Arwah Penasaran Andini

Arwah Penasaran Andini
8. Kak Risa


__ADS_3

Malam telah benar-benar larut, sementara hujan turun rintik-rintik membasahi bumi di luar sana,


Kak Risa, perempuan itu tampak begitu lelap tertidur, begitu lelapnya sampai tak merasa ada angin berhembus kencang masuk ke dalam kamar dari celah-celah ventilasi,


Angin itu membawa aroma wangi daun pandan khas orang yang baru meninggal, disertai aroma bunga kenanga dan juga melati,


Sekian detik, aroma itupun seolah memenuhi kamar, dan tak lama setelah itu...


Hiks... hiks... hiks...


Terdengar suara perempuan menangis sedih, suaranya begitu pilu menyayat hati,


Semula suara itu hanyalah terdengar sayup-sayup saja, seperti berada di luar kamar,


Suara tangisan perempuan itu semakin lama semakin terdengar jelas, hingga kemudian mampu membangunkan Kak Risa yang tidur macam kebo kecapekan,


Kak Risa mengerjap-ngerjapkan matanya, sembari mengumpulkan nyawanya yang bertebaran, ia mencoba memasang dengan baik kedua telinganya,


Siapa pula yang menangis di malam selarut ini? Batin Kak Risa bertanye-tanye,


Hiks... Hiks... Hiks...


Suara itu kembali terdengar jelas, seperti ada di depan pintu kamar Kak Risa,


Aroma daun pandan khas orang yang baru mati yang bercampur dengan bunga kenanga dan melati itupun sempat membuat nyali Kak Risa menjadi ciut,


Otaknya mulai berpikir tentang Andini, gadis yang dipacari adiknya dan baru saja ditemukan mati bunuh diri,


Tapi...


Ah tidak! Tidak mungkin dia sampai ke rumah ini, ini pasti anaknya si Mbok yang baru datang dari kampung untuk ikut bekerja, kenapa dia? Tidak betah? Atau apa? Batin Kak Risa mencoba menghalau pikiran horornya.


Hiks... hiks... hiks...


Suara itupun kembali terdengar, saat di mana Kak Risa tengah mencoba meyakinkan dirinya jika itu adalah anaknya si Mbok yang merupakan asisten rumah tangganya,


Kak Risa pun lantas duduk di atas tempat tidur, ia menghela nafas,


Sepertinya ia harus keluar kamar dan memastikan siapa sebetulnya yang menangis,


Kak Risa baru akan menggerakkan kakinya untuk turun dari tempat tidur, manakala ia tiba-tiba mendengar suara tangisan perempuan itu seperti berpindah ke dalam kamar,


Tentu saja, hal itu seketika membuat Kak Risa pun terkejut,


Kenapa jadi berpindah ke dalam kamar? Kak Risa mulai ketar-ketir, karena jelas kini suara tangisan perempuan itu bukanlah suara dari manusia biasa, yang dengan mudah bisa berpindah-pindah,


Kak Risa celingak-celinguk waspada, meski wajahnya sudah menyiratkan ketakutan yang mulai menguasai dirinya,


Hiks... hiks... hiks...

__ADS_1


Suara tangisan itu semakin jelas dan dekat, bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengar suara seperti ketukan jari di kayu papan tempat tidur,


Tuk... tuk... tuk...


Kak Risa sejenak terdiam mematung, yang ia lakukan hanya menunduk menatap ke arah tempat tidurnya,


Hiks... hiks... hik...


Tuk... tuk... tuk...


Suara itu terdengar terus, yang kini jelas ada di bawah tempat tidur,


Ya, di kolong tempat tidur Kak Risa, dan itu seketika membuat Kak Risa pun gemetaran luar biasa,


Tidak!


Ini tidak mungkin, tidak ada satupun manusia di rumah ini yang berani masuk ke dalam kamar Kak Risa selama tidak ada ijin darinya,


Apalagi jika hari telah semalam ini, sudah jelas pintu kamar ia kunci, dan tak ada satupun manusia yang akan bisa masuk selama kunci itu tidak Kak Risa buka,


Kriieeeeet... kriiiieeeet...


Suara ketukan jari itu kini berubah menjadi seperti kuku-kuku jari yang mencakar papan kayu penyangga tempat tidur yang kini Kak Risa berada di atasnya,


Hiks... Hiks... Hiks...


