Arwah Penasaran Andini

Arwah Penasaran Andini
17. Tolong


__ADS_3

Hari begitu gelap, meski malam belum tiba. Andini tampak berjalan di jalanan yang sepi, yang di mana kanan kirinya adalah perkebunan yang ditanami pohon-pohon Akasia,


Andini terus berjalan, ia terus menyusuri jalan yang seolah tak berujung tersebut, hingga...


Terdengar suara perempuan meminta tolong, suaranya sayup-sayup terdengar dari kejauhan,


Andini sejenak menghentikan langkahnya, ia tampak memperhatikan sekeliling,


"Tolong... Tolooong... ampuuun..."


Suara itu kembali terdengar, seolah memecah keheningan di tengah suasana yang begitu mencekam,


Andini pun mempercepat langkahnya, hingga kemudian ia melihat ada jalan setapak di sebelah kanan jalan yang ia lalui,


Jalanan setapak itu masuk ke dalam kebun Akasia,


Andini kembali menghentikan langkahnya, saat ia kini kembali mendengar suara perempuan yang meminta tolong namun suaranya semakin lirih,


Merasa takut namun juga merasa terpanggil karena kasihan, Andini pun akhirnya melompat ke arah jalanan setapak yang menuju masuk ke arah kebun Akasia,


Andini pun setengah berlari melalui jalanan setapak tersebut, sambil matanya terus mengawasi sekitarnya,


Dan...


Sekitar tiga ratus meter dari sejak ia masuk ke jalanan setapak di perkebunan tersebut, tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki yang tengah mengikat perempuan yang telah tak sadarkan diri,

__ADS_1


Perempuan yang mungkin tadi meminta tolong itu tangannya diikat ke belakang, dan kedua kakinya juga diikat,


Di dekat mereka, ada seperti sumur tua yang sudah berlumut, tak jauh dari sana juga ada pondok kayu yang sudah lapuk karena sepertinya tak pernah lagi dihuni siapapun dalam waktu yang lama,


Andini tampak gemetaran melihat semuanya, kedua kakinya bahkan sampai lemas hingga nyaris tak bisa berdiri,


Hingga kemudian, tampak laki-laki itu menyeret perempuan yang sudah tak berdaya dan kedua tangan serta kakinya diikat ke arah sumur tua,


Begitu sudah benar-benar dekat dengan sumur tua, perempuan yang tangan kakinya terikat itupun tubuhnya diangkat, lalu dibuang ke dalam sumur tua,


Andini ternganga tak percaya, saat semua kejadian yang begitu mengerikan itu dilihatnya dengan jelas,


"Ti... tidak... aku... apa yang harus aku lakukan... aku... aku harus menolongnya,"


Andini tampak terbata-bata sambil berjalan terhuyung,


Laki-laki itu, wajahnya entah kenapa rasanya dikenali oleh Andini, wajah yang sekilas lalu seperti tak terlalu asing, namun entah di mana Andini melihatnya,


Hingga kemudian laki-laki itupun berjalan menjauhi sumur tua di mana di dalamnya ada perempuan yang kaki dan tangannya diikat,


Laki-laki itu berjalan ke arah Andini, hingga Andini harus cepat menuju semak untuk sembunyi,


Terdengar kemudian laki-laki itu menelpon seseorang,


"Ya, aku segera ke lokasi syuting, tunggu saja, tidak usah mencariku,"

__ADS_1


Andini menatap laki-laki yang berbicara dengan hp nya, yang kini berjalan melewati tempat Andini bersembunyi dekat semak-semak,


"Bilang saja pada Irena, aku sedang ada pertemuan dengan produser, kau biasanya banyak akal, jangan bodoh!"


Kata laki-laki itu lagi sambil berjalan semakin menjauh,


Irena?


Andini menggumamkan nama tersebut, nama yang juga terdengar tidak asing, nama yang sepertinya sering disebut banyak orang,


Ah apa tadi ia bilang?


Syuting?


Produser?


Apakah...


Andini mengerutkan kening, namun saat ia sedang sibuk berpikir sambil menatap laki-laki yang menjauh itu, tiba-tiba...


Dari arah belakang Andini, terasa seperti ada yang meniup telinganya, persis seperti saat ada di bioskop,


Namun, kali ini bukan hanya meniup, tapi juga... merintih,


Ya merintih,

__ADS_1


"Dingin... Di sini dingiiin, di sini gelap, keluarkan aku... tolooong..."


...****************...


__ADS_2