
Kak Risa berteriak sekuat tenaga sambil berusaha bangun dari posisinya,
Namun, tubuhnya terasa begitu berat, bahkan mulut pun rasanya kini untuk berteriak saja sulit,
"A... a... a..."
Kak Risa menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri,
Sosok Andini kini tampak membungkuk, tangannya yang kurus meraih bayi kecil yang berlumuran darah untuk di berikannya pada Kak Risa,
Perempuan itupun semakin ketakutan, ia terus berusaha menolak,
"Tidak... kumohon, tidak... tidak..."
Kak Risa sampai menangis sangking takutnya,
Andini makin cekikikan,
"Hihihi... hihihihi..."
Kak Risa kembali berusaha bangun dari posisinya, dan...
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar, suaranya begitu keras hingga membuat Kak Risa terperanjat,
"Hah... Hah..."
Kak Risa membuka matanya, terbelalak melihat langit-langit kamar yang kini terlihat samar karena lampu kamar dipadamkan,
Kak Risa dengan nafas yang masih ngos-ngosan tampak bangun dari posisinya berbaring,
Astaga, mimpi apa aku?
Kenapa aku mimpi anak itu?
Batin Kak Risa heran, tampak tubuhnya bergidik ngeri, saat terbayang jelas di matanya gambaran mimpinya yang terasa begitu nyata,
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan itu semakin keras,
Kak Risa menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya karena mimpinya yang begitu menyeramkan,
"Ya... siapa?"
Tanya Kak Risa dengan suara sedikit kesal,
Siapa pula malam-malam begini mengetuk pintu kamarnya,
Apa mungkin Ibu?
Kak Risa pun turun dari tempat tidur, ada kengerian tersendiri manakala ia menapakkan kakinya ke atas lantai kamar,
Terbayang bagaimana sosok itu ada di kolong tempat tidurnya, merangkak keluar lalu tiba-tiba saja ia berdarah-darah mengeluarkan seorang bayi,
Ngeri terus mengingat apa yang ia lihat di dalam mimpinya, Kak Risa cepat menyalakan lampu kamarnya,
Melihat kamar terang, membuatnya sedikit tenang,
"Risa! Risa!!"
Dan benar, suara Ibu di luar kamar kini akhirnya terdengar memanggil,
Kak Risa pun cepat melangkah ke arah pintu dan membuka kuncinya untuk kemudian dibukanya pintu kamarnya tersebut,
Tapi...
Kosong!
Tak ada siapapun di sana, Kak Risa celingak-celinguk, mencari sosok Ibunya yang baru saja memanggil-manggil dirinya dan mengetuk pintu kamarnya dengan keras,
Ke mana Ibu?
__ADS_1
Batin Kak Risa heran,
Dan saat kemudian ia melihat ke ujung lorong lantai dua, tampak seseorang seperti berjalan berbelok ke arah anak tangga,
Seseorang yang dari belakang sepertinya adalah Ibunya,
"Buuuu... Ibuuu,"
Kak Risa pun ganti memanggil Ibunya,
Karena sang Ibu tak berbalik dan malah sepertinya tetap turun ke lantai satu, akhirnya Kak Risa pun mengejar Ibunya,
Tentu Kak Risa khawatir jika Ibunya sebetulnya membutuhkan sesuatu atau apa,
"Buuu... Ibu,"
Kak Risa memanggil Ibunya yang begitu ia sampai di lantai satu kini di sana terlihat kosong dan sepi,
Ke mana Ibu? Batin Kak Risa lagi,
Apa mungkin ke dapur?
Kak Risa pun akhirnya menuju ke arah dapur,
Namun saat ia baru saja akan melangkah menuju dapur, tiba-tiba saja dari arah anak tangga, terdengar suara Ibunya memanggil,
"Ris,"
Kak Risa yang terkejut tampak menoleh ke arah tangga, dan tampak Ibunya kini berjalan turun dari sana,
"Kenapa kamu panggil-panggil Ibu dari lantai satu?"
Tanya Ibu,
"Ibu, tadi..."
Kak Risa celingak-celinguk lagi, ia terlihat kebingungan, karena jelas tadi ia melihat Ibunya berbelok ke arah tangga dan turun ke lantai satu,
"Tadi Ibu ketuk-ketuk pintu kamar dan panggil aku kan?"
