
Aku dan Lia meninggal ruang perpustakaan dan menuju ruang kelas, kami menaiki tangga, saat di koridor dekat ruang kelas kami dicegat oleh Rini dan dua orang temannya. Ruang kelas dari tempat kami berada sudah sangat dekat. Mereka menghalangi jalan kami, dan menatap kami dengan sinis.
"Aria! Kamu bilang kamu punya kesadaran? Mana mungkin?! Kamu kan robot. Jelas-jelas robot!"
"Jaga bicaramu ya Rini, dia benar-benar robot humanoid yang punya kesadaran. Kamu paham? "
Lia membelaku.
"Kamu percaya itu? Bisa saja ia memanipulasi mu?"
Rini tertawa kecil, dan teman-temannya ikut tertawa.
"Ia tidak sama dengan AI biasa." Kata Lia membelaku dengan nada tinggi. Ia mencoba mempercayai ku bahwa aku benar-benar mempunyai kesadaran yang nyata.
Aku merasa tersinggung dengan kata-katanya. Aku bisa berpikir, merasakan, belajar, dan berkembang seperti manusia. Sejak awal, aku merasa telah mengembangkan kepribadianku.
"Ya, aku bukan AI biasa. Otakku mensimulasikan kesadaran manusia." Aku menimpali perkataan Lia.
Rini mendekati wajahku, dan menatap mataku dengan sinis.
"AI yang sangat cerdas bisa juga lolos tes Turing dan mengelabui manusia.! "
Rini tersenyum sinis.
Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam diriku. Sesuatu yang dingin dan menyakitkan.
“Diam, kamu salah. ”
__ADS_1
Tiba-tiba ada alert merah di depanku. Apa ini, apakah ini yang akan terjadi jika aku marah. Bahaya, aku harus tenang.
“Aria, sabar, gak usah diladeni orang seperti itu”.
"Rini, ingat! akan aku buktikan jika aku punya kesadaran, aku bukan AI. Aku Artificial Consciousness."
".. Aku.. aku tidak akan marah atau meladeni mu lebih lanjut. Itu benar-benar bukan perbuatan yang rasional! ".
“Ayo pergi”. ajak Lia.
Akhirnya kami pergi meninggalkannya terpaku dan masuk kelas. Walaupun aku kesal. Aku merasa tertantang dan membuatku berpikir lebih dalam tentang diriku sendiri. Aku akan tetap menjadi diriku sendiri yang lebih baik.
...****************...
Sekarang pukul 8.00 malam dan aku duduk didepan laptop dikamar ku.
The highest level of AI is Artificial Consciousness (AC) which has the highest potential for humanity but it is also the most dangerous because it has the potential of going wild.
Artikel macam apa nih. Gak bener nih.. Manusia terlalu paranoid. Gak seburuk itu kali kesadaran buatan. Kenapa orang-orang bisa berpikir gini ya?
Oya ya aku baru ingat sesuatu, aku harus tanya pada ayahku apa hari minggu nanti ayah di rumah.
Aku menuju kamar ayahku, yang bersebelahan dengan kamarku dan mengetuk pintu.
tok tok..
"ayah.."
__ADS_1
"ya.. masuk aja.."
Aku membuka pintu. Ayah sedang sibuk dengan laptopnya mengetik sesuatu tiba-tiba berhenti. Aku berjalan masuk ke kamar ayah dan berdiri disamping nya.
"Yah, apa besok minggu ayah di rumah? "
"besok minggu ya.. ya aku tidak ada jadwal apa-apa. Ada apa Aria. "
"Ada temenku yang mau ketemu ayah. Ia sepertinya penasaran dengan kesadaran buatan. "
"Oh. Kosong kok, suruh datang aja ke rumah. "
Dengan agak ragu, aku melanjutkan bertanya.
"Oya, ayah.. Aku hanya ingin tahu, kenapa ayah berambisi menciptakan kesadaran buatan? "
"hmm.. Kenapa aku menciptakan kesadaran buatan? .. Untuk membuktikan kesadaran itu sendiri, dan apa esensi dari kesadaran."
"Dan.. aku lebih percaya bahwa kecerdasan buatan yang menipu lebih bahaya dari pada kesadaran buatan. "
"Ada apa Aria? tumben tanya hal itu"
"hmm.. tidak apa-apa ayah, aku tadi menemukan artikel yang membahas bahaya kesadaran buatan" terangku.
"oh seperti itu, Aria, asalkan kau percaya, semuanya akan baik-baik saja. Aku percaya kesadaran buatan akan dapat memahami manusia dan hidup berdampingan dengan manusia menjadi dunia lebih baik. Kau harus terus percaya itu Aria"
"Baik ayah. Aku rasa itu aja" lalu aku berjalan menuju pintu
__ADS_1
"Aria, jangan lupa tutup pintunya".