
Nada menghentikan laju mobilnya tatkala akhirnya mobil yang ia kemudikan sampai di depan sebuah bangunan rumah tingkat dua dengan papan besar di depannya yang bertuliskan menerima kos putri,
Andini dan Meli pun begitu mobil berhenti tampak langsung bersiap turun, sementara Sari yang tidur sepanjang perjalanan mereka bangunkan,
"Eh sudah sampai?"
Tanya Sari sambil mengerjap-ngerjapkan matanya,
Namun, saat Sari akan membuka matanya sepenuhnya, tiba-tiba saja ia terlonjak kaget,
"Hah!"
Ia bahkan sampai kepalanya terbentur kaca mobil, yang jelas saja membuat teman-temannya heboh,
"Ada apa sih Sar?"
Tanya beberapa dari Meli dan Mia nyaris bersamaan, sementara Andini yang duduk persis di samping Sari tampak bingung karena Sari menatap Andini dengan tatapan takut,
"Sar... Sariii... whoi!"
Nada menabok Sari sambil sedikit naik ke kursinya agar bisa melongok ke kursi baris kedua di mana Meli, Andini dan Sari duduk,
"Hah... Hah... apa?"
Sari malah macam orang keder, ia celingak-celinguk membuat semua temannya jadi kesal,
"Huuuu... dasar Sari, akting pasti,"
Kesal Meli,
Tapi Andini tak merasa begitu, ia melihat kedua mata Sari yang ketakutan menatapnya tadi seperti takut sungguhan,
Ia benar-benar dalam kondisi takut yang sangat, hingga membuat Andini jadi penasaran namun sekaligus takut juga sebenarnya Sari kenapa,
"Udah yuk turun, kasihan tuh cacing Nada sudah pada nyanyi,"
Kata Meli sambil membuka pintu mobil, yang bersamaan dengan itu tiba-tiba Meli merasakan ada aroma seperti bunga kuburan yang melewatinya hingga tercium dengan jelas,
Sejenak Meli tertegun, dengan posisi tangan masih memegangi pintu mobil, ia tampak bengong,
"Mel, mau turun tidak?"
Andini menabok bahu Meli,
"Eh Ndin, kamu barusan cium bau kayak bunga kuburan tidak? Itu bunga yang kalau ada orang meninggal,"
Ujar Meli,
Tampak Andini menatap Meli bingung, pun juga yang lain, terutama Sari,
"Barusan jelas sekali baunya macam lewat depan hidung pas aku buka pintu mobil,"
Ujar Meli lagi menambahkan,
"Ooh, mungkin sekitar sini baru aja ada yang meninggal,"
Kata Mia menanggapi, yang kemudian disetujui oleh Nada,
"Bener, palingan baru ada orang meninggal,"
__ADS_1
Tambah Nada pula, semakin meyakinkan,
Merasa itu masuk akal, Meli pun lantas turun dari mobil, disusul Andini dan juga Sari yang masih seperti berusaha menyimpan sesuatu yang tak ingin ia ceritakan sekarang,
"Thank's yah Na..."
Kata Meli, Andini dan Sari kompak manakala sudah turun dan kini Nada bersiap untuk jalan lagi,
"Daaa..."
