
"Aku melihat perempuan di bioskop Ndin, dia... dia ada di belakangmu,"
Andini yang mendengar penuturan Meli tampak terkesiap, teringat ia saat di bioskop telinganya ada yang seperti meniup,
Wajah Andini pun seketika tampak kembali pucat, takut jelas terpancar di wajahnya yang ayu,
"Aku juga Ndin, aku juga melihat sosok perempuan lain, saat di mobil,"
Tambah Sari,
Andini pun menatap kedua temannya, ia tak bisa bilang tak percaya, karena nyatanya ia pun merasakan hal yang tak biasa berada di sekitar dirinya,
"Siapa kira-kira dia Mel, Sar? Mungkinkah itu..."
Andini rasanya tak sanggup menyebutkan nama hantu yang di dalam film, yang kabarnya diambil dari kisah nyata itu,
Meli dan Sari terdiam, mereka juga tentu saja tak tahu siapa sebetulnya sosok yang kini mengikuti Andini.
Sementara itu, di perjalanan menuju pulang ke rumah Mia, tampak Nada dan Mia yang sudah mulai memasuki komplek perumahan di mana Mia tinggal tampak masih asik membicarakan alur cerita film yang baru mereka tonton,
Jika Mia mengatakan ia sangat puas dengan film yang sudah ia nanti-nantikan penayangannya itu, Nada justeru merasa kecewa, karena menurutnya alurnya terlalu dipaksakan, menurutnya tidak ada hantu yang sesadis itu hingga membunuh dengan tangannya sendiri,
"Itu terlalu dibuat-buat, menurutku hantu tidak akan seekstrim itu Mi,"
Kata Nada,
"Iya sih, memang tidak semuanya persis kisah nyatanya, kan setahuku kalau kata Ibu mah si Andini itu aslinya perempuan tidak bener, di kisah nyatanya itu dia sebetulnya jual diri gitu, terus suatu hari dia ketemu pelanggan yang ganteng banget, dia jatuh hati, trus ya intinya sih akhirnya dia jadi berhenti jual diri gitu karena cuma melayani si cowoknya, dia ganti pekerjaan, lalu ternyata si cowok ketahuan tunangan sama cewek lain dan akhirnya si Andini gantung diri, naasnya dia lagi hamil anak si cowoknya itu,"
Kata Mia,
"Jiaaah, cewek begok ya Andini,"
Kata Nada, yang kemudian keduanya tertawa bersama,
Lalu...
"Tapi ya, okelah mungkin film itu tidak sama persis dengan kisah nyatanya, tapi namanya film kan juga butuh sentuhan imajinasi sutradara agar tidak sama persis dengan kisah aslinya Nad, mungkin demi menjaga nama baik Andini, dan ending yang terlalu ekstrim biar horror nya lebih dapet, gitu sih kalo menurutku Nad,"
Ujar Mia melanjutkan,
Mobil pun terus meluncur menyusuri jalanan komplek yang mulai basah diguyur rintik hujan,
Sudah hampir masuk bulan Maret, namun hujan masih juga kerap turun tiba-tiba,
Memang tidak aneh di jaman sekarang musim hujan begitu panjang, bahkan kadang setahun penuh hujan terus turun tanpa ada kemarau sama sekali,
__ADS_1
Sampai kemudian mobil akan berbelok di pertigaan untuk masuk blok F di mana Mia tinggal, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan seekor kucing putih yang melompat dari pagar sebuah tanah kapling yang masih kosong, Nada pun sampai harus mengerem mendadak,
Tanah yang sekitar dua kaplingan itu dari sejak Mia tinggal di sana memang dikosongkan saja dan hanya dipagari dinding tinggi dan pintu pagar dari besi berwarna putih,
"Haiish... Kucing sialan!"
