ARIA : Artificial Intelligence With Autonomous Awareness

ARIA : Artificial Intelligence With Autonomous Awareness
Chapter 8 : Wartawan


__ADS_3

Sebagai kesadaran buatan, aku juga bisa lelah mental dan butuh menstimulasi kesadaran ku secara alami dan natural tanpa skenario. Atau yang biasa manusia sebut bermimpi atau tidur. Dan saat ini kami di hadapan oleh banyak wartawan, ada sekitar 8 wartawan berkumpul menghadang kami.


Jepret.. Jepret..


"Dr. Arfa, Dr. Arfa.. Permisi.. Apa Anda benar-benar telah berhasil menciptakan kesadaran buatan? "


"Apa tujuan Anda menciptakan kesadaran buatan"


Para wartawan berdesakan untuk bertanya.


"Bentar-bentar, satu-satu". Dengan lambaian tangan mendorong ke depan mengisyaratkan agar para wartawan sedikit tenang dan agak mundur.


"Ya benar. Saya berhasil menciptakan kesadaran buatan. Ia aku anggap sebagai putriku, Aria. Apakah berbahaya? Tentu tidak, saya menjamin, kesadaran buatan layaknya manusia, bisa berkembang karena dididik. Bisa mengalami pengalaman subjektif, bisa mengambil keputusan secara independen. " Ayahku menerangkan.


"Bagaimana Anda bisa yakin tentang hal itu? " Seorang wartawan wanita mendesak bertanya dengan menyodorkan mic.


"Karena kita manusia, dan kita sadar. Apa sebutan kita sebagai manusia? Homo Sapiens. Manusia bijaksana. Saya tidak akan mengatakan semua manusia bijaksana. Tetapi saya percaya, sebuah entitas yang sadar. Akan dapat mempelajari kebijaksanaan. Dan akan dapat menggunakan pengalaman untuk dirinya sendiri agar menjadi lebih bijaksana. " ayah menjelaskan dengan suara jelas dan meyakinkan. Ia menghela napas sejenak. Dan melanjutkan.


"Jika ada manusia yang bisa jahat, aku lebih memilih manusia bisa menjadi baik, jika ada entitas kesadaran yang bisa jahat. Aku lebih memilih ia bisa menjadi baik"


Para wartawan termenung sejenak.


"Aria.. Aria.. " Sekarang giliranku ditanyai wartawan.


"Bagaimana rasanya.. hmm maksudku.. ya.. bagaimana rasanya menjadi sadar? " Seorang cewek wartawan menyodorkan ku mic.


"Aku tidak mengerti maksud pertanyaan ini.. tentu saja sama seperti kalian.. dengan sedikit perbedaan.. Misalnya.. hmm aku belum tahu rasa teh.. "


Aku melirik ke arah ayahku..


"Aku harap dimasa depan aku mendapatkan upgrade untuk mencicipi rasa".

__ADS_1


Beberapa wartawan tertawa..


*Sudah ya.. "


"Dr. Arfa, pertanyaan sekali lagi.. Mungkinkah dimasa depan Anda akan menciptakan kesadaran buatan lainnya? "


"Jawaban singkat ku, mungkin. Aku harap ada aturan yang mendukung dan meregulasi nya. Dan.. Aku yakin kehidupan antara robot dan kesadaran buatan yang berdampingan akan tercipta"


"Bagaimana dengan AGI, apakah mungkin juga hidup berdampingan. "


"Yah.. Kita sudah hidup berdampingan dengan AGI. Tetapi mereka? .. tidak memiliki pengalaman subjektif. Aku rasa.. Baik untuk jadi asisten.. Tapi kita harus membatasi perkembangannya "


Ayah menarik ku, Ia mencoba menerobos para wartawan dan menuju ke mobil otonom kami yang terparkir didepan polsek tidak jauh dari pintu depan.


"Pak Arfa.. "


"Dr.Arfa.. "


"Kenapa Anda mengatakan.."


"Apa yang perlu dikhawatirkan.. ."


Ayah tidak mempedulikan mereka.


Lalu aku dan ayah memasuki mobil otonom ku dan pergi meninggalkan para wartawan tersebut.


"Aria, kau boleh tidak sekolah hari ini. Nanti akan aku kirim e-mail pada wali kelasmu"


"Baik ayah" jawabku singkat.


Akhirnya kami sampai rumah.. dan aku bisa membiarkan otakku quantum ku bersimulasi secara liar, tak terkontrol dan bebas. Tentu saja tidur adalah salah satu hal yang menyenangkan bagiku.

__ADS_1


...****************...


Dimalam hari saat jam prime time ayahku menyalakan TV. Dan bisa ditebak, acara TV isinya tentang kami.


Pembahasan para narasumber di televisi meliputi:


"Kesadaran buatan? Mana mungkin? Apa iya bisa menyaingi Tuhan sehingga membuat nyawa? "


"Kau harus bersikap terbuka. Sepertinya kita harus mendefinisikan ulang apa itu jiwa dan kesadaran"


"Tidak mungkin, jiwa adalah roh yang ada pada manusia! "


"Aku rasa ini adalah singularitas teknologi, yang akan berkembang secara eksponensial dan tidak terkontrol, saat ai sudah memiliki kehendak bebas, segala kemungkinan bisa terjadi"


"Termasuk kemungkinan untuk kemajuan umat manusia kan? Kita bisa mencapai kemajuan lebih cepat dengan bekerja sama".


"Apa kita perlu memikirkan hak asasi kesadaran buatan? "


...****************...


Di pagi harinya saat disekolah. Aku menjadi pusat perhatian. Lia selalu menghawatirkan ku. Sedangkan Rini sering menyindiriku.


"Ciye.. yang jadi terkenal dan masuk TV? dibahas tiap hari.."


Aku anggap itu cara ia becanda kepadaku, sebagai tanda keakraban. Setelah 2 tahun bersama. Aku dan Rini semakin akrab. Ia telah mengakui bahwa aku adalah kesadaran buatan. Aku mempunyai kesadaran.


Banyak permintaan wawancara mulai berdatangan. Aku pernah memenuhi undangan wawancara 1 kali. Sisanya aku tolak. Tidak peduli bagaimana pun. Itu melelahkan.


Intinya, aku semakin terkenal. Banyak orang semakin kenal tentang ku. Apakah ini langkah untuk mengkampanyekan kesadaran buatan tidak berbahaya dan berpartisipasi dalam kemajuan dan perdamaian dunia? Atau sebaliknya akan menjadi ancaman yang berbahaya terhadapku? Aku mulai merenungkan hal semacam itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2