
"Ada apa sih Pak? Ada apa?"
Tanya Ibunya Panji yang tentu saja kaget karena tiba-tiba suaminya dan juga teman-teman ngobrolnya masuk ke dalam rumah sambil berlari-lari,
Panji yang mendengar ribut-ribut di ruang TV tampak keluar dari dalam kamar,
"Ada apa?"
Panji juga jadi ikut bertanya seperti Ibunya,
Penasaran ia melihat Bapaknya dan juga dua orang tetangganya yang seperti ketakutan,
"Ad... Ada... Ada... Andini,"
Kata Lihun pada Panji dan Ibunya Panji,
"Andini? Andini bagaimana? Jangan ngaco,"
Ibunya Panji jadi ikut takut mendengar soal Andini,
"Ben... bener... dia ada di atap, sumpah Bu, sumpah..."
Kata Bapaknya Panji pula,
Seketika Panji yang tentu saja tak mau termakan omongan Bapaknya dan juga Pak Soleh serta Lihun begitu saja, akhirnya memutuskan untuk keluar sendiri menuju teras,
__ADS_1
Panji berjalan terus bahkan sampai ke dekat jalan kampung, menatap ujung jalan kanan dan kiri yang tampak sepi,
Di ujung jalan yang sebelah kiri, tampak lampu jalanan berkedip-kedip seperti akan mati,
Panji menghela nafas, merasa bahwa Bapaknya dan kedua tetangganya sudah mulai benar-benar berlebihan,
Pemuda itu pun setelah memastikan tak melihat apapun, akhirnya kembali berbalik untuk masuk ke dalam rumah,
Namun, saat Panji akan naik ke teras rumah, tiba-tiba, dari gang kecil di antara rumah Panji dan tetangganya, berlari seekor kucing hitam yang tampak langsung menuju ke jalanan,
Panji yang kaget melihat ke arah si kucing yang kini sudah tampak melompat ke jalanan kampung lalu menyebrang ke rumah yang berhadapan dengan Panji,
"Hmm... aku pikir apa,"
Gumam Panji lirih sambil kembali melangkahkan kakinya ke dalam rumah,
"Bagaimana nak?"
Tanya Ibunya Panji saat anak laki-laki nya itu kembali masuk ke dalam rumah,
"Tidak ada apa-apa Bu, aku rasa tadi hanya kucing saja,"
Kata Panji,
"Ah ya tidak mungkin itu kucing, ada suara perempuan nangis kok,"
__ADS_1
Kata Soleh,
Bapak ikut mantuk-mantuk membenarkan, sama halnya pula dengan Lihun,
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi,"
Kata Ibunya Panji akhirnya menengahi,
"Pak Soleh dan Pak Lihun mungkin lebih baik pulang sekarang saja Pak, ini sudah larut malam, sebentar lagi juga sepertinya hujan akan turun semakin deras,"
Ujar Panji pada kedua tetangganya,
Soleh dan Lihun melihat ke arah jam dinding ruangan rumah Panji, yang memang kini sudah melewati jam sepuluh malam,
Menyadari hari memang sudah cukup larut, maka Soleh dan Lihun pun pamit pulang,
Karena takut untuk pulang harus melewati gang kecil di samping rumah Panji, maka mereka pun meminta tolong pada Panji agar bisa dibukakan saja pintu belakang rumahnya agar bisa keluar dari sana saja,
Panji pun akhirnya menurut membukakan pintu belakang rumah untuk dua orang tetangganya itu,
"Kali lain tidak usah mengajak bicara Bapak soal keluarga Andini lagi ya pak,"
Ujar Panji berpesan pada kedua tetangganya, yang termasuk memang cukup sering berkunjung dan menemani Bapaknya Panji ngopi-ngopi sambil mengobrol ke sana ke mari,
"Iya Mas Panji, maaf... maaf... tadi soalnya memang... ah sudahlah, kami pulang dulu,"
__ADS_1
Kata Soleh dan Lihun, yang kemudian langsung ngacir meninggalkan Panji yang masih bingung dengan keduanya.
...****************...