Arwah Penasaran Andini

Arwah Penasaran Andini
20. Terungkap Pelahan


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang kerumunan anak-anak kos,


"Ada apa ini?"


Suara itu seketika membuat semua jadi menoleh ke arah asal suara,


Tampak di sana penjaga kos berdiri, para anak kos yang berkerumun di depan pintu kamar Sari dan Meli pun seolah kompak memberikan jalan untuk penjaga kos mereka,


Mang Abdul, si penjaga kos tampak kemudian berjalan masuk ke dalam kamar,


Anehnya, begitu Mang Abdul baru saja melangkahkan kakinya memasuki kamar, tiba-tiba tubuh Andini langsung turun dengan sendirinya,


Nada, Sari dan Meli pun segera akan mendekati Andini, namun Mang Abdul menghalangi mereka,


"Jangan! Menjauhlah,"


Kata Mang Abdul,


Mendengar kata-kata Mang Abdul, mereka pun menatap Mang Abdul, namun laki-laki yang selama ini seperti selalu kaku dan tak peduli dengan anak-anak kos di sana kini berjalan mendekati Andini, lalu...


"Nona, siapa anda? Semalam saya sebenarnya sudah melihat anda, katakan apa tujuan anda ke sini?"


Tanya Mang Abdul yang kemudian mengeluarkan seperti tasbih dari dalam saku celana yang panjangnya tak pernah melewati mata kaki,


Seolah bereaksi atas pertanyaan Mang Abdul, tubuh Andini pelahan duduk sendiri, posisinya kembali seperti saat tadi pertama kali Sari dan Meli meninggalkannya sendirian di kamar,


"Maaaang... tolooong saya,"


Suara itu jelas bukan suara Andini yang kini tubuhnya berada di depan mereka semua,


"Tolooong saya Maaang, tempat saya dingin, gelap,"


Kata si pemilik suara itu,


Semua teman anak-anak gadis yang berada di sana tampak merinding mendengar suara tersebut,


"Ya Nona, katakanlah, apa yang harus kami lakukan untuk membantu,"


Kata Mang Abdul pada sosok yang kini mengambil alih tubuh Andini,


"Hutan Akasia di perbatasan kota, di sana, aku berada di sana,"


Suara itu terdengar bergetar, seperti menahan kesedihan dan kepiluan yang teramat sangat,


Mang Abdul lantas tampak duduk di hadapan Andini,


Andini duduk di atas kasur yang digelar, sementara Mang Abdul duduk di atas lantai,


Sementara itu, Sari, Nada, Mia dan Meli tampak beringsut ke sudut ruangan, yang tak jauh dari pintu masuk keluar kamar,


Pintu yang dibiarkan terbuka dan kini dipenuhi anak-anak kos yang berjubel di sana,


"Baiklah, katakan semuanya dengan jelas, agar kami bisa menolong, dan katakan kenapa anda memilih Nona Andini?"


Tanya Mang Abdul,

__ADS_1


Tiba-tiba kemudian Andini menangis, suara tangisnya begitu menyayat hati, membuat para gadis yang ada di sana seolah ikut merasakan kesedihan meskipun juga mereka tetap merasa takut,


"Andini, gadis ini polos dan lugu, aku memilihnya karena saat ia bicara pasti akan banyak orang yang percaya,"


Kata sosok itu masih dengan suara yang jelas bukan suara Andini,


"Jelaskan pada kami, siapa anda, dan darimana asal anda?"


Tanya Mang Abdul pula,


Sosok di dalam tubuh Andini kembali terisak, lalu menangis pilu,


"Aku... Namaku juga Andini, aku merantau dari satu kota kecil, merantau menjadi asisten makeup artis, bertemu dengan seorang aktor tampan dan kaya, membuatku tenggelam dalam cinta buta,"


Lirih suara itu bercerita,


"Tolong aku Pak... aku yakin anda orang baik, tolong aku, mayatku berada di hutan Akasia, aku dibunuh di sana, karena ia tak mau bertanggung-jawab atas kehamilanku, ia takut karena aku rencana..."


Sosok itu terisak kembali, lalu...


"Rencana?"