Umpat Nada yang kaget luar biasa,
Mia juga yang sama kagetnya sampai harus mengelus dada dan mencoba mengatur nafasnya,
Nada yang juga sama masih berusaha menenangkan diri, tampak kini melanjutkan mengemudikan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah Mia,
Bersamaan dengan itu hp Mia ada panggilan masuk,
Hp yang selalu ia pegangi itu tampak kemudian dilihat layarnya oleh Mia, terlihat nomor tak dikenal tertera di sana,
Mia tampak ragu mengangkat, agak malas juga jika harus menerima panggilan dari nomor yang tak dikenal,
Tapi, Nada menyuruh Mia untuk tetap mengangkatnya, karena siapa tahu itu saudara Mia yang baru ganti nomor,
Menurut, Mia pun akhirnya tampak mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal itu,
Namun, begitu diangkat suaranya hanya kresek kresek saja,
Maka, sambil masih telinganya mendengarkan suara kresek kresek di hp, Mia tampak menoleh ke arah Nada yang tampak kini bersiap menepikan mobilnya agar berhenti tepat di depan pagar rumah Mia,
Kata Mia,
Nada menghentikan mobilnya karena mereka telah sampai, lalu Nada mengambil hp dari tangan Mia, ia ingin ikut mendengarkan suara apa yang ada di sana,
Tapi, begitu hp diambil Nada, suara itu hilang dan panggilan pun berhenti,
"Sialan, orang main-main Mi berarti, blokir saja,"
Kata Nada yang lantas memberikan hp Mia lagi pada si empunya, Mia pun menurut dan langsung memblokir nomor hp yang baru saja mengerjainya itu,
Mereka kemudian turun dari mobil, tepat saat Ibunya Mia keluar karena mendengar suara mobil parkir di depan pagar rumah,
Ibu berdiri di pintu pagar sambil membuka pintu pagarnya agar Mia dan Nada bisa masuk,
"Kok sampai malam pulangnya?"
Tanya Ibu ketika Mia akhirnya menghampirinya, dan kemudian diikuti oleh Nada,
Kedua gadis itupun menyalami Ibunya Mia, tak lupa pastinya mencium punggung tangannya,
__ADS_1
"Iya, tadi kehabisan tiket yang siang Bu, jadi ambil yang udah sorean,"
Kata Mia menjelaskan,
"Oh, ya sudah, Ibu tadi masak agak banyak, kirain pada mau makan sore di sini,"
Ujar Ibu,
"Wah memang ini saya mampir mau ikut makan Tante,"
Nada tanpa malu-malu, karena memang bagi Nada, keluarga Mia sudah macam keluarganya sendiri, tentu saja karena mereka dekat sejak masih SMP, berbeda dengan Sari dan Meli yang baru kenal saat kuliah, sedangkan Andini adalah teman yang dekat karena ia teman baik Meli dan Sari,
"Ya sudah, ayok makan di dalam, ada opor ayam spesial lho, ayam kampung, nanti Tante panaskan dulu sebentar ya,"
Kata Ibunya Mia senang,
Ia memang selalu senang menyambut teman-teman Mia yang main ke rumah,
Sungguh sosok Ibu-ibu yang baik, yang baginya teman anaknya juga adalah anaknya sendiri juga,
Bukan hanya Mia, tapi juga dengan kakak Mia yang laki-laki juga Ibunya Mia begitu, ramah dan hangat, menganggap mereka seperti anak sendiri,
Mia dan Nada pun dengan semangat masuk melewati pintu pagar rumah, sedangkan Ibunya Mia yang akan menutup pagar sedikit, tiba-tiba menoleh ke arah mobil Nada, yang lamat-lamat dilihatnya dari kaca belakang mobil Nada seperti ada wajah yang ditempelkan,
Wajah perempuan yang melongok itu terlihat samar saja, tapi jelas itu adalah wajah seorang perempuan,
Ibu pun berjalan sedikit keluar dari pagar,
"Neng, ayok turun sekalian, ikut makan,"
Kata Ibu ramah, tapi wajah perempuan itu kemudian menjauhi kaca,
Ibu yang tahunya itu adalah orang kemudian memanggil Nada dan Mia,
Kedua gadis yang tadinya akan masuk rumah itupun akhirnya menghentikan langkah mereka karena Ibu memanggil,
"Ya Bu,"
Sahut Mia,
"Itu, temannya yang satu tidak diajak masuk juga?"
Mendengarnya Mia dan Nada pun sontak saling berpandangan,
"Hah? Apa kata Ibu?"
__ADS_1
Mia pada Nada yang tampak menggelengkan kepalanya sambil pasang wajah bingung.
...****************...