
Seusai melewati banyak proses dari pengangkatan jenazah dan ditanya ini itu sebagai saksi yang menemukan, Nada, Mia, Meli dan juga Sari akhirnya pulang bersama Mang Abdul,
Namun karena mereka juga ingin tahu nasib Andini teman mereka yang masih dirawat di klinik, maka mereka pun pergi ke klinik lebih dulu,
"Gimana, udah mendingan?"
Tanya Sari saat akhirnya mereka sampai di tempat Andini dirawat, tampak Andini bahkan sudah lepas infus dan tengah asik chat dengan seseorang manakala mereka sampai,
Di atas meja dekat tempat tidur Andini dirawat terlihat buket bunga mawar yang sangat indah, termasuk juga parcel buah berukuran besar,
"Hmm... Ada yang istimewa datang nih,"
Mia menggoda Andini yang sedang gugup menyimpan hp nya di dekat bantal tidurnya,
"Tidak apa-apa lah Ndin, terusin saja chat nya, Mas Andra bukan?"
Sari duduk di tepi tempat tidur di sebelah Andini, tampak Andini tersenyum simpul, ia tahu jika tak ada yang bisa benar-benar disembunyikan dari para sahabatnya,
"Kita sudah dengar tadi ada yang besuk ke sini,"
Kata Nada pula,
Andini yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya akhirnya tersenyum sambil mengangguk,
"Iya, Mas Andra datang dengan Ibunya,"
Kata Andini,
"Waw, nyonya besar ikut jenguk?"
Mia tampak surprise, Andini kembali mantuk-mantuk, wajahnya bersemu merah antara malu tapi juga bahagia,
"Tapi memang kelihatannya bos kita memang berbeda dengan orang kaya lainnya sih, mereka baiknya bener-bener baik, bener-bener tidak sombong juga,"
Kata Sari,
__ADS_1
Nada menghela nafas sambil mengambil tempat duduk yang untuk menunggui pasien,
"Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja Ndin, soal Andra mah apapun kita sebagai temen kalau kamu hepi ya kita ikut hepi lah,"
Andini menatap teman-temannya, lalu mengangguk sambil tersenyum lagi,
"Pokoknya, kita di sini, sebagai temen, sahabat, saudara kamu Ndin, cuma ingin memastikan kamu hepi dan tidak akan seperti dua Andini yang malang, kamu harus berbeda, harus bahagia,"
Kata Mia pula,
"Ya gaes, thanks ya, aku yakin kok kalau aku akan jauh lebih beruntung dari mereka, karena aku punya kalian,"
Ujar Andini, Meli yang berdiri di dekat tempat tidur tampak merangkul Andini,
"Ya Ndin, kamu harus hepi, kita tadi udah cukup nangis-nangis bayangin Andini yang diceburin ke sumur,"
Lirih Meli yang rasanya memang masih terasa sesak dadanya karena melihat nasib Andini si make up artist yang begitu malang,
"Ah iya, bagaimana kelanjutan kasusnya ya?"
"Polisi akan langsung mengejar pelaku karena sudah jelas ini adalah kasus pembunuhan, mereka tahulah apa yang harus dilakukan, pasti dalam waktu dekat Mario sudah harus berhadapan dengan hukum,"
Kata Nada,
Andini pun yang mendengar tampak lega,
"Syukurlah, kita bantu doa Andini agar bisa segera tenang, meski semasa hidup kita tidak kenal dengan almarhumah, tapi karena peristiwa ini rasanya kita jadi berempati dengannya,"
Ujar Mia,
Semua pun mengangguk mengiyakan karena memang merasakan hal yang sama.
...****************...
Tiga hari berlalu, tak ada lagi gangguan dari hantu Andini dan semua kembali berjalan dengan normal saja,
__ADS_1
Hingga di satu sore, saat Andini, Sari, Mia, Nada dan Meli makan di tempat langganan sepulang kerja, mereka akhirnya melihat Mario, si aktor jahat ditangkap,
Aktor itu diborgol, digiring keluar oleh beberapa personil polisi dari apartemen mewah yang ia tempati,
Tentu saja, berita tersebut langsung membuat gempar, karena Mario yang sedang ikut naik daun berkat hubungannya dengan Irena Kartika artis pendatang baru yang menyabet gelar artis baru terfavorit dalam satu ajang yang diadakan televisi swasta,
"Akhirnya penjahat itu bisa ditangkap juga, syukurlah,"
Andini dan teman-temannya tampak kompak, mereka rasanya jadi ikut mewakili apa yang dirasakan Andini pastinya,
"Semoga dengan ini Andini bisa tenang di alam nya yang baru,"
Kata Sari,
"Ya, dia pasti tenang sekarang,"
Ujar Andini,
Semua menatap layar televisi yang menayangkan berita penangkapan sang aktor,
Dan tiba-tiba...
Kelima gadis itu tampak berdiri dari duduknya karena terkejut, manakala layar televisi tiba-tiba ada wajah perempuan dengan rambut panjang terurai,
Wajah itu pucat pasi, namun bibirnya seolah menyunggingkan senyuman pada Andini, Sari, Mia, Nada dan Meli,
Ya, hanya senyuman, dan kejadian itu hanya sekian detik saja.
"Terimakasih banyak, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua,"
Begitulah kira-kira arti senyuman perempuan itu,
Dan tangkapan layar pada berita kembali berganti pada sosok Mario yang kini digiring masuk mobil polisi, yang di mata kelima gadis itu kini melihat di dekat mobil polisi yang membawa Mario, tampak sesosok perempuan dengan baju dan ciri-ciri persis Andini si make up artist.
...TAMAT...
__ADS_1