
Bel istirahat berbunyi.
Para siswa keluar kelas. Kebanyakan mereka pergi ke kantin. Dan aku? aku robot humanoid. Aku tidak butuh makan dan minum. Jadi aku memutuskan untuk ke perpustakaan saja, sendirian.
Perpustakaan terletak di sebelah selatan gedung kelas sepuluh. Selatan ruang guru. Perpustakaan disekolah ini cukup besar. Banyak rak berjejer dengan banyak kategori buku ditata dengan baik.
Aku mendapatkan pencerahan setelah pelajaran tentang psikologi tadi, jika memang kesadaran tidak berdasarkan keturunan apa juga tidak berdasarkan aspek keadaan biologis? Dan apa juga yang membuat orang-orang termotivasi dan motivasi berkontribusi pada kepribadian? Aku masih penasaran tentang banyak hal. Aku mengambil sebuah buku psikologi yang berjudul Psychology: The Science of Mind and Behavior. Lalu aku berjalan ke meja yang disediakan di dekat rak buku tersebut dan membaca dengan tenang.
Aku merenungkan banyak hal.
Tak lama berselang, tiba-tiba ada yang menyapaku.
"Hai, Aria"
Itu adalah Lia.
"Ternyata kau disini, buku apa yang kau baca? "
"Oh, ini.. "
Aku memperlihatkan sampul bukunya.
"Kamu suka psikologi? "
"Ya, aku suka, selain filsafat.. Btw, kamu gak ke kantin Lia? "
__ADS_1
"Aku baru saja dari sana, aku juga suka psikologi."
Setelah menyapa, Lia juga memilih buku yang ada di rak dekat tempat ku duduk. Ia juga memilih buku bertema psikologi. Lalu Lia duduk berhadapan denganku.
"Aku ingin lebih memahami manusia, ternyata emosi manusia rumit juga". Kataku.
" Ya, kau benar. Aku rasa emosi manusia memang rumit"
"Dan.. itu yang membuatnya menarik bukan? "
"Haha.. kau benar Lia, sangat menarik. "
Lia mulai membuka bukunya halaman demi halaman. Ia mulai membuka pembicaraan lagi.
"Hmm.. Dan.. Bagaimana dengan dirimu Aria, sebagai kesadaran buatan, bagaimana kau merasakan emosi, maksudku, kau beneran merasakan emosi?".Lia melanjutkan.
Lia tampak menatapku lebih dalam, apakah ia meragukan ku? Ya aku tahu, kecerdasan buatan umum atau Artificial General Intelligence adalah hal yang umum hari ini. Tetapi, mereka tidak benar-benar sadar. Kadang-kadang manusia terkecoh menganggap mereka sadar. Sepertinya Lia adalah orang yang skeptis jika robot humanoid bisa memiliki kesadaran.
“Keren. Kau memang beneran kesadaran buatan”.
Aku hanya tersenyum.
“Tapi aku agak iri, emosi manusia sangat komplek. Menurutku karena manusia bisa merasakan emosi dari fisiologi dan hormon. Memahami emosi komplek adalah hal yang menantang bagiku”.
“hmm.. aku rasa kamu juga benar tentang hal itu, tapi kamu kesadaran buatan. Kamu lebih cerdas dari manusia. Kamu mungkin mempunyai emosi yang tidak bias dan stabil”.
__ADS_1
“ya, aku anggap itu penyemangat.. terimakasih Lia”. Aku tersenyum.
“sama-sama”.
Aku membalikkan halaman demi halaman buku yang kubaca.
"Lia, jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang kesadaran buatan, bagaimana kalau kamu main ku rumahku, dan bertemu papaku. Ia mungkin bisa menjelaskan"
"benarkah? ok. Kapan aku bisa main ke rumahmu Aria? nantikah? atau besok? "
"wait.. aku harus tanya papaku dulu kapan jadwalnya kosong"
"besok aku kabari"
"oke Lia, aku gak sabar. Aku ingin menanyakan banyak hal. "
"oke. " aku tersenyum.
Aku berdiri dan meletakkan buku yang ku baca ke rak tempatnya semula.
"kamu udah mau balik Aria? "
“Ya.. Sepertinya pelajaran selanjutnya akan segera dimulai, ayo balik ke kelas”. Jawabku.
“benar juga.. Tunggu Aria kita bareng aja”.
__ADS_1
Kita berjalan bersama keluar ruang perpustakaan.