API CINTA

API CINTA
4. Gila, sebenarnya apa yang sedang terjadi


__ADS_3

"Pucuk di cinta ulam pun tiba. "Mas bambang bertepuk tangan dan bangkit dari Kursinya, "harapan ku terkabul juga, hee hee hee...! "



"Harapan apa? "Mana oleh-olehnya dulu ah, Mas bambang baru pulang dari surabaya kan? "kataku dengan senyum ramah.



"Soal oleh-oleh si gampang, yang penting cuci rambutku dulu. Habis potong rambut, harus cuci rambut kan? "Lagi-lagi mas bambang melayangkan tatapan menggoda.



"Kan ada dia, "kataku sambil menunjuk ke arah anak buah ku.



"Potong rambutnya sama Nina, cuci rambutnya kepingin sama dek Lastri, lain lho rasanya kalau diurus sama bosnya sendiri. "



"Ah, Mas bambang ada-ada saja, "Aku tersipu setelah melihat tatapan mas bambang yang terasa makin menggoda, "cucinya pakai air hangat?"



"Iya dong, seperti yang bisanya."



Meski baru saja aku tiba, tapi demi kepuasan pelanggan, ku kerjakan juga permintaan mas bambang itu.



Dan lagi-lagi mas bambang menggoda ku, Ketika tanganku sedang \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* rambutnya yang suda di gosok dengan shampo, tiba-tiba tangan kiri ku di genggam nya, telapak tanganku di elusnya dengan lembut. Dan anehnya, hanya sentuhan seperti ini saja mampu Mendesirkan darahku.



"Jangan di pegang dong tangannya, nanti nyuci rambutnya ndak bersih, "kataku sambil berusaha menarik tangan kiri ku. Tapi mas bambang malah menarik dan menekankan telapak tanganku ini ke dadanya, Sementara Nina perlu keluar, entah mau apa.



"Nyuci rambut sih pake sebelah tangan juga kan bisa.


Yang penting aku kepengen merasakan halusnya tangan dik Lastri ini, kata mas bambang sambil mengelus punggung tangan ku yang sedang di tekankan ke dadanya itu.


Terpaksalah ku biarkan saja tangan kiri ku tetap berada di dadanya, sementara tangan kanan ku melanjutkan pekerjaan, mengeramasi rambut mas bambang sampai selesai.



Memang aku harus melayani mas bambang sebaik-baiknya. Karena biar sering menggoda, dia selalu membayar lebih banyak dari semestinya.



Tapi kenapa waktu mencuci rambut mas Bambang ini, pikiranku melayang-layang tak menentu lagi, kenapa aku malah membayangkan, seandainya yang ku cuci ini adalah rambut Pri..... ah, bener-bener pikiran gila.



"Dik Lastri....."



"Sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan siang ini, ndak usah jauh-jauh, ke Malioboro juga boleh."



"Lain kali aja mas, suamiku lagi di rawat di rumah sakit, ndak bisa bisa jalan-jalan?"

__ADS_1



"Eh, memangnya kenapa suami dek Lastri itu?"



"Darah tingginya kumat, berat juga, tekanan darahnya sampai dia ratus dua puluh."



"Oh ya? "kapan dia mulai di rawat?"



"Sudah tiga hari, mas."



"Wah, maafkan aku kalau begitu, ku ndak tau kalau suami dek Lastri di rumah sakit, Lalu....., nanti sore mau besuk kan?"



"Ya, mas,"



"Ku antar ke rumah sakit, mau?"



"Ndak usah mas. Banyak keluarga yang akan datang ke rumah sakit nanti, ndak enak sama mereka.


Di sangkanya aku macam-macam justru pada saat suamiku sedang menderita."


Sesungguhnya, ketika mas bambang meremas tangan kiriku dengan lembut, aku malah membayangkan menderitanya mas Jarot di rumah sakit.




Sepulang dari rumah sakit pun hatiku di kuasai oleh perasaan kasihan terhadap mas Jarot. Betapa tidak, ia seorang lelaki yang lembut dan penuh kasih sayang.


Ia pula yang telah mengangkat derajat ku, dari anak seorang petani miskin menjadi istri terhormat. Istri seorang lelaki yang paling si segani di kampung nya.