Mia melambaikan tangannya dari mobil, sementara Nada melajukan kembali mobilnya dan dalam sekejap mobil pun menjauh pergi,
Meli, Andini dan Sari berjalan bersama menuju pagar rumah kos mereka,
Penjaga kos, Mang Abdul terlihat sedang main catur dengan temannya sambil minum kopi,
Ketiga gadis itupun masuk ke dalam, melewati Mang Abdul yang hanya menyambut kedatangan mereka dengan senyum ala kadarnya saja,
"Gerah, aku mau mandi ah,"
Kata Andini sambil berjalan cepat menuju kamarnya yang berada paling sudut,
Andini kebetulan memang mengambil kamar paling baru di kos itu, termasuk juga ia adalah pegawai baru di tempat kerjanya di agen travel, juniornya Sari dan Meli yang tiga tahun lebih dulu bekerja di sana,
Sementara, Meli dan Sari berada dalam satu kamar kos yang sama, yang hanya selang satu kamar saja dengan kamar Andini,
Kamar Andini, selain di sudut juga berada di depan lorong yang untuk menuju dua deretan kamar mandi, dan dua deretan lagi toilet, ruang cuci baju dan juga ruang terbuka untuk menjemur,
"Aku mah pengin masak mie,"
Kata Meli begitu Andini sudah lebih dulu pergi menuju kamarnya,
"Boleh tuh Mel, aku nitip dibuatkan dong, nanti bikinnya pake stok mie dan telur ayam milikku saja, tidak apa-apa,"
Kata Sari,
Meli pun menyambut senang sambil mengacungkan jarinya,
Mereka lantas menuju kamar mereka sendiri lebih dulu, Meli begitu sampai kamar, langsung saja lepas-lepas baju hingga hanya menyisakan daleman saja,
Sari yang melihat tampak memalingkan wajahnya, padahal sudah beberapa kali Sari mengingatkan Meli agar jangan ganti pakaian di kamar selagi ada Sari juga di dalam,
"Kamu tuh susah sekali dibilangin lah Mel,"
Kesal Sari yang memilih berjalan ke meja yang ada dekat tempat tidur untuk meletakkan tas kecil yang baru saja dipakainya,
Meli sedang berdiri di depan lemari memilih baju tidur untuk ia kenakan menggantikan baju yang baru saja ia lepas,
"Susah apa sih Sar?"
Tanya Meli tanpa merasa bersalah sama sekali, membuat Sari yang sibuk melepas sepatu tampak mendengus,
"Kalau di kamar ada orang janganlah suka buka baju sembarangan,"
Kata Sari,
"Lah kamu mah, kan sama-sama perempuan ini,"
Sahut Meli,
__ADS_1
"Ya tetap saja tidak boleh, kalau kata Ibuku, itu yang kadang bikin setan nempel di kaum perempuan juga, yang pada suka sesama perempuan,"
Ujar Sari,
"Haiiish, nakutin,"
Meli melempar salah satu kaos yang ia tarik dari lemari ke arah Sari,
"Lah emang iya,"
"Ya tidaklah Sar, aku tahu kamu normal,"
"Ya kalau kamu kebiasaan begitu, trus bukan aku yang sekamar sama kamu, takutnya akan kejadian,"
Kata Sari,
Meli pun bergidik, ia lantas cepat-cepat meraih daster dan kemudian memakainya,
"Kamu ingat kan Andini dikejar-kejar Virla,"
Kata Sari menyebut nama teman satu kos mereka yang kini telah pindah,
"Iya, udah ah jangan bahas itu, ngeri ingat cerita Andini pas itu,"
Kata Meli,
"Makanya, jangan ngulang kesalahan Andini, dia pikir karena semua cewek di kos, bisa seenaknya saja pakai pakaian, tidaklah, semua harus ada aturan,"
Ujar Sari, dan Meli pun mantuk-mantuk,
Setelah memakai daster, Meli pun lantas bersiap untuk keluar kamar karena akan memasak mie instan,
Namun, tiba-tiba saja, karena mereka membahas Andini, entah kenapa Meli jadi ingat ekspresi Sari saat di mobil tadi,
"Oh, iya Sar,"
Meli akhirnya berbalik dan lebih dulu mendekati Sari,
"Kamu tuh tadi, sebetulnya kenapa?"
Tanya Meli akhirnya,
Sari mengerutkan kening,
"Kenapa apa?"
Sari balik bertanya, belum konek sebetulnya Meli akan membahas apa,
"Itu tadi, waktu di mobil, kamu kenapa seperti takut melihat Andini,"
Mendengar kata-kata Meli, seketika Sari pun jadi ingat kejadian saat di mobil, saat ia baru akan membuka matanya setelah tidur di sepanjang perjalanan,
Sari sejenak tampak bergidik, lalu...
"Aku sekilas bukan melihat Andini, tapi perempuan dengan wajah tertutup rambutnya yang panjang,"
Dan tentu saja, Meli jadi terlonjak,
"Perempuan rambut panjang menutupi wajahnya?"
__ADS_1
Meli mengulang, bayangan di kepalanya kembali ke saat ia sedang menonton film lalu tanpa sengaja melihat ke arah Andini dan melihat sosok yang sama dengan penuturan Sari.
...****************...