
Hari berganti hari. Aku menjalani hari-hari disekolah dengan ceria dan menjadi diriku sendiri. Aku semakin mempelajari banyak hal. Banyak orang menganggap diriku adalah orang yang penyabar. Padahal aku rasa itu karena emosi ku sebagai kesadaran buatan yang stabil. Aku kadang memikirkan cita-citaku. Apa cita-citaku ya? Berkontribusi untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia dan robot sepertinya tidak buruk. Dan robot? aku rasa robot yang punya kesadaran seperti ku spesifikasinya , itu kalau ada yang sepertiku dimasa depan.. Haha tapi rasanya sangat idealis.
Tak terasa 2 tahun telah berlalu, aku telah belajar di SMA ini bersama teman-temanku. Dan kami semua akan segera lulus lalu melanjutkan mengejar cita-cita masing-masing.
Hari ini, tidak seperti biasa, aku pulang sekolah jalan kaki bersama teman-teman, mereka adalah teman satu kelompokku saat proyek multidisiplin yang diadakan akhir semester di kelas 2. Mereka adalah Lia, Alex, Lila dan Roni. Mereka hebat dalam bidang masing-masing.
Kami mengenang proyek karya ilmiah terakhir kami.
Sebuah aplikasi yang kami namai Mindful, kami membuatnya dengan menggunakan teknologi AI, psikologi, dan desain. Kami membagi tugas-tugas dalam proyek ini menjadi beberapa bagian, sesuai dengan kemampuan dan minat kami masing-masing.
Alex ia pandai pemrograman, cyber security dan teknik hacking.
Lia sangat meminati psikolog.
Roni berbakat dalam bidang musik.
Lila berbakat dalam bidang desain.
Kami berlima membuat aplikasi mobile tersebut untuk kesehatan mental. Pekerjaan kelompok kami mendapatkan hasil yang memuaskan.
Kami berjalan santai sambil membicarakan hal-hal yang kami sukai tersebut, menuju ke arah halte bus. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mendekati kami dan beberapa orang bertopeng keluar dari dalam mobil. Mereka mencoba untuk menarik ku ke dalam mobil.
"Tidak!! Siapa kalian? "
"Diam! Kau menurut saja! "
Ini aksi yang gila.
Aku berusaha lepas dari dekapannya dengan menendang perutnya sebelum dekapannya bertambah kuat, dan berhasil, dua orang lagi dalam mobil keluar untuk mencoba menangkap ku lagi. Teman-teman ku terpaku sesaat dan Alex berteriak.
"Aria..!! "
"Kita harus lari! Ayo" Teriak Alex.
Kami berlari, dikejauhan aku melihat pos polisi. Pos polisi tersebut berada sebelum halte.
Kami terus berlari.
__ADS_1
Aku menengok kebelakang.
Mereka? Kemana mereka? Sepertinya mereka melarikan diri.
Syukurlah.
"Kalian tidak papa?" Kataku sambil memperlambat langkah kaki.
"Baik-baik saja." Kata Lia dengan Ngos-ngosan.
"Kamu sendiri? "
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. " jawabku.
“Siapa mereka Aria? kau punya musuh kah selama ini? " Kata Alex dengan nada tinggi dan wajah serius.
“tidak tahu, aku merasa tidak pernah punya musuh.” jawabku sambil menggelengkan kepala perlahan.
“Kau harus segera menghubungi ayahmu!" Kata Lia khawatir.
"Ya baiklah terimakasih teman-teman" respon ku dengan tersenyum.
"Tidak masalah." Kata Alex singkat.
Saat di dalam bis. Alex meyakinkan dirinya sekali lagi.
"Aku rasa ini masalah serius"
"Kau mau diculik. ! " Alex berkata dengan tegas dan khawatir.
"Yakin kau tidak punya masalah dengan siapa-siapa? " Tanya Alex.
"Aku yakin! " aku sudah mengingat ingatnya.
Bus otonom berhenti di halte dekat gang yang mengarah ke rumahku. Diseberang jalan adalah kantor perusahaan pusat riset ayahku. Rumahku kira-kira dua blok menyusuri gang ini dari jalan raya.
Kita sampai di rumahku.
__ADS_1
"Kalian tidak masuk dulu? "
"Tidak, maaf tapi aku harus segera pulang agar orang tuaku tidak khawatir." Kata Lia
"Aku juga. " Kata Alex diikuti yang lainnya.
"Ok terimakasih teman-teman".
"Sama-sama Aria. Jaga dirimu baik-baik. Sampaikan jumpa. "
Setelah membuka pintu aku bergegas berlari menuju pelukan ayah.
"Ada apa Aria? "
Ayah menatap wajahku dengan khawatir
"Ayah, aku tadi hampir diculik."
"Hampir diculik? Kau tidak apa-apa? Bagaimana wajah mereka? "
"Aku tidak melihat wajah mereka, mereka semua pakai topeng."
" Ayah yakin tidak punya musuh?" Tanya ku dengan mendesak.
"Tunggu dulu, aku ingat-ingat, sejauh yang aku ingat.. Tidak ada.. Ayah tidak ada musuh."
"Aria, tenangkan dirimu, ayah akan menyelidiki ini!"
Aku pun mencoba bersikap tenang.
"Baiklah ayah. "
"Aria, kau harus lebih berhati-hati. Jangan pulang naik transportasi umum. Tetap pakai mobil otonom yang aku sediakan. "
"Baik ayah. Jangan khawatir. Aku akan waspada." Kataku sambil tersenyum meyakinkan.
Hari berganti dan sudah 3 hari sejak insiden itu, dan hari ini hari minggu. Aku di rumah bersama ayahku.
__ADS_1