadaan mas Jarot, Lalu berkata padaku, " kelihatannya bapak mengalami stroke. Tidak ada jalan lain, Bapak harus di bawa ke rumah sakit. "
Aku cuma terbengong, dengan perasaan bersalah.
"Kalau begitu carilah ambulance untuk membawanya ke rumah sakit, " kataku setelah beberapa saat di cengkraman perasaan penyesalan.
* * * * *
Kapan di bawa lagi ke rumah sakit? "
"Tadi malam, keadaanya lebih berat dari pada tempo hari, pri. Bahkan kata salah seorang dokter, kemungkinan besarnya bapakmu akan mengalami Kelumpuhan nantinya, itupun kalo umur bapak mu panjang, "
"Ah, kasihan bapak ya, padahal tempo hari kelihatannya sudah hampir normal. "
"Iya, tapi kambuhnya lagi setelah.... Ah...., pokoknya cepat pulang dulu. Nanti ku jelaskan semuanya. "
"Sekarang?..
" Iya, mau tunggu apa lagi? "Kalau perlu pakai pesawat saja buat cepat sampai di Yogya. Aku panik sekali, Pri. Ndak ada orang yang bisa di ajak bertukar pikiran, "
"Sebenarnya ngga enak juga mesti minta ijin terus, Padahal belum lama aku minta cuti seminggu. Tapi biarlah akan ku usahakan pulang secepat mungkin. "
__ADS_1
Setelah meletakkan kembali gagang telepon, aku menghampiri Nina yang sedang merapikan letak peralatan salon.
"Kalau mau menunggu di rumah sakit, silahkan saja mbak, " kata Nina, "biar di sini say sendiri. "
"Memang dalam beberapa hari mendatang, kelihatannya aku akan sibuk mondar-mandir ke rumah sakit, " sahut ku sambil menghempas kan diri ke sofa.
Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah sedang BMW biru tua berhenti di depan salon ku, seorang lelaki muda turun dari sedan mahal itu, mas Bambang.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, baru saja aku berpikir dari mana aku bisa mendapatkan uang yang lumayan banyak, untuk biaya perawatan mas Jarot, soalnya uangku sudah di habiskan untuk membeli alat-alat salon di jakarta, mudah-mudahan saja mas Bambang mau meminjamkan uang.
Merasa berada di pihak yang butuh, aku bersifat se ramah mungkin waktu mas bambang melangkah masuk. "Kelihatannya ko segar sekali, mas. habis dapat pukulan ya? "
Mas Bambang malah mencolek pipiku sambil berkata. "kalau di pukul sama ini, baru aku bisa langsung segar. "
Biasanya aku langsung menghindari kalau mas Bambang colek colek begitu, tapi kini tidak, karena aku sedang membutuhkan pertolongannya.
Seperti biasa, Nina seolah mengerti bahwa mas Bambang colek colek membutuhkan suasana tenang waktu berada di salon ku. Kata Nina, "Mbak Tri, saya mau nyari makanan dulu ya."
"He-eh, "Aku mengangguk, kali ini malah senang bila Nina jangan dekat-dekat denganku. soalnya aku malu mengatakan kebutuhanku kepada mas Bambang jika Nina ikut mendengarkannya.
Setelah Nina pergi, ku sunggingkan senyuman buat mas Bambang, " Mau potong rambut Mas? "tanyaku.
"Kangen nih ye? sahut ku dengan kerlingan.
" Betul, kangen sekali, bolehkan aku kangen sama dek Lastri? "
"Boleh saja. siapa yang larang? "
Lalu kami berbincang ngalor-ngidul selama beberapa bela menit. Dan akhirnya aku menemukan celah untuk Mengutarakan kebutuhanku.
"Ngomong-ngomong, mas Bambang bisa nolong saya ngga? "
"Nolong apa? "
"Biaya rumah sakit suami saya layan gede nya, mas. kalau......
" Ceritanya butuh duit kan? "Mas Bambang memotong ucapanku.
" he-eh, betul mas, pinjami dulu dong. "
__ADS_1
"Berapa? "
"Kira-kira lima juta begitu. " Tenang saja mas Bambang mengangguk-angguk dengan senyuman. kemudian bangkit dari kursinya, melangkah ke depan ke arah BMW gitu tuanya,e ngambil tasnya dan berjalan kembali ke arah ku.
Dari dalam tas itu mas Bambang mengeluarkannya buku cek, lalu menulis selembar cek dan menyerahkan cek itu kepadaku.
"Lho..., ini ko sepuluh juta? " aku terbelalak melihat tulisan yang terdapat di cek itu. Sepuluh juta rupiah. padahal tadinya kusangka tidak sampai lima juta pun akan ku terima, ini malah di lebihi.
"Iya, Mas Bambang tersenyum. "Biar dik Lastri tidak usah mencari sana-sini lagi, kalau masih ada kekurangan nya. Soalnya aku ngerti kalo ada yang di rawat di rumah sakit itu, banyak pengeluaran tak terduga. "
"Tapi nanti aku bayarnya berat, lho mas"
"Bayar apa? "
"Ngembaliin uang itu sama Mas Bambang, sepuluh juta bukan sedikit duitnya. "
"Siapa suruh ngembaliin? "
"maksud Mas Bambang? "
"Yang itu pemberianku buat dik Lastri, semoga suami dik Lastri cepat sembuh. "
"Mas! " ini beneran mas? "aku terbelakang girang.
" Memangnya kapan aku pernah bohong sama kamu? "
"Duh, mas Bambang. kamu ko baik bener sih? " Matur nuwun, mas. Matur Nuwun....!"
"Sekarang mendingan cepat dicairkan dulu ceknya. Mumpung banknya belum tutup. "
"Iya mas. Eh..., sekalian antar sama mas Bambang saja ya. "
"Boleh."
Tentu saja Mas Bambang senang mendengar ku minta di antar. Bukankah sudah lama ia ingin mengajak ku jalan-jalan tapi selalu ku tolak secara halus? "Dan sekarang suasananya memang lain.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
BERSAMBUNG......!