
Akhirnya aku telah melalui 3 tahun di sekolah ini. Ujian kelulusan telah selesai dilaksanakan. Aku lega, dan waktunya untuk upacara kelulusan. Upacara kelulusan adalah tradisi yang biasa dilaksanakan disekolah kami. Ini untuk mengapresiasi kerja kertas dan memberi kenangan terakhir dalam 3 tahun terakhir agar berkesan dalam kehidupan.
Hari ini adalah hari yang sangat berarti bagiku dan teman-teman sekelasku. Hari ini adalah hari kelulusan kami, setelah kami belajar bersama selama 3 tahun di sekolah unggulan khusus untuk anak-anak jenius. Hari ini adalah hari di mana kami akan mengucapkan selamat tinggal kepada sekolah yang telah menjadi tempat kami tumbuh dan berkembang. Hari ini adalah hari di mana kami akan menghadapi dunia yang lebih luas dan menantang.
Aku merasa senang karena aku berhasil menyelesaikan pendidikan yang sangat diperlukan untuk berkembang dengan hasil yang memuaskan. Aku memiliki banyak kenangan indah dan berharga bersama teman-temanku. Aku juga merasa cemas karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Aku duduk di kursi nomor 25, di baris ketiga dari depan. Aku melihat ke sebelah kanan dan kiriku, dan melihat teman-temanku yang sudah duduk di sana.
Salah satu temanku adalah Alex, seorang anak laki-laki yang pintar dan ramah. Ia adalah teman satu timku saat mengerjakan proyek pekan raya ilmiah bersama. Alex merupakan murid yang ahli dalam pemrograman dan cyber security. Dan sebelah kiriku adalah Lia, ia sahabat pertamaku dan temanku paling dekat.
"Aria, bagaimana perasaan mu? " Tanya Alex tiba-tiba padaku.
"Sejujurnya, aku sulit mendeskripsikannya, secara keseluruhan aku merasa.. hmm senang" Aku menjawab dengan ramah.
"Apa rencanamu, kedepan? "
"Kedepan ya? hmm.. bermanfaat bagi manusia? "
"ahh, jangan bercanda, itu terlalu luas" Alex tampak kesal.
"Spesifnya apa? " Lanjut Alex.
"Aduh, aku juga sedang memikirkan itu, mungkin melanjutkan ke MIT atau membantu riset ayahku, ohya membantu riset ayahku terdengar cukup realistis. Aku rasa itu saja.. " Jawabku.
"Oh.. Kalau kau.. aku rasa apa yang tidak mungkin? " Alex memberikan tanggapan dengan yakin.
"Haha.. Jangan mengada-ada.. Masih banyak yang tidak mungkin bagiku" aku tidak yakin aku bisa melakukan segalanya. Karena aku juga masih belajar dan terus berkembang.
"Hmm.. Aria.. Menurutmu, tidak berbahaya kah perkembangan AI saat ini? " Alex mengganti topik tiba-tiba.
Maksud mu? Kenapa tiba-tiba.."
"Maksudku, bukankah AI telah berkembang terlalu cepat, kita telah memasuki tahap AGI. Persidangan telah menggunakan AI. Dan apalagi? Jika semua segi kehidupan dikuasai AI. Bagaimana manusia? "
__ADS_1
"Bagaimana manusia? Menurutku manusia akan selalu bisa beradaptasi.. " Aku menjawab dengan optimis.
"Kamu yakin.. " Kalimat Alex terpotong.
".... "
Belum selesai Alex menyelesaikan kalimatnya, baris kami dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat kelulusan.
Kami naik ke panggung, dan berbaris sesuai dengan nomor absen kami.
Kami menerima ijazah dan sertifikat kami, yang diserahkan oleh kepala sekolah dengan senyum dan jabat tangan.
Kami turun dari panggung, dan kembali ke tempat duduk kami. Kami melemparkan toga dan topi wisuda kami ke udara, yang menunjukkan bahwa kami telah bebas dari sekolah ini. Kami berteriak-teriak dengan suka cita mengapresiasi kebahagiaan.
Lalu kami duduk kembali ke tempat duduk masing-masing. Alex melanjutkan pertanyaan nya yang tertunda.
