Bad Couple

Bad Couple
part 31


__ADS_3

"Gak apa kok, gue mau cerita" Prisa kekeuh sendiri, Vionna hanya diam mendengarkan.


Prisa bercerita tentang Dionar dan kejadian saat di rumah Reynald, Vionna agak terkejut, karena sangat kebetulan.


"Gitu..." Prisa menundukkan kepalanya.


Vionna tidak ingin melihat prisa menangis lagi.


"Hah..." Vionna menghembuskan nafas panjang,ia mengelus puncak kepala Prisa lalu menyandarkan ke bahunya.


"Sekarang Gue bingung mau bantu kayak gimana" Kata Vionna


Prisa menahan sekuat tenaga agar tidak meneteskan air mata, namun susah sekali, satu tetes air mata jatuh ke pipinya.


Vionna mengusap air mata itu.


"Udah...jangan nangis lagi, kita berdua selalu di samping lo" Kata Vionna menenangkan Prisa.


Prisa diam, dari luar sudah mencoba untuk tidak menangis, namun jiwa nya menangis histeris tak dapat terhenti.


"Kapan lo sekolah?" Vionna beralih duduk menghadap Prisa dan menggenggam Tangan Prisa.


"Kayak nya besok aja deh, biar gue enjoy" Kata Prisa yang mulai bisa tersenyum.


"Oke, jangan nangis terus ya kami pamit pulang" ucap Vionna sembari meraih Tas nya yang berada di sofa samping Prisa.


Prisa hanya mengangguk.


"Kita pulang ya, janji ya jangan nangis lagi, nangis gak akan ngerubah apa-apa!" Kata Vionna, dan kali ini di buahi anggukan mantab dari Prisa.


"Oke bye" Vionna dan Ziky berjalan keluar kamar Prisa.


"Vi, gue belum selese makan es krim nya" Rengek Ziky tidak rela meninggalkan Es krim yang tertera menggoda di meja.


Prisa terkekeh.


"Nih, bawa pulang aja Ky!" Prisa menyerahkan Wadah es krim yang cukup besar.


"Tapi boss, duh, jadi gak enak" Kata Ziky sambil menggaruk garuk kepalanya tapi tetap menyambut es krim tersebut.


“Jadi gak enak, palalu” Ketus Vionna sambil memukul kepala Ziky dari belakang.


"Makasih boss, sehat selalu, kami pulang" Pamit Ziky berlari keluar sambil mengangkat-angkat wadah es krim yang di agung-agungkan nya.


Prisa hanya tertawa melihat tingkah ziky.


Esoknya


Prisa bersekolah dengan santay seperti biasa, dia sudah berusaha mencoba melupakan semuanya.


Saat di depan gerbang masuk sekolah, sosok yang sangat tidak ingin prisa jumpