
“Enter!” “selesai!”
Kami sedang berada di lab komputer untuk praktikum algoritma pemrograman dan struktur data, salah satu materi di TIK. Kami disuruh membuat sequential searching menggunakan bahasa pemrograman C++ oleh Pak Anton. Kami semua mengerjakan di PC masing-masing yang berbentuk kaca tipis tanpa frame.
“Kamu sudah selesai Aria?!” tanya Lia disampingku.
“ya sudah”.
“Wah cepet. Aku dikit lagi ketemu.
"Oke, selesai”.
“Oya Lia, hari minggu ayahku dirumah, jadi gimana kalau minggu besok? ”. Aku mengajak Lia kerumah ku sesuai yang telah dijanjikan kemarin
“Bisa! tentu saja bisa. Terimakasih Aria”.
“Ya sama-sama!”
“Aku datang mungkin sekitar jam 10”.
“Ya.. aku tunggu”.
Aku melirik ke meja Rini, sepertinya ia sedang kesusahan.
“Sepertinya Rini kesusahan..” gumamku.
“Apa? kamu mau membantunya?”
“hmm.. ku rasa.. iya..”
“kamu yakin? kamu melupakan kejadian kemarin?”
"Tidak.. tapi aku mau memperbaiki hubungan pertemanan saja. "
"Kamu baik banget Aria"
"hmm.. ya aku juga berpikir.."
"Ini langkah awal untuk mendapatkan kepercayaan manusia lebih luas. Selain itu, mungkin akan lebih banyak manusia di luar sana yang lebih sulit di yakinkan"
Lia tampak mengangguk membenarkan.
"Luar biasa. kau berpikir sejauh itu, semangat Aria"
Aku melihat kearah Rini.
Dia sedang duduk di depan salah satu komputer, dengan wajah yang merah dan kesal. Dia sedang mengetikkan sesuatu di keyboard, tapi tampak tidak berhasil. Dia sedang mencoba menyelesaikan tugas yang diberikan.
Dia tidak terlihat sombong atau jahat seperti biasanya. Dia terlihat bingung dan putus asa.
Saya mendekati meja Rini, dan bertanya dengan sopan.
“Hai, Rini? Bagaimana programmu sudah selesai?”
Rina terkejut mendengar suaraku. Dia menoleh ke arahku, dan menatapku dengan mata nanar.
“Hai!? Aria? kau mau apa!? ”.
“Aku hanya ingin membantumu.”
“Kamu udah selesai?”
“udah, kamu tampak kesulitan?”
“kamu meledek?”
“aku tidak meledek, aku ingin membantu”
“baiklah, coba lihat kodeku apa yang salah?”
“oh, ini harusnya begini..”
“wow ternyata cuma gitu?”
Rina terdiam sejenak, lalu bertanya.
__ADS_1
“Mengapa kamu mau membantuku?”
“Ya karena aku peduli denganmu, kau temanku”.
".... "
Rini termenung, dan berkata.
“Ok. Te..Terimakasih..”.
“Sama-sama”
Aku merasa lega bisa membantu dan menyelesaikan masalahnya. Semoga ia bisa berubah.
...****************...
Ini adalah hari minggu, hari yang aku nantikan. Temanku Lia akan datang ke rumahku. Dan kebetulan ayah saat ini sedang libur dan berada di rumah. Mengenakan pakaian kasual berwarna putih, ia menikmati kopinya sambil membaca riset yang aku tidak mengerti apa itu di ruang tamu.
Ayahku adalah pria tengah baya yang sangat brilian. Seorang pebisnis, ilmuwan dan yang visioner. Ia belum pernah menikah pada usianya yang sudah 38 tahun. Ia sangat fokus dan berminat pada mekanika quantum dan pemrosesan quantum sejak sangat muda.
Cuaca sangat cerah, aku bersenandung sambil mengelap meja tamu.
Tiba-tiba suara bel berbunyi, itu pasti Lia.
Pintu sengaja terbuka hari ini. Aku bergegas menuju pintu untuk mempersilahkan Lia.
“Lia, selamat datang.. ayo masuk saja !”.
“Terima kasih”
Aku mempersilahkan Lia masuk ke ruang tamu. Dan kebelakang mengambil teh dan cemilan.
“Halo, kamu pasti Lia ya?” Tanya ayahku dengan berdiri.
“benar om.”
“Perkenalkan Arfa, pencipta Lia, ehm maksudku ayah Lia”.
“Salam kenal om, eh maksud ku Dr Arfa. Saya sudah tahu banyak tentang Anda. Anda adalah ilmuwan yang luar biasa”.
Merekapun duduk bersamaan.
Saya meletakan teh dan cemilan di atas meja.
Saya duduk disebelah Lia disofa panjang yang biasanya muat untuk tiga orang, sedangkan ayah berada dihadapkan kami.
