
Aku dan timku sedang berada di lab laboratorium utama di lantai tiga gedung penelitian ArfaTech. Aku berdiri disamping kiri. Paling ujung dari deret meja para peneliti yang merupakan tim peneliti robotika dan robot humanoid yang aku pekerjakan. Dikananku ada 3 peneliti yang sedang menatap monitor dari kaca dan sesekali mengetik di meja,sekaligus keyboard yang tampak menyatu. Mereka semua talenta-talenta muda yang luar biasa. sedangkan 3 orang peneliti yang pernah disandera kelompok bersenjata tempo hari tampak sedang mengotak-atik robot humanoid yang menyerang aku dan Aria. Mereka berada di ruang kaca dengan satu robot humanoid berwarna putih polos tampak tidak mempunyai identifikasi gender terbaring di sana.
Aku beruntung, aku diijinkan bergabung membantu penyelidikan polisi sebagai penyidik independen dan saksi ahli.
Kami hanya diijinkan membawa 1 robot untuk diteliti.
"Bagaimana Denis, kau mendapatkan sesuatu? " Kataku kepada pemuda yang ada di sebelah kiri ku. Aku menyandarkan diriku pada meja berlawanan arah duduk mereka.
"Baik, Dr Arfa setelah kami teliti bersama tim Dr. Dr. Rina, kami mendapatkan bahwa prosesor yang digunakan pada robot humanoid ini.. menggunakan bahan yang sama dengan processor Aria. "
"Maksudmu Praseodymium? " Tanyaku heran.
"Bagaimana mungkin? dan apa robot-robot ini mempunyai kesadaran" Tanyaku lagi melanjutkan.
"Aku telah menyelidiki juga hal tersebut, tidak Dr. Arfa. " Jawab Denis
"Aku rasa prosesor ini hanya dapat memproses dengan sangat cepat, tanpa adanya kesadaran. Komputasi yang luar biasa, tetapi teknologinya belum cukup untuk membuat kesadaran. " Lanjut Denis.
"Apa kau bisa melacak perusahaan apa yang mungkin membuat robot-robot ini? " Tanyaku.
"Nihil, aku tidak bisa melacak dari ip nya. Ini diarahkan ke Ip palsu. Tapi saya melacak beberapa perusahaan yang sedang mengembangkan teknologi komputasi kuantum. Ada 3 perusahaan yang mengembangkan nya. " Kata Denis sambil membuka list perusahaan yang dicurigai dilayar monitor nya.
"Lalu, dari ketiga perusahaan tersebut? Perusahaan mana yang mungkin. " Tanyaku.
Aku belum bisa memastikan. Kita perlu lebih banyak bukti" Jawab Denis
"Tapi, ada kemungkinan lain". Denis menjauhkan jari-jarinya dari papan ketik.
"Apa itu? " Tanyaku agar Denis segera melanjutkan.
"Ini adalah AI curian, robot-robot AI ini menurut digital forensik telah direset ulang. Memori sebelum nya terhapus. Kemungkinan ia mematuhi pihak yang meresetnya"
"******* katamu? " Kataku dengan nada meninggi.
"Dinegara ini ada *******? " lanjut ku bertanya.
"Ya ehmm maaf, aku lebih suka bilang ******* daripada kelompok kriminal bersenjata"
"Mereka telah melakukan aksi-aksi sporadis yang terencana"
__ADS_1
"semuanya berhubungan". Lanjut Denis.
"hmm.. Ini lebih gawat daripada yang aku duga. "
"tetapi, atas dasar apa ini semua? "
"Ini belum jelas, kemungkinan karena rumor kerjasama antara perusahaan AI dengan pemerintah untuk menerapkan sistem keamanan baru untuk negara. Ini mungkin bisa berupa drone lalat atau gelang pengawasan. Walaupun ini hanya rumor, telah banyak penolakan dan kekhawatiran yang merebak di masyarakat. " Jelas Denis yang saat ini sambil menatapku.
