
Ingin aku protes, kenapa Priyono secepat itu memilih calon istri? "Kenapa ia tak bisa tenggang rasa pada ku? " Kenapa ia tak bisa menunggu sampai anak ya lahir dari kandungan ku? "Tak tahu kah ia bertapa sakit dan terpukul nya batin ku ini!
Sungguh aku ingin protes sekeras-kerasnya, Tapi bagai mana cara menyampaikan protes ini, sedangkan gadis bernama Amelia itu menempel terus pda pri? " Kapan aku punya kesempatan untuk nyampai kan unek-unek ku ini!
Sedangkan pri bentuk tergesa-gesa pulang ke Jakarta. Menginap pun tidak.
Pri meninggalkan ku dalam ke limbungan.
Dan proyek dapat ku lancarkan keesokan harinya lewat telepon ke kantor priyono di Jakarta.
"Pokoknya kebangetan. Bikin sakit hati orang sampai kayak begitu. "
"Sedikit pun ndak ada niat buat nyakitin hati kamu. Aku hanya ingin mengikuti keinginan apa kata bapak. Kamu kan ikut dengar, Bapak setengah maksa supaya aku cepat kawin. "
"Ah, bapakmu ngomong dalam keadaan kurang sadar saja di ikuti. Wong mestiane (seharusnya) mikir keadaan ku juga yang lagi hamil begini. Hah.... tega-teganya kamu nyakitin hatiku ini, sama saja dengan menyakiti anakmu sendiri yang ada dalam perutku ini kan?
"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya kalau tindakanku ini menyakiti hati kamu. Tadinya aku hanya ingin menyenangkan hati bapak sekalian menghapuskan kecurigaan... "
Belum habis pri bicara, ku sudah menaruh yang telepon.
Tinggallah kekesalan yang masih tersisa di batinku.
* * * * *
Ketika aku berada di balik klinik bersalin, terasa benar pilunya hatiku, Bahkan aku melahirkan tanpa di hadiri suami ku, Sementara Priyono baru saja melangsungkan pernikahannya dengan gadis bernama Amelia itu.
Dengan kata lain, ketika usia sedang berjudi dengan maut, Pro malah sedang berbulan madu? O, betapa sakitnya kalau berpikir sampai ke sana.
Memang kedua orang tua ku menungguiku di Klinik bersalin, sampai aku selesai melahirkan, tapi rasanya bukan mereka yang sangat ku harapkan hadir pada waktu perasaanku sedang peka begini.
Sedihnya lagi hatiku waktu sudah pulang bersama bayi perempuan ku yang baru berkurang dua hari. Ketika ku tanyakan kepada mas Jarot tentang nama yang akan diberikan untuk bayi ini? "Sebagai Jawaban, mas jarot cuma nangis seperti biasanya.
Ah, rasnya aku bisa gila kalau semuanya itu terlalu di masukkan ke dalam hati. Barang kali mulai saat ini aku harus manjadi manusia tegar, karena kebahagiaan Seakan telah memusuhiku.
Lalu tanpa meminta persetujuan siapa pun juga, aku beri nama Ayuningtyas buat anakku yang masih bayi merah itu. Nama kecilnya akan aku beri nama Ayu saja. Tentu saja dengan harapan agar ia menjadi gadis ayu setelah besar kelak.
Setelah ayu berumur semingguan, ku terima kiriman yang membuatku terhenyak dalam keharuan. Sebuah bokep bayi kiriman mas Bambang.
__ADS_1
Meski mas Bambang tidak datang sendiri, tapi Kirimannya sangat ku hargai. Terlebih setelah ku baca tulisan pada kartu namanya yang di tempelkan pada boks bayi: " Selamat atas kelahiran bayinya, Semoga memberikan kebahagiaan bagi semua nya. "
Rupanya pada saat orang-orang memalingkan muka dari ku, Mas bambang justru memperhatikan perhatian nya yang begitu besar kepadaku. Memang harga boks bayi itu tidak seberapa besar, Namun perhatiannya itu sangat bermakna bagiku.