Tangisan itu terdengar pula, berselang-seling dengan suara kuku yang mencakar kayu papan,


Posisi ia yang melompat dengan terburu-buru membuat kakinya terkilir dan tentu saja sakit,


Kak Risa terjatuh dan dalam posisi yang demikian, jelas saja ia jadi bisa melihat ke arah kolong tempat tidurnya, di mana di sana kini terlihat ada sesosok perempuan berambut panjang tengah menatapnya,


Perempuan itu kemudian menyeringai, wajahnya yang pucat pasi meskipun terlihat samar karena masih berada di dalam kolong tempat tidur tetap terlihat begitu menakutkan bagi Kak Risa,


"Ka... kau... ba... bagaimana ka... kau bisa ke si... sini?"


Kak Risa tergagap, takut setengah mati saat menyadari jika perempuan itu wajahnya persis dengan gadis yang ia marahi dan ia caci maki karena tak sadar akan kelasnya hingga berani memacari adiknya,


Bukan hanya memacari, namun juga meminta dinikahi karena telah berbadan dua,


Cih!


Akal busuk perempuan sekarang yang ingin hidup bagaikan Cinderella, menjadikan tubuhnya sebagai alat penjerat laki-laki kaya agar bisa menikahinya,


Kak Risa begitu muak, namun kini juga kemuakkan itu bercampur dengan rasa takut,


Kak Risa bergerak memaksakan diri berdiri, ia membawa langkahnya dengan susah payah untuk menuju pintu kamar,


"Kak Risa, mau ke mana Kak Risa? Aku datang Kak... Jangan pergi dulu... Hihihihi... hihihihi..."

__ADS_1


Sosok perempuan di dalam kolong tempat tidur Kak Risa yang berwajah Andini itupun lantas merangkak pelahan keluar dari kolong tempat tidur,


"Kak... Kak Risaaaa..."


Andini memanggili Kak Risa,


"Di... diam... diam ka... kau!"


Kata Kak Risa pada Andini yang kini berdiri di tempat tidur Kak Risa sambil menatap Kak Risa dan menyeringai,


Sementara itu, Kak Risa yang takut Andini akan melukainya, kini dengan tangannya yang gemetaran berusaha membuka kunci kamarnya, tapi anehnya kunci kamar itu susah sekali untuk dibuka,


Berulangkali Kak Risa terus mencoba membuka kunci pintu tersebut, namun terus saja gagal, dan itu membuat Andini cekikikan,


"Hihihihi... Hihihihi..."


Andini lantas melayang pelahan mendekati Kak Risa,


"Kak... Perutku sakit Kak... Perutku sakit Kak..."


Kata Andini sambil mendekati Kak Risa,


"Diam! Diam di sana! Jangan mendekat!!"


Bentak Kak Risa pada Andini,


Tapi Andini seolah tak peduli, ia terus mendekat, hingga Kak Risa terjebak di dekat pintu, sambil tangannya yang gemetaran hebat berusaha terus membuka kuncinya,


Namun, karena tangannya gemetaran, pegangan tangannya pada kunci pun jadi tidak maksimal, Kak Risa bukannya berhasil membuka kunci pintu tersebut, malah ia menjatuhkan kuncinya ke lantai,


Kak Risa buru-buru berjongkok untuk mengambil kunci yang jatuh, namun bersamaan dengan itu di lantai kamarnya, tiba-tiba terlihat ada darah,


Darah itu mengalir dari Andini, mengalir diantara kedua kakinya yang mengambang tak menapak lantai,


"Aah... Sakit Kak... Sakiiit Kak, hiks hiks hiks..."


Andini menangis, yang kemudian tiba-tiba ia menjerit keras,


Kak Risa yang kini sudah benar-benar di puncak ketakutan akhirnya terduduk lemas, dan memilih ngesot ke arah belakang hingga mentok ke dinding,


Matanya tampak menatap Andini yang kini berdarah-darah dari arah kedua kakinya, yang tiba-tiba...


Sesosok bayi kecil terjatuh ke lantai, bayi berlumuran darah yang matanya mendelik ke arah Kak Risa...


"Dia keponakanmu Kak, gendong dia... gendong dia... Hihihihi... hihihihi..."


Kak Risa menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Tidak... Tidak... Tidaaaaaaaaak!!!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2