ARIA : Artificial Intelligence With Autonomous Awareness

ARIA : Artificial Intelligence With Autonomous Awareness
Chapter 6 : Kelompok misterius part 2


__ADS_3

Saat ini pukul 11.00 malam, hari minggu mendekati dini hari alarm keamanan gedung berbunyi. Sekelompok kriminal bersenjata menerobos gedung penelitian ArfaTech, keamanan pada malam hari cukup minim,hanya terdapat 4 keamanan. Kelompok ini berhasil mengalahkan mereka dan menerobos masuk ke dalam gedung dengan cepat. Untung seorang satpam berhasil menelepon Dr. Arfa sebelum ia juga di serang dan dilumpuhkan oleh kelompok bersenjata tersebut. 


Sementara itu, ayah dan aku sedang berada di rumah, tiba-tiba dihubungi oleh seorang satpam dengan nada panik.


Ayah segera menghubungi polisi dan meminta bantuan mereka untuk menghentikan serangan itu. 


Ayahku bergegas mencari kunci kontak mobil otonom dan berlari ke pintu depan.


Aku yang mendengar percakapan ayahku di telfon barusan segera keluar kamar


"Ayah, ijinkan aku membantu?! " aku berkata pada ayahku dengan nada tinggi.


"Tidak, tidak Aria, kau adalah terget nya tidak aman kau kesana"


"Justru itu aku tidak bisa tinggal diam saja"


"Ijinkan aku ikut" pinta ku dengan tegas.


"Haah, baiklah, ayo"


Kami ke gedung penelitian ArfaTech dengan mobil otonom yang dikendarai ayahku. Tapi ia menggunakan mode manual dan menginjak gas. 


Dengan cepat mobil melaju dan sampai di gedung penelitian ArfaTech. 


Saat kami tiba di gedung penelitian, aku melihat bahwa situasi sudah sangat kritis. Beberapa bagian gedung rusak akibat serangan kelompok itu. Ia melihat 3 satpam tergeletak dipintu masuk gedung.

__ADS_1


Tidak ada waktu. Kami harus bergegas menemukan kelompok penyusup ini. 


Kami mencoba untuk masuk ke dalam gedung, tetapi ia dicegat oleh dua robot humanoid. Robot tersebut dalam keadaan mode menyerang dan siap menyerang kapan saja.


Aku belum pernah melihat robot humanoid seperti itu yang berwarna putih polos tanpa label apapun.


Tidak tampak seperti Robot pelayan atau yang udah beredar dimasyarakat umum. Robot buatan perusahaan apa ini. Terbersit di benakku.


Aku memutuskan berada didepan ayahku berinisiatif untuk melindungi ayah.


Dengan cepat robot pertama yang ada di kanan melemparkan tinju. Aku berhasil menghindari tinjunya ke kiri. Ia menarik tinjunya berganti tendangan menggunakan kaki kiri dan mengenai ku telak diperut. Aku terlempar 2 meter. Saat mencoba bangkit ayahku mencoba melawan robot yang satunya dan juga telah terlempar. Aku berlari menerjang tinju robot di hadapanku sambil menghindar aku mendorong tubuh robot sampai terjatuh. Aku melihat ke kanan lalu berjongkok dan menendang kaki bagian bawah robot yang sedang berjalan ke arah ayahku dengan gerakan ****** beliung. Dua robot terjatuh. Aku merusak robot pertama. Ayah bergegas menembak robot ke dua. Kami berhasil.


Kami segera berlari ke dalam gedung.


"Baik ayah"


"utamakan keselamatan mu". Kami saling berbisik.


Aku segera berlari ke lantai tiga menggunakan tangga darurat. Sedangkan ayah menuju lantai dua. Sesampainya di lantai tiga aku bergegas ke ruang tengah, yang aku duga kelompok penjahat ada disitu, karena disitulah pusat penelitian AI.


Aku mengendap-endap dan mengintip dibalik tembok pintu masuk yang pintu tersebut berupa kaca transparan. Aku melihat seseorang telah memegang quantum brain dengan 3 peneliti, aku langsung tahu mereka sedang disandera. Mereka adalah Dr. Rina, Dr. Arif, dan Dr. Dian.


Quantum brain adalah kotak persegi yang didalamnya terdapat perangkat komplek termasuk chip dengan prosesor quantum yang terbuat dari Praseodymium, yang merupakan perangkat keras untuk kesadaran buatan.


Tampaknya, Ia sedang lengah, seseorang mengajaknya bicara. Aku mengendap endap dengan tidak bersuara dan menerjangnya dari belakang. 

__ADS_1


Buk.. "Ahh.. " 


Aku mendorongnya hingga terjatuh dan mengambil kuantum brain yang ia pegang.


Quantum brain terlempar. Aku bergegas berlari dan mengambilnya dan bersembunyi dibalik meja arah depanku menjauhi pintu masuk ruang penelitian. 


Mr. X mencoba bangkit. Dan mendekati meja dengan perlahan. Ia sudah cukup dekat untuk dapat melihat ku dibalik meja. Aku berdiri seakan-akan berakting untuk akan menyerah. Aku tidak bersenjata. Ia menarik pelatuk. Aku menganalisa gerakannya sepersekian detik dan berhasil menghindar. Ia mencoba menarik pelatuk lagi. Tiba-tiba ayahku muncul dari belakangnya dan menodongkan pistol tepat di kepalanya. Ia tidak bisa bergerak. 


"Cepat menyerah. Angkat tangan diatas kepala.! "


Kelompoknya yang mendengar teriakan ayahku bergegas menghampiri. 


Satu orang muncul dari belakang ku. Ternyata ruangan ini mempunyai dia pintu yang bisa diakses dari kedua sisi. 


Ia menodongkan pistol ke arahku. 


Tidak akan kubiarkan. Aku menunduk dengan cepat. Ia menarik pelatuk peluru melesat ke lantai. Aku menendang kearah belakang tepat ke arah dagunya dan sebelum ia benar-benar terjatuh, aku buru-buru mengambil pistol nya dan menodongkan nya balik ke arah nya saat ia terjatuh ke lantai. Ia tidak bisa berkutik. 


"Siapa kau? " teriak ayahku.


"Kau tidak ingat siapa aku? "


Ayahku meningkatkan kewaspadaan nya. Mr. x menoleh kesamping kanan menampakkan pipinya.


"Kau..? "

__ADS_1


__ADS_2