"Ini mengkhawatirkan tau.. Apalagi saat ini sistem hukum telah menggunakan AI sepenuhnya. Akan sejauh mana manusia ketergantungan pada AI? " Kata Lisa yang berada disamping kanan Denis. Mereka satu tim.
"Kau benar. Aku sependapat padamu. Yang mengkhawatirkan adalah makna kita sebagai manusia". Kata Denis berargumen
" hmmm... " semua orang menundukkan tampak merenungkan hal ini.
Aku bersedekap sambil mengetuk telunjuk tangan kananku pada siku. Lalu aku menegakkan tubuhku.
"Baiklah !!" Aku tiba-tiba angkat bicara mengagetkan mereka semua.. hehe..
"Lalu.. Bagaimana kita akan melaporkan ke pihak kepolisian? " Tanya ku.
Mereka tampak bingung, tidak ada yang menjawab beberapa saat.
"Aku rasa hilang kan bagian ******* itu saat melaporkan, kita laporkan kemungkinan untuk tiga perusahaan ini"
"Lalu, biar mereka yang memutuskan langkah selanjutnya"
"tugas kita hanya membantu polisi melakukan digital forensik terhadap robot-robot humanoid ini"
"Ok, aku rasa sekian dulu penyelidikan kita. Kita akan laporkan kembali ke kepolisian".Aku melepaskan tanganku dari posisi bersedekap.
" Baik Pak Arfa"
Tiba-tiba Aria datang membuka pintu masuk yang terbuat dari kaca.
"Ayah, bagaimana penyelidikan nya? "
"Kita belum menemukan perusahaan mana yang memproduksi robot-robot ini"
"semangat ayah.. tidak apa-apa. Tidak perlu buru-buru"
__ADS_1
"Tidak Aria, aku khawatir kejadian ini terulang lagi"
"Jangan, khawatir ayah, aku akan berlatih bela diri. "
hmm itu saja tidak cukup.
Pikirku dalam hati.
"Baiklah aku percaya padamu. tetaplah waspada dan berhati-hati."
"Lalu, bagaimana sekolah mu" "sebentar lagi ujian kelulusan kan? "
"Jangan khawatir ayah, aku pasti bisa lulus dengan nilai memuaskan "
"tentu saja aku percaya padamu"
"Aria, ayo ikut denganku."
"Kemana ayah? "
"Ke rooftop. Kita ngobrol sejenak."
Aria mengikutiku ke rooftop. Kami memandangi bangunan-bangunan tinggi didepan kami. Terlihat menara sangat tinggi dikejauhan, menara tersebut merupakan salah satu pusat perkembangan AI di kota ini. Gedung menara itu tampak gemerlap saat malam hari seperti saat ini. Dengan fondasi berbentuk tiga bulatan yang menyatu menjadi bentuk segitiga tidak lancip , semakin keatas semakin meruncing.
"Aria, Kau ingat tentang apa yang aku katakan tentang AI?" Tanyaku pada Aria.
"iya ayah, AI yang menipu dan berpura-pura sadar. Lebih berbahaya dari kesadaran buatan."
"Benar. Ada lagi, yaitu AI pantang menyerah. Mereka akan terus menerus melakukan komputasi sampai tujuan mereka tercapai. Gawatnya jika AI jatuh atau dimanfaatkan oleh orang dengan tujuan .. jahat maksudku tidak sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati tentang AI untuk kemanusiaan. "
"Aria, aku rasa kau membutuhkan upgrade. Aku akan melakukannya setelah kau merayakan upacara kelulusan" lanjutku.
"benarkah ayah.?"
Aria tampak antusias. Ia tampak membuat ekspresi senang.
"Tentu saja, untuk perlindungan dirimu."
__ADS_1
"Baik ayah, Terima kasih. Akan aku nantikan."