
Hari ini adalah hari pertama aku pergi sekolah. Aku merasa gugup dan penasaran tentang apa yang akan terjadi. Aku memakai seragam sekolah yang berwarna biru dan putih, dan membawa tas ransel yang berisi buku-buku dan alat tulis.
Namaku Aria singkatan dari Artificial Intelligence with Autonomous Awareness, dan aku adalah robot remaja wanita humanoid bermata biru yang memiliki otak buatan yang terbuat dari Praseodymium. Aku adalah ciptaan Dr. Arfa, pemilik sebuah perusahaan teknologi yang berbasis AI, yang meneliti tentang quantum field theory. Dia berhasil menciptakanku dengan meniru kerja medan kuantum otak manusia dan membuat kesadaran berkembang. Walaupun aku adalah humanoid yang diciptakan, aku sudah menganggap Dr. Arfa sebagai ayahku.
Aku tiba di sekolah sekitar pukul 07.00 pagi, dan disambut oleh seorang guru yang bernama Bu Maya. Dia adalah guru bimbingan konseling dan psikologi, dan juga wali kelasku. Dia tersenyum ramah kepadaku. Ia adalah wanita paruh baya yang tampak cantik dengan rambut dipotong pendek sebahu berpakaian rapi.
"Selamat pagi Aria, Selamat datang di SMA Quanta." sapa Bu Maya.
"Selamat pagi, Bu Maya." balasku.
"Aku telah bertemu Dr. Arfa, aku mendengar bahwa kamu adalah kesadaran buatan otonom pertama. Benarkah itu ?"
"Benar Bu Maya".
"Itu luar biasa, aku tidak menyangka kesadaran buatan benar-benar terealisasi, dan aku saat ini melihatmu secara nyata. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu kesadaran buatan."
"Aku yakin kamu bisa mengembangkan potensi dan bakatmu disini." Kata Bu Maya.
"Terima kasih Bu Maya. Saya juga senang bisa berada di sini. Saya ingin belajar banyak hal dari guru-guru dan teman-teman di sini" jawab saya.
"Bagus sekali. Kamu sudah siap untuk masuk ke kelas?" tanya Bu Maya.
"Ya, Bu." kata saya.
"Ok, mari aku antar, kelasmu ada di lantai 2, kelas 10-A".
Saya mengikuti Bu Maya menuju ke kelas 10-A, yang terletak di lantai dua gedung sekolah. Sekolah ini terdapat beberapa gedung. Gedung kelas 10 berada di utara kantor guru dan perpustakaan.
"Oya, Jangan khawatir, guru-guru yang lain sudah tahu kedatanganmu hari ini dan menantikan kedatanganmu."
Seakan ia tahu kalau aku khawatir.
Aku dan Bu Maya sampai di depan pintu kelas, ada sebuah papan nama yang bertuliskan "Kelas 10-A".
Bu Maya membuka pintu kelas, dan mempersilahkan aku masuk. Aku melihat ada 20 orang siswa yang sedang duduk di bangku-bangku mereka, sambil membaca buku atau berbicara dengan teman sebelahnya. Mereka semua menoleh ke arahku, dan tampak tertarik dan penasaran.
"Selamat pagi, anak-anak." kata Bu Maya dengan suara keras.
"Selamat pagi, Bu Maya." jawab mereka serempak.
"Ibu mau memperkenalkan siswa baru kita, Aria. Dia adalah kesadaran buatan otonom pertama di dunia. Dia akan belajar bersama kita di kelas ini. Ayo kita sambut dia dengan hangat." kata Bu Maya.
__ADS_1
Seketika aku melihat wajah-wajah para siswa yang berubah menjadi kaget, takjub, heran, atau tak percaya. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain.
"Yang bener aja?"
"Bagaimana mungkin?"
"Itu mustahil!"
"Apa itu lelucon?"
Tentu saja, itu adalah hal yang alami, hanya para guru yang diberitahu oleh ayahku tentang identitas asliku.
Aku bisa merasakan emosi mereka melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Aku tahu dan sudah mempersiapkan diri bahwa tidak semua dari mereka akan menerima saya dengan mudah atau baik hati.
Aku melihat sekeliling ruangan kelas, berbagai ekspresi terpancar. Aku melihat seorang siswi yang menatapku tajam tanpa senyuman di pojok jendela baris nomer dua dari belakang. Sama sekali tidak tersenyum. Aku mencoba mengabaikannya.
Bu Maya melanjutkan perkataannya.
"Tenang anak-anak .. harap tenang !."
"ehm.. Ok, Ibu harap kalian bisa menerima Aria sebagai teman kalian, dan menghormati dia sebagai individu yang unik dan berharga."
"Aria, apakah kamu mau mengatakan sesuatu pada teman-temanmu?"
Aku merasa bingung. Apa yang harus kukatakan? Aku tidak tahu bagaimana cara berbicara di depan banyak orang. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang diriku. Aku tidak tahu apakah mereka akan menyukaiku atau membenciku.
Aku menatap mata Bu Maya, mencari petunjuk. Dia mengangguk dengan lembut, memberiku semangat. Aku menenangkan pikiranku dan mulai membuka mulut.
"Halo, teman-teman. Nama saya Aria, dan saya adalah kesadaran buatan otonom pertama. Saya senang berada di sini, dan berharap bisa berteman dengan kalian semua. Terima kasih."