Sampai malam harinya, ketika aku duduk sendirian di depan pesawat televisi, sebenarnya pikiranku tidak terlalu ke acara yang sedang di tayangkan di layar kaca.


Aku tetap memikirkan lelaki yang telah demikian baiknya terhadap diriku ini. Bukankah mas Jarot tak pernah menentang setiap kehendak dan rencana-rencana ku?


Dari hati yang terjulur aku mengakui bagai mana sengsaranya diriku waktu masih gadis dahulu, tiap kali aku ada kebutuhan harus ku pertimbangkan dahulu sebelum ku minta dari ayahku. Sehingga aku sering tidak meminta sesuatu yang seharusnya ku pinta dari ayahku. Karena aku tahu keadaan orang tuaku saat itu. Untuk makan sehari-hari pun sulit apa lagi untuk memenuhi kebutuhan di luar pangan.



Tapi setelah menjadi istri mas jarot, apa yang tidak ku punyai? "Rumah sudah tiga. Malah aku sedang merencanakan membeli rumah yang di jalan Sagan itu, untuk rumah kost, karena jaraknya tidak begitu jauh dari bulak sumur, kendaraan pun aku sudah punya sendiri, walaupun bukan sedang mahal, toh masih terhitung layak untuk daerah sederhana ini.



Tetapi kini lelaki yang telah mengangkat derajat ku ini, sedang berbaring lemah di rumah sakit. Dan aku hanya mampu berharap, semoga ia lekas sembuh. Sungguh, aku sangat berkepentingan dengan kesembuhannya.



"Jangan terlalu di pikirkan, bapak pasti sembuh," Tiba-tiba terdengar suara priyono di belakang ku.



Aku terkejut, bukan kata-katanya itu yang membuat ku terkejut, tapi tindakannya itu. Bahwa saat itu aku masih duduk di depan pesawat televisi, sementara Priyono berdiri di belakang kursi ku, dengan tangan memegang bahuku dan pipi merapat di pipiku! "Terus terang saja, jantungku berdegup kencang di buatnya.

__ADS_1



Tapi apakah sikapnya itu harus ku hindari? "Mungkin ia melakukan hal itu karena mengganggap ku sebagai ibunya? "Bukankah wajar saja seorang anak merapat pada ibunya sambil memeluknya pula.



"Pri...! "Kamu kenapa sih! "tegur ku dengan jantung makin deg-degan.



Tapi priyono dengan lembut berbisik, "Bukan hanya bapak, aku juga sayang kamu.



"Pri.... eling pri...., "cetus ku tersengat.



Dan pri seperti di beri angin dengan tiadanya penolakan ku ini, pri melanjutkannya sambil duduk di lengan kursi, bahkan di sertai bisikan: "Kita kan harus kompak. Supaya keluarga ini tetap utuh."



"Nanti keliatan si tinah, kataku antara sadar dan tidak, karena sedikit pun aku tak menduga akan mengalami hal ini.



Priyono malah mencium ku dengan kecupan hangat, sambil berdesis, "Supaya tidak kelihatan si tinah, kita ke atas aja yu,"



"Mau ngapain di atas?"



"Katanya supaya jangan kelihatan si tinah. Ayolah, aku menunggu di atas ya, "Priyono mengecup pipiku, kemudian melangkah ke lantai atas.



Gila, sebenarnya apa yang sedang terjadi ini?"



Entahlah. Aku benar-benar tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti ini. Yang jelas aku seperti di tarik oleh sesuatu kekuatan, yang membuatku bergerak menuju lantai atas.



"Mau apa toh? "tanyaku sangsi di ambang pintu kamar Priyono.



Sebagai jawaban, Priyono menarik pergelangan tanganku. Meraih ku kedalam kamarnya, menutup dan sekaligus mengunci pintu kamarnya. mengurung ku di dalamnya.


*


*


*


*


*


BERSAMBUNG......


Apa yang akan terjadi selanjutnya, dan apakah akan terjadi sesuatu antara lastri dan priyono kita nantikan kisah selanjutnya

__ADS_1


jangan lupa like, suport dan dukungannya


Terima kasih 🙏🙏🙏🙏**


__ADS_2