
Nada akhirnya sampai juga membawa mobilnya di jalanan yang kanan kirinya ada hutan Akasia,
Seperti biasanya, jalanan di sana memang terbilang cukup sepi dan jarang dilalui pengendara karena terkenal rawan kecelakaan,
Apalagi, di jaman sekarang, di mana pengendara lebih banyak yang memilih melewati tol lintas kota, yang selain lebih cepat, tingkat keamanan dan juga kualitas jalan yang lebih bagus tentu adalah alasan lain menggunakan tol jauh lebih baik,
"Di mana kita harus berhenti Mang Abdul?"
Tanya Nada pada pak penjaga kos yang ternyata memiliki kemampuan yang tidak biasa,
Mang Abdul yang semula memejamkan mata namun tetap membaca doa tampak membuka matanya pelahan,
Ia tampak menatap kanan kiri jalanan yang mereka lalui, di mana di sana tampak hutan Akasia,
Mang Abdul baru akan memutuskan di mana mereka harus berhenti, saat tiba-tiba dari belakang telinga Nada, terdengar suara seperti berbisik lirih,
"Di sana... di depan sana, di sebelah kanan jalan ada jembatan kecil, berhentilah di sana,"
Nada yang mendengar bisikan itu tampak celingak-celinguk,
"Apa Nad?"
Tanya Mia yang posisinya ada paling kiri, sedangkan Meli yang di tengah sibuk dengan Sari memperhatikan hutan di sebelah kanan jalan melalui kaca mobil,
Nada cepat menggeleng, ia kembali fokus ke jalan di depannya,
Nada yakin jika hantu Andini saat ini benar telah ikut dengan mereka, dan ia memberikan petunjuk sekarang,
"Di sana... di depan sana, di sebelah kanan jalan ada jembatan kecil, berhentilah di sana,"
Tiba-tiba Mang Abdul berkata sama dengan apa yang sudah Nada lebih dulu dengar,
Membuat Nada sejenak menoleh ke arah Mang Abdul yang kini dalam posisi menunjuk ke arah dengan dengan tangannya yang memegang tasbih,
Benar berarti, Mang Abdul nyata bisa berinteraksi dengan mahluk halus, apa yang didengar Nada barusan juga ia bisa mendengarnya, ini membuktikan jika ia bukan sekedar kebetulan saja,
Nada pun lantas melihat benar ada jembatan kecil, Nada menurut menepikan mobilnya ke sana,
Mobil Nada tampak berhenti di pinggir jalan, di dekat jembatan tapi sebelum jembatannya,
Jembatan kecil itu berada di atas sungai buatan yang sepertinya berfungsi sebagai jalan pengairan untuk area persawahan yang ada di perkampungan di balik hutan Akasia,
Nada membuka sabuk pengaman yang ia pakai, begitupun pula Mang Abdul,
"Kita turun di sini?"
Tanya Sari,
__ADS_1
"Ya, kita turun di sini, ya kan Mang?"
Tanya Nada kepada Mang Abdul, yang kemudian tampak laki-laki setengah baya itu mengangguk,
"Di dekat sungai ada jalan kecil, kita melewati itu, nanti akan bertemu jalanan lain di tengah hutan, kita harus menyusuri jalanan itu untuk bisa sampai ke sumur yang dimaksud,"
Kata Mang Abdul mendapat bisikan lagi, sementara Nada tidak lagi bisa mendengar apapun,
"Kenapa Andini mau di bawa ke sini sebelum dibunuh? Kalau aku mah ogah,"
Kata Meli,
"Dia menyeretku, aku sudah berusaha melarikan diri,"
Tiba-tiba saja suara itu terdengar dari belakang Meli, membuat Meli terlonjak kaget,
Semua jadi melihat ke arah Meli yang ketakutan menghadap ke kursi belakangnya,
"Kam... Kam... Kamu di dinikah?"
Meli tampak tergagap,
Haiiish... Sari dan Mia mendesis sambil geleng-geleng kepala,
"Makanya jadi orang jangan terlalu julid!"
Mang Abdul sampai terkekeh melihat tingkah polah mereka, yang padahal takut tapi penasaran, yang padahal baik tapi mulut tetap saja suka masih julid,
Meli nyengir kuda meskipun ia tak lagi berani duduk dan cepat mendorong Sari agar membuka pintu,
"Ayuk turun sekarang, langit mendung tuh,"
Ajak Nada pula,
Sari dan Mia pun membuka pintu mobil di samping mereka dan turun sesuai ajakan Nada,
Meli bahkan sampai melompat dengan tergesa mengikut Sari di belakangnya,
Nada dan Mang Abdul juga turun dari mobil, cepat Nada kemudian mengunci pintu-pintu mobilnya setelah semuanya berhasil turun,
Mereka tampak celingak-celinguk lagi, memandangi suasana sekitar yang sunyi membuat mereka seolah ikut merasakan kengerian yang dirasakan hantu Andini semasa ditarik ke sana,
"Dia pasti sangat ketakutan saat dibawa ke sini, rasanya aku ingin menghajar Mario saat ini juga,"
Geram Nada sambil masih memandangi suasana hutan di sekitarnya,
Mang Abdul mengangguk sepakat, ia pun kini merasa lebih iba dengan keadaan hantu Andini,
__ADS_1
Berbeda dengan hantu Andini yang diangkat menjadi film, di mana ia mengakhiri hidupnya sendiri, hantu Andini yang sekarang mati karena bukan kemauannya,
Ia dibunuh dengan sadis, dibuang ke dalam sumur dalam keadaan yang sebetulnya masih hidup,
"Kita jalan ke sana,"
Kata Mang Abdul kemudian, setelah ada bisikan lagi yang memberikan petunjuk pada Mang Abdul agar mengambil jalan yang mana,
Semua pun mengangguk, dan mengikuti langkah Mang Abdul yang menuju ke dekat jembatan, dan turun sedikit di mana di sana mereka akan berjalan di pinggiran sungai,
"Sepertinya dulu ada film yang memakai lokasi ini untuk syuting ya, aku tidak asing dengan pemandangannya,"
Kata Sari,
Tampaknya, sebagai penggemar film, dia mengingat banyak adegan di film-film yang ia tonton,
"Film siapa?"
Tanya Mia yang berjalan di belakang Sari,
Mereka memang berjalan berurutan, seperti berbaris satu-satu untuk turun sedikit dari jalan utama,
"Aku lupa judulnya, tapi..."
Tiba-tiba Sari menghentikan langkahnya, membuat Mia yang berjalan di belakang Sari jadi nyaris menubruk Sari,
"Kamu ini, kenapa berhenti mendadak Sar,"
Mia menabok punggung Sari dengan kesal jadinya,
"Sori... sori..."
Kata Sari yang memandang Mia, lalu ke arah Nada di belakang Mia,
Meli sendiri memutuskan berjalan tepat di belakang Mang Abdul, dan kini mereka sudah lebih jauh,
"Sar, nanti kita ketinggalan, cepatlah!"
Kata Nada mengingatkan,
"Sebentar, aku ingat sesuatu, Mario, ya aku ingat, film itu adalah debut pertama Mario di layar lebar,"
Kata Sari pada Mia dan Nada, yang tentu saja membuat mereka melongo sesaat, setelah itu menganggukkan kepalanya,
"Pantas... pantas saja aktor itu sampai tahu tempat ini..."
Kata Nada,
__ADS_1
...****************...