
Ayahku menodongkan pistol ke arah Mr. X. Mr. x menoleh ke kanan secara perlahan.
“Kau ?” Ayahku kaget dan heran.
“Max.. Max Antoine ?” Ayahku bertanya dengan nada tinggi karena kaget.
“Heh! Ternyata kau masih mengingat aku Arfa!?”
Max berbalik menghadap ayahku. Ia mencoba menurunkan tangannya.
Mereka saling berhadapan. Suasana menegang. Ayahku seperti bisa menarik pelatuk nya kapan saja. Aku berharap ia tidak menarik pelatuk nya sebelum polisi datang.
“Jangan bergerak.!!” Gertak ayahku dengan keras sambil menodongkan pistol.
“Kau? apa yang kau pikirkan? apa maksud semua ini? bukankah dulu kita satu tim?”
“haha” Max tertawa ia mulai membuat ekspresi serius. Ia menarik napas.
“Itu semua karena kau!? Kau berhasil menciptakan suatu hal yang dapat merubah dunia? Kenapa kau? ” Dengan berteriak dan mata melotot.
“kenapa tidak membagikannya pada dunia?”
“Apa maksudmu? Kau menginginkan aku untuk menjualnya bukan? itu yang kau pikirkan? sudah aku katakan. Itu tidak akan terjadi!” Jawab ayahku dengan teriakan pula.
"Tentu saja, ada banyak peminat di luar sana! "
"Bahkan badan pertahanan akan meminati karyamu. Kesadaran buatan. Itu sangat luar biasa. " Lanjut Max.
"Jadi kau berniat mencuri riset untuk kekayaanmu? "
__ADS_1
“Tentu saja. Lalu apa tujuanmu jika bukan kekayaan ?”
“Kurang ajar! Jangan pikir aku seperti kau. Aku udah cukup. Tidak ingin lebih...."
“Sangat naif dan idealis!” Max berteriak dan memotong kalimat ayahku.
“Diam, cepat katakan siapa yang menyuruhmu? Kemana kau akan jual?! Siapa bosmu?!”
“Tidak akan aku katakan!!” Tegas Max.
“Apa katamu”! ayahku menegang. Ia masih dalam posisi membidik kepala Max.
Sementara itu, tiga mobil polisi telah datang di depan gedung. Para polisi keluar dari mobilnya dan bergegas masuk ke pintu depan gedung penelitian.
“Aku tanya sekali lagi Arfa! Apa tujuanmu membuat kesadaran buatan?”
“Haha, kau bercanda? Jau pikir perusahaan-perusahaan AGI diluar sana tidak menggunakan idealisme seperti itu?”
“Apa yang membedakan mu dari mereka?”
Polisi telah memasuki ruang penelitian.
“Polisi! Jangan bergerak! Jangan bergerak!!”
Polisi segera meringkus Max dan anak buahnya yang aku tahan dalam keadaan tiarap. Dua polisi memborgol anak buah Max yang aku lumpuh kan.
Saat tangan Max terborgol dan dua polisi menggiringnya. Max dan ayah berpapasan sangat dekat.
“Kebijaksanaan! Ambisi manusia tanpa batas. Tanpa kebijaksanaan ilmu pengetahuan akan menghancurkan kemanusiaan sendiri” Kata ayahku dengan lirih kepada Max.
__ADS_1
Polisi berhasil menangkap 3 lagi anggota kelompok yang bersembunyi. Kelompok ini berhasil di tangkap semua oleh polisi. Mereka berjumlah 5 orang.
Aku segera menghampiri ayah dan memeluknya.
"Kau tidak papa Aria"
"Tidak papa ayah"
"Ayah luar biasa.. " Sebenarnya aku ingin mengungkapkan lebih banyak kata tapi kepala polisi misi ini menghampiri kami.
"Maaf Pak Arfa dan .. "
"Aria.. " Jawab ayahku yang melanjutkan perkataan polisi itu.
"Ya nona Aria. "
"Kalian harus ikut kami ke kantor polisi untuk kami mintai keterangan"
"Dimintai keterangan? " Tanyaku coba mengelak.
"Ya. Ini prosedur kepolisian. " Jawab polisi tersebut.
Aku baru sadar. Ini kejadian besar. Tentu saja polisi merasa perlu menanyai kami sebagai saksi.
"Baiklah" kami menjawab bersamaan dengan kompak. Kami pun mengikuti rombongan polisi tersebut walaupun sudah tengah malam. Sepertinya aku besok akan tidak masuk sekolah.
Kami memberikan keterangan apa adanya tanpa ditambah atau dikurangi. Hari sudah pagi saat kami harus pulang ke rumah. Sialnya banyak wartawan sudah menunggu diluar.
Darimana mereka tahu semua kejadian ini. Dimana ada kejadian, selalu ada wartawan yang mengikuti. Ini masih sangat pagi. Aku rasa ayah sangat capai. Tapi, banyak sekali wartawan nya. Kalau begini, indentitas sebagai kesadaran buatan bisa tersebar secara nasional!
__ADS_1