Tampak Ibu menggeleng,
"Justeru Ibu mau tanya, kamu tadi membangunkan Ibu tapi kemudian keluar kamar lagi itu maksudnya apa?"
Ibu malah balik tanya, wajahnya terlihat kesal,
Kak Risa jelas saja tambah bingung,
Bagaimana sih Ibunya ini? Jelas-jelas dia yang ketuk-ketuk pintu dan memanggil-manggil dari luar kamar, begitu pintu di buka dia malah pergi.
Namun, belum lagi Kak Risa mengatakannya, tiba-tiba terdengar suara seperti perempuan menangis di lantai dua rumah,
Suara tangisan yang seperti sayup-sayup saja, namun jelas arahnya adalah dari lantai dua,
Ibu dan Kak Risa pun kemudian saling berpandangan, jelas dalam benak mereka kini bertanya-tanya tentang hal yang sama,
Hiks... Hiks... Hiks...
Suara tangisan itu semakin lama semakin seperti terbawa angin, seperti menjauh lalu tak terdengar lagi,
Kak Risa dan Ibu yang semula seperti mematung karena bingung harus berbuat apa tampak lekas saling mendekatkan diri,
Mereka menatap lantai dua di mana kamar mereka semua ada di sana,
"Kamu dengar kan Ris?"
Tanya Ibu lirih,
Kak Risa menganggukkan kepalanya, wajahnya kini telah pucat karena takut,
Suara itu begitu mirip dengan suara tangisan Andini di dalam mimpinya,
Suara tangisan yang begitu sedih, namun juga sekaligus menakutkan bagi Kak Risa,
__ADS_1
"Sepertinya dari lantai dua rumah, tapi jelas di sana tak ada perempuan selain kita kan Ris?"
Ibu kembali bertanya, membuat Kak Risa semakin takut karena pertanyaannya,
Apalagi...
"Andini, dia bunuh diri ya Ris?"
Dalam kondisi seperti itu, Ibu malah bertanya pula soal Andini, dan membahas bagaimana ia mati,
"Bu, kenapa membahas Andini?"
Kesal Kak Risa jadinya, jelas-jelas ia sudah sangat ketakutan, malah ditambah pula oleh Ibunya,
"Bagaimana Ibu tidak bahas, tadi kan kamu dengar sendiri,"
Kata Ibu,
"Ya tidak usah mengaitkan dengan Andini, Bu,"
Kesal Kak Risa bertambah-tambah,
"Memangnya kenapa?"
Ibu malah balik tanya lagi, membuat Kak Risa makin sewot rasanya,
"Ya Tuhan Bu, pakai tanya pula,"
Kak Risa menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Kamu takut dengan Andini?"
Tanya Ibu,
"Memangnya Ibu tidak takut? Ibu juga kan ikut memarahi dia, bagaimana jika saat dia akan gantung diri, dia juga dendam pada Ibu,"
Kata Kak Risa,
"Siapa? Siapa yang dendam pada Ibu?"
Tiba-tiba terdengar seseorang bertanya dari arah belakang Kak Risa,
Cepat Kak Risa sontak menoleh, dan betapa ia kaget melihat Ibunya berdiri di sana,
"Ib... Ib..."
Kak Risa tergagap,
Ia pun dengan takut-takut menoleh lagi ke arah semula, dan...
Kosong!
Tak ada siapapun di sana,
Kak Risa jelas saja langsung melompat ke arah Ibu yang tadi bertanya,
"Ada apa sih Ris?"
Tanya Ibu bingung,
Kak Risa masih belum bisa mengatakan apapun pada Ibunya, manakala Ibu mengomel lagi,
"Kamu tadi kenapa? Teriak-teriak berisik, diketok pintunya, begitu buka pintu malah ngeloyor ke lantai satu dan jalan terus ke belakang, Ibu kira kamu kesurupan,"
Kak Risa menatap Ibunya dengan bingung,
"Risa? Ke belakang?"
Tanya Kak Risa,
Ibu menganggukkan kepalanya,
"Iya, kamu tadi, begitu buka pintu, malah ngeloyor saja, Ibu ikuti ke belakang tidak ada, ini malah ngobrol sendirian di tangga,"
__ADS_1
Ibu geleng-geleng kepala, dan...
...****************...