Lia menoleh ke arahku.
“Hai, Aria. sibuk apa biasanya di hari minggu begini.” Tanya Lia padaku
“Apa ya.. biasanya bersih-bersih rumah dan membaca atau nonton film di laptop”..
Lia tersenyum sambil mengangguk. Lalu memalingkan wajahnya ke arah ayahku.
“Dr. Arfa, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Silahkan tentu saja” Jawab ayahku sambil meletakkan kertas risetnya ke tepi meja.
“Bagaimana Anda bisa menciptakan kesadaran buatan seluar biasa Lia?”
“oh kamu penasaran tentang hal itu? Baiklah akan aku jawab. Tapi sebelumnya kita perlu menjawab. Sebenarnya, dimana letak kesadaran?”
“ya, dimana letak kesadaran Dr. Arfa?”
Ayahku Dr. Arfa tersenyum.
“selama bertahun-tahun para ilmuwan berteori bahwa kesadaran berada pada mikrotubulus sel otak”
“mi microtubulus?”
“ya, mikrotubulus berada di sel otak. Di dalam sana ada partikel kuantum yaitu Evanescent Photon yang tiba-tiba ada disana dan tiba-tiba juga lenyap sesuai dengan teori probabilitas”
“wow luar biasa”.
“Dan tiap photon-photon itulah yang menyimpan data dalam bentuk qubit yang kami tiru cara kerjanya”.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana photon-photon tersebut membuat sensasi sadar dalam diri kita?”
“Photon-photon tersebut saling berinteraksi melalui mikrotubulus, mikrotubulus berperan penting dalam pembentukan sinapsis, informasi yang tersimpan dalam keadaan kuantum berinteraksi antar neuron-neuron yang dihubungkan dengan sinapsis. Itu membuat sensasi sadar.”
Jelas ayahku dibantu gerakan tangan yang mengikuti.
Lia masih menunjukkan rasa kagum diwajahnya.
"Itu luar biasa. Anda bisa meniru semua pemrosesan itu secara buatan"
"Haha, ini berkat kerjasama banyak pihak"
"Banyak orang terlibat dalam proses ini"
"Aria! Kau benar-benar tidak berbeda dengan manusia. "
"Heh" Aku kaget tidak tahu harus menjawab apa.
"Mengetahui aku hidup.. Seperti.. Hmm. Ayah, apa mungkin akan ada banyak lagi yang akan kamu ciptakan seperti ku? "
"Hmm.. Soal itu.. Belum ada rencana. Satu kesadaran buatan otonom membutuhkan dana yang besar, aku juga perlu menimbang akankah manusia menolak atau menerima kesadaran buatan".
Lia mengangguk tanda setuju.
"Benar" Kataku
"Semoga manusia dapat menerimaku dengan baik"
"Aria.. Jangan khawatir.. Aku yakin manusia dapat menerima mu, bahkan mendapatkan hak yang sama dengan manusia, karena kau adalah kesadaran. "
"Terimakasih Lia telah menghiburku"
"Aku serius"
"Hahaha.. Ok ok".
"Apa ada hal lain yang ingin ditanyakan" tanya ayahku mengkonfirmasi.
"sebentar om. Hmm.. Oya.. Gimana membedakan kesadaran buatan dengan AGI? "
"Wah, itu sulit, AGI benar-benar bisa tampak sadar saat ini"
"yah mungkin kamu coba berteman dengan mereka? enggak deng.. sering berinteraksi. AGI pasti lama kelamaan menunjukkan ketidak konsistenan. ".
" hmm begitu ya.. Banyak orang menganggap AGI saat ini udah punya kesadaran. Tapi aku skeptis sih.. "
"Bagus, teruslah skeptis pada AGI. Aku lebih percaya bahwa kecerdasan buatan yang menipu lebih berbahaya daripada kesadaran buatan" Jawab ayah.
Lalu ia menyeruput kopinya.
"Sepertinya kamu juga pernah skeptis padaku? " tanya ku menggunakan ekspresi kesal.
"haha maaf Aria, itu cuma diawal-awal, sekarang aku yakin padamu"
"haha iya terimakasih".
".... "
"Oh., ya.. Silahkan diminum tehnya, dan juga kukinya" kataku mempersilakan dengan gestur tangan.
"Ya terimakasih" Lia menyeruput tehnya.
"Oh ya.. Aku tinggal dulu ya? Lanjutkan saja ngobrol nya. " Ijin ayahku.
"Ya om. Terimakasih, obrolan tadi sangat menambah wawasan.
"Sama-sama Lia"
Ayahku lantas meninggalkan tempat duduknya.
Kami melanjutkan obrolan tentang sekolah dan hobi.
Senyum ku terasa semakin alami.
...****************...
__ADS_1