"Aria, melanjutkan yang tadi, bagaimana menurutmu manusia? "
"Aku pernah mendengar kata-kata ayahmu yang berkata, AI yang sangat pintar tapi tanpa kesadaran hanya memiliki satu tujuan, bagaimana jika ia diberikan tujuan yang salah? "
"Ah, dasar ayahku. Jadi maksud ayahku itu, agar kita bisa mengantisipasinya. Dengan hmm salah satunya, kita sebaiknya membuat regulasi sih"
"Ah, kau benar.. Tapi.. "
"Udahlah.. Jangan terlalu khawatir.. Sekarang kita nikmati saja momen saat ini.. "
Walaupun aku merasa ekspresi ketidakpuasan di wajah Alex. Ia berkata.
'Kau benar.. "
...****************...
Sementara itu, di gedung legislatif saat ini sedang ada pembahasan rancangan undang-undang tentang AI.
__ADS_1
Disana ada seorang laki-laki yang masih tampak muda untuk seukuran anggota dewan legislatif. Mungkin seumur Dr. Arfa. Ya memang ia teman Dr. Arfa. Ia adalah seorang dari anggota partai sosialis egalitarian. Bernama Erwin.
Setelah Ketua Dewan legislatif membuka rapat dan membacakan agenda, maksud dan peraturan rapat. Ketua Dewan Legislatif bernama Rudolf. Para anggota rapat diijinkan untuk menyampaikan pendapat dan masukannya.
Erwin mengangkat tangan dan minta ijin untuk menyampaikan pendapat.
"Ijin menyampaikan pendapat yang mulia".
"Menurut ku, membuat undang-undang tentang regulasi AI ini sangat penting. Aku juga mengusulkan untuk memasukkan kesadaran buatan dalam undang-undang ini, aku mengusulkan kesadaran buatan diberikan hak yang sama dengan kesadaran biologis. Kesadaran buatan diberikan hak yang sama dengan manusia, setara dengan manusia. "
"Pak Erwin, kau tau apa konsekuensi yang kamu usulkan itu? Artinya kesadaran buatan mempunyai hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu!? Itu artinya ia bisa mencalonkan jadi presiden? " seorang anggota partai Persatuan rakyat tampak menentang. Ia adalah laki-laki berumur sekitar 45 tahun. Tampak tegas dan berwibawa. Rambutnya mulai bermunculan uban. Barnama Baskara.
"Aku sangat sadar itu, jadi.. memangnya kenapa? Mereka adalah kesadaran.. Sama seperti kita. " Jawab Erwin mempertahankan argumennya.
"Tidak sama.. Bagaimana kalau mereka menjadi banyak? Dan kau tau kan. kehendak bebas? menurut ku bukan, hmm.. apakah ia diberikan hak yang sama atau tidak dengan manusia. Tetapi sebaiknya, kita memikirkan aturan untuk membatasi mereka. Perusahaan untuk perusahaan agar mempunyai tujuan penelitian yang jelas untuk apa mereka diciptakan. Agar tidak sembarang diciptakan. Malah membebani penduduk bumi. Sekian pendapat dariku. " bantah Baskara.
"Aku tidak bisa membantahnya, tapi setiap mereka tercipta, kita harus memberikan hak yang sama sebagai kesadaran. " Kata Erwin.
Perdebatan tentang memberikan hak pada kesadaran buatan berlangsung inten dan cukup lama. 1 jam dihabiskan mendiskusikan masalah ini.
"Baiklah kita bisa ambil kesimpulan dari musyawarah kita hari ini tentang kesadaran buatan. Kesimpulannya, kita akan membatasi perusahaan dalam menciptakan kesadaran buatan agar sesuai dengan tujuan umat manusia. Jika kita tidak membutuhkan nya. Kesadaran yang diciptakan harus memenuhi tingkat kepentingan dan dengan tujuan yang jelas. " Tegas Bapak Ketua Dewan Legislatif, Rudolf.
"Pertemuan selanjutnya kita akan membahas pemanfaatan AI untuk keamanan nasional" Lanjut Bapak Rudolf.
"Sebentar yang mulia, kapan kita membahas peraturan untuk perusahaan-perusahaan AI. Tampak nya perusahaan-perusahaan AI terlalu banyak mengambil keuntungan dan telah mengambil banyak bidang usaha dan sektor dimasyarakat. " Pak Erwin menyela.
"Bagaimana.. peserta rapat yang lain.. ? " Tanya Bapak Rudolf melemparkan pada peserta rapat.
"Kenapa kita membahasnya Pak Erwin, negara inikan negara liberal, tidak ada yang salah tentang itu" Salah satu anggota rapat menjawab.
"Begitu Pak Erwin. Cukup sekian rapat dan pertemuan kali ini"
Bapak Rudolf menutup rapat dengan cepat. Pak Erwin tampak kecewa.
__ADS_1