Mang Abdul menunggu kelanjutan kalimat yang terputus itu dengan sabar,


"Laki-laki itu menjalin hubungan juga dengan seseorang, mereka akan melangsungkan pernikahan karena ia dianggap lebih menguntungkan untuk karirnya di dunia entertainment dan juga bisnis orangtuanya,"


Kata sosok itu,


Semua yang mendengar tampak jadi ikut berkaca-kaca, termasuk pula Sari, Nada dan juga Meli serta Mia,


"Laki-laki bajingan,"


"Aku terlibat dalam produksi film arwah penasaran Andini, aku terhubung dengan film itu karena aku terakhir kali terlibat di sana,"


Ujar sosok itu pula,


"Sekian hari, aku menunggu manusia yang bisa aku mintai pertolongan, aku gentayangan ke sana ke mari, hingga aku menemukan bioskop tempat Andini dan teman-temannya menonton film tersebut,"


"Anda merasa energi Andini cocok?"


Tanya Mang Abdul,


"Ya, dia gadis yang polos, dia masih sangat bersih dan lugu, energinya sangat hangat, aku nyaman di sini,"


Lirih sosok itu,


"Tapi itu bagaimanapun bukan tubuhmu Nona, seperti yang anda katakan, dia anak yang baik, maka keluarlah dari tubuh anak ini, dan kami akan membantumu,"


Kata Mang Abdul, sambil tangannya tak berhenti menggerakkan biji tasbih yang dipegangnya,


Tentu entah apa yang sebetulnya hatinya baca, atau apalah kiranya yang sebetulnya Mang Abdul lakukan pula disela ia mencoba berinteraksi dengan mahluk yang meminjam tubuh Andini,


"Ya Pak, saya akan keluar, tapi berjanjilah untuk mengeluarkan saya dari sana, saya ingin pulang, saya ingin pulang ke rumah orangtua saya,"


Sosok itu kembali menangis,

__ADS_1


"Ya Nona, kami akan menolong semampu kami, semua yang ada di sini adalah saksi apa yang Nona sampaikan,"


Kata Mang Abdul,


Sosok itu menangis begitu sedih, membuat Meli dan Mia bahkan sampai ikut sesenggukan,


Begitupun dengan para gadis yang merupakan penghuni kos di sana, yang tampak kini memenuhi depan pintu kamar Sari dan Meli,


Tak lama tubuh Andini bergetar, lalu mengejang sampai Andini terjengkang ke belakang,


Mang Abdul sambil komat-kamit membaca doa, terlihat mendekati Andini dengan tenang,


Ia lantas mengulurkan tangannya yang memegang tasbih ke atas kepala Andini, yang lantas mengusap ubun-ubunnya,


Lalu, Mang Abdul menoleh ke arah ke empat teman dekat Andini yang ada di sudut ruangan,


"Tolong ambilkan segelas air,"


Ujar Mang Abdul,


"Kopi? Teh?"


Tanya Nada,


Mang Abdul menggelengkan kepalanya,


"Air putih Nona,"


Jawab Mang Abdul,


"Biar aku saja,"


Suara dekat pintu terdengar, seorang gadis berambut keriting lantas berjalan tergesa menjauhi kerumunan,


Ia suka rela menuju dapur untuk mengambilkan air yang seperti Mang Abdul minta,


Mia tampak menatap Andini yang kini kembali dibacakan doa oleh Mang Abdul,


Jadi benar makeup artis yang menghilang itu jadi korban pembunuhan? Sungguh tragis hidupnya, dibunuh oleh orang yang dicintai dan ia pikir mencintainya, tentu itu sangat menyakitkan hatinya. Batin Mia merasa ikut sedih dan juga prihatin,


"Laki-laki bajingan itu, siapa dia?"


Geram Nada lirih,


"Mario,"


Sahut Sari dan Meli nyaris bersamaan, membuat Nada dan Mia sontak menoleh ke arah mereka,


"Mario?"


Mereka bertanya,


Sari dan Meli mengangguk,


"Aktor tampan yang berasal dari keluarga kaya itu, Mario, Andini melihatnya di dalam mimpi sebelum kerasukan,"

__ADS_1


Kata Sari.


...****************...


__ADS_2