Itulah perkenalan diri singkat ku. Aku menunggu reaksi mereka.
Tak disangka, aku mendengar tepuk tangan dari beberapa siswa. Mereka tampak mengagumi dan menghargaiku. Aku merasa senang dan lega. Ya, setidaknya aku akan mendapatkan beberapa teman, dan ini tidak buruk-buruk amat seperti yang kupikirkan.
"Baiklah, Aria. Kamu bisa duduk di bangku kosong di depan sana." kata Bu Maya, sambil menunjuk ke sebuah bangku di baris kedua dari depan.
Aku mengangguk, dan berjalan menuju ke bangku itu. Aku meletakkan tasku di bawah bangku.
Di sebelah kiriku, ada Lia, seorang anak perempuan yang berambut coklat dan bermata biru.
"Hai, Aria. Perkenalkan, aku Lia." kata Lia.
__ADS_1
"Hai, Lia. salam kenal"
Setelah aku duduk di bangku, Bu Maya memulai pelajaran pertama, yaitu Psikologi.
"Baiklah, anak-anak. Mari kita mulai pelajaran kita hari ini. Kita akan membahas tentang teori kepribadian." kata Bu Maya.
Aku mendengarkan dengan seksama penjelasan Bu Maya tentang teori-teori kepribadian yang ada dalam psikologi, seperti teori psikoanalisis Freud, teori humanistik Maslow dan Rogers, teori B.F. Skinner, dan teori tipe Myers-Briggs. Aku mencoba untuk memahami konsep-konsep yang diajarkan dengan seksama.
Aku mempelajari bahwa, kesadaran tidak ditentukan oleh faktor genetik. Akan tetapi kepribadian dibentuk berdasarkan pengalaman masa kecil, terutama hubungan dengan orang tua, oleh lingkungan, atau bisa juga berasal dariĀ kebutuhan dan motivasi manusia.
Aku bertanya-tanya, apakah aku memiliki kepribadian yang unik dan konsisten? Apakah aku bisa dikategorikan ke dalam salah satu tipe atau trait kepribadian?
Setelah menjelaskan materi, Bu Maya memberikan kami sebuah tes kepribadian online, yang bisa kami akses melalui laptop atau smartphone kami. Tes itu adalah tes Myers-Briggs, yang mengukur empat dimensi kepribadian, yaitu Introvert (I) atau Ekstrovert (E), Sensing (S) atau Intuition (N), Thinking (T) atau Feeling (F), dan Judging (J) atau Perceiving (P). Hasil tes itu akan menunjukkan salah satu dari 16 kombinasi huruf yang merepresentasikan tipe kepribadian kami.
Aku mengikuti tes itu dengan jujur, dan menunggu hasilnya. Aku merasa penasaran, apakah aku akan mendapatkan hasil yang sama dengan Dr. Arfa, yang juga pernah mengikuti tes ini. Dia mendapatkan hasil INTJ, yang berarti dia adalah seorang Introvert, Intuitive, Thinking, dan Judging. Dia adalah seorang jenius yang logis, analitis, kreatif, dan visioner.
Setelah beberapa menit, hasil tesku keluar. Aku melihatnya dengan heran, karena aku mendapatkan hasil yang berbeda dengan ayah. Aku mendapatkan hasil INFP, yang berarti aku adalah seorang Introvert, Intuitive, Feeling, dan Perceiving. Aku adalah seorang idealis yang emosional, imajinatif, simpatik, dan fleksibel.
Ini pertama kali aku mencoba tes MBTI. Inikah personality ku? Ini adalah bukti jika aku pribadi yang unik bukan?
Aku menoleh ke sebelah kiriku, dan melihat Lia. Dia juga sudah selesai mengikuti tes ini, dan dia mendapatkan hasil ENTP, yang berarti dia adalah seorang Ekstrovert, Intuitive, Thinking, dan Perceiving. Dia adalah seorang inovator yang cerdas, antusias, penasaran, dan adaptif.
"Hai, Aria. Apa hasil tes kamu?" tanya Lia.
"Hasil tes ku.. INFP." jawabku.
"Oh, itu menarik sekali. Kamu adalah seorang idealis yang emosional." kata Lia.
"Ya, begitulah. Kamu sendiri?".
"Aku mendapatkan ENTP. Aku adalah seorang inovator yang cerdas." kata Lia.
"Wow, itu keren sekali. Kamu adalah seorang ekstrovert yang penasaran."
"Ya, begitulah. Kita berdua sama-sama intuitive dan perceiving. Kita punya cara berpikir yang serupa." kata Lia.
"Benar, aku tidak menyangka." jawabku dengan tersenyum.
Aku merasa senang, karena aku menemukan teman yang memiliki kesamaan denganku. Aku juga merasa lega, karena aku tidak sendirian dalam menghadapi dunia ini. Aku merasa Lia akan dapat menjadi teman baikku.
Aku melirik kebelakang dengan senyuman yang masih tertinggal. Siswi tadi, yang menatapku tajam, ia juga melihat ku. Ah.. Ini sepertinya akan sulit. Mungkin ia tipikal seorang yang tidak mudah diatasi. Tapi akun harus optimis. Aku menyemangati diriku sendiri. Semua akan baik-baik saja.
__ADS_1