\* \* \* \* \*
Bagaimana pun kelahiran Ayuningtyas membawa angin baru bagiku, sedikitnya aku mersa telah menjadi seorang wanita yang normal, karena berhasil menjadi seorang ibu. Dan yang pasti aku pun mulai memikirkan masa depan Ayu, meski iya masih bayi.
Masa kecilku penuh dengan kesengsaraan. Hal itu tak boleh di alami oleh Ayu, aku bahkan ingin agar Ayu jangan kalah dengan anak-anak orang kaya sekali pun. Karena itu aku harus mempersiapkannya sedini mungkin.
Persiapan itu tentunya menyangkut uang. Karena hidup di jaman sekarang selalu di kait-kaitkan dengan uang, Maka dengan kata lain, Kalau aku Ingin menyenangkan Ayu, Aku harus mencari uang sebanyak-banyaknya.
Aku tak mau berpaku dengan bisnis Salon dan rumah kost saja. Aku harus berusaha di bidang lain. Rasanya banyak yang bisa ku kerjakan. Tapi modalku tidak cukup banyak. Barang kalo aku harus memutar otak terus, supaya modalku padat, sementara lahan bisnisku juga lapang.
Pada saat semangatku bergelora inilah, tanpa ku sadari hubunganku dengan mas bambang makin akrab saja.
Pada saat pertama kalinya ku injakkan lagi kakiku di Salon, Nina bergegas menelpon Mas Bambang, memberitahu kalau aku sudah muncul kembali di Salon.
Beberapa saat kemudian mas Bambang datang. Dengan senyum dan tatapan ceria. Dengan jabatan tangan dan tegur sapa yang hangat: "Sudah lama aku bermaksud menengok mbak Tri ke rumah. Tapi takut menimbulkan hal-hal yang tak di inginkan. Makanya aku pesan sama Nina supaya segera menelepon kalo adik Tri sudah muncul di sini, tapi mana bayinya? "
"Di tinggal di rumah mas, Masa di bawa-bawa, masih belum kuat Mas. "
"Lho... siapa yang ngurus bayinya di rumah? " kalau mau nyusu atau... "
"Ada baby sitter, Susunya di kasih susu kaleng. "
"Kata orang ngga baik tuh di kasih susu kaleng. "
"Habis, sejak berumur singgung dia sudah kebiasaan di kasih susu kaleng. Sampai sekarang dia ndak mau di kasih asi lagi, Mas. "
"Curang nih? "
"Curang apanya? "
__ADS_1
"Ceritanya supaya p\*yudaranya tetap sexy, sengaja ndak menyusui bayinya kan? "
"Ah, mas Bambang ada-ada saja. "
"Tapi nyatanya dik Tri setelah melahirkan jadi tambah Ayu saja. Wajahnya jadi tambah bercahaya begitu. "
"Ng... gombal ah! "
"Sumpah aku ngomong seadanya lho. Tanya aja sama Nina, " Mas Bambang menoleh ke arah Nina yang sedang mengolesi kukunya dengan kutek, "Benar ngga, Nina? " Dia jadi tambah Ayu kan? "
Nina mandangin sesaat, Lalu mengangguk sambil tersenyum, "Betul, " katanya, "Orang bilang wanita setelah melahirkan anak pertamanya suka memancarkan cahaya kewanitaannya, Mbak Tri juga bertambah cantik tuh. "
"Ah, kalian sekongkol, " kataku sambil mengerling ke arah mas Bambang, "Sudah ah, jangan memuji-muji terus, Mm... mas Bambang bersedia mengantarku ke segan? "
"Ngantar ke ujung dunia juga mau, memangnya dapat di sagan? "
"Ayolah antar aja dulu, Nanti di sana ngomongnya. "
"Jadi rumah ini sudah di beli sama dik Tri? " Tanya mas Bambang setelah beradik di dalam rumah yang di sagan, yang baru seminggu di beli.
"Iya, " Aku mengangguk. "Tapi keadaanya masih kosong melompong beginian. "
\* \* \* \* \*
"Jadi dik Tri mengajakku ke sini untuk di minta di belikan furniture dan segala perabotan untuk rumah ini? " Tanya Bambang sambil memegang kedua bahuku.
*
*
*
*
*
Bersambung
*
maaf kemarin ga up load karna kesibukan bekerja sampai tengah malam 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1