
Acara kelulusan telah usai, dan saat ini menunjukkan pukul 14.00. Sebelum pulang, teman-teman sekelas ku memutuskan untuk berkumpul dulu untuk sekedar bercengkrama dan mengucapkan salam perpisahan. Kami berkumpul di dekat lapangan sekolah depan gedung Aula sekolah.
"Teman-teman, bagaimana kalau kita makan-makan dulu sebelum beneran berpisah? " Kata Rani dengan nada tinggi kepada semua orang yang berkumpul.
"Ya, setuju.. " beberapa anak laki-laki menyahutnya.
"ayo kita makan kemana? "
"Aria, kamu harus ikut ya? "
"Ya, tentu saja. Jangan khawatir. "
"mantap"
"Ok, bagaimana kalau ke Resto sana, daerah kulineran jalan lingkar utara kota. Di sana ada Spaghetti lezat. "
"Ok setuju. Gas.. " Seorang anak laki-laki bernama Anderson menyahut.
Kami menuju rumah makan menggunakan mobil otonom. Aku tidak naik mobil otonom ku. Aku memilih menumpang mobil otonom milik Lia saja. Setiap mobil otonom bisa muat sampai 4 orang.
Sesampainya di resto, aku melihat sekeliling ku. Resto ini cukup luas dan kami bisa memilih mau duduk lesehan atau berada di meja makan yang disediakan. Kami telah sepakat duduk di lesehan saja, dengan meja panjang setiap meja cukup 6 orang. Sebelum duduk kita sudah disamperin humanoid AI yang ramah mengucapkan salam dan mempersilahkan tempat duduk. Setelah duduk kami juga disamperin robot humanoid AI yang mencatat pesanan kami. Ini bukan restoran cepat saji pada umumnya, jadi bayarnya bisa belakang. Restoran disini sudah serba robot AI humanoid.
Saat semua makan, aku mengingat Kenangan-kenanganku sebelum nya. Aku melihat Rani. Dulu ia tidak percaya aku adalah robot humanoid yang sadar. Sekarang kita berteman baik.
"Aria, mau aku ceritain rasa makanannya? " Kata Rani dengan nada meledek.
__ADS_1
"Hah? Gak terimakasih. Ya aku yakin itu enak.. " Kataku agak kesal
"Haha.. becanda Aria, Tapi beneran ini enak. "
Aku mengalihkan pandangan ku pada Lia. Aku lihat Lia sedang menikmati spagetti nya.
"Lia, kau mau ngapain selanjutnya.. " Tanyaku tiba-tiba pada Lia.
"hemm.. bentar.. Aku.. mau ngelanjutin studiku di psikolog". Jawab Lia sambil buru-buru menelan makanannya.
"Mantap.. Semangat Lia.." Jawabku menyemangatinya dengan tersenyum.
Kami ngobrolin banyak hal seputar kenangan dan cita-cita. Sekitar jam 17.00 sore kami pulang.
Waktunya pulang, aku memutuskan untuk pulang naik kendaraan umum. Sambil menikmati suasana kota.
"Gak perlu, aku mau naik bis otonom saja? " Jawabku.
"Lo kenapa? enakan kami antar".
"Gak, terimakasih aku cuma mau menikmati suasana kota, jarang-jarang lihat-lihat kota"
"Kamu yakin? kau sendirian lo"
"Yakin. Gak masalah.. "
__ADS_1
"Oke Aria, Hati-hati. Sampai jumpa Aria"
"Ok sampai jumpa semua.. "
Jalan ini merupakan jalan satu arah yang mengarah ke pusat kota. Jalan yang cukup sempit dan hanya hanya bisa dilalui 2 jajar mobil otonom. Yah mungkin disengaja dibuat begini, karena ini pusat kuliner. Aku perlu melewati gang sempit untuk menemukan bis otonom yang mengarah ke jalan rumahku.
Gang sempit yang aku lewati kontras dengan jalan tadi. Disini cukup kotor dan gelap, beberapa tunawisma tampak tertidur di pinggiran gang. Diapit gedung-gedung tinggi aku merasa harus berjalan cepat kalau lewat sini.
Kesenjangan tampak nyata di negara liberal yang maju ini. Seandainya ada sesuatu yang bisa aku lakukan. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun saat ini. Perkembangan teknologi membuat kesenjangan begitu terasa. Dikota, semua tampak gemerlap. Bagaimana dipinggiran dan diluar pusat kota?
...****************...
"Aku pulang.. " Ucapku sampai rumah sambil menutup pintu.
"Aria, selamat datang.. Gimana acara kelulusan nya"
"Kamu bersenang-senang? "
"Ya, aku senang ayah". Jawabku sambil berjalan mendekati ayahku.
"Ok, berarti kamu besok dapat upgrade ya. "
"Ya.. "
Tiba-tiba ada orang yang mengetik pintu. Itu Pak Erwin, teman ayahku, Pak Erwin seorang politikus anggota legislatif dari partai Sosialis Egalitarian datang.
__ADS_1
"Aku ke kamar dulu ayah.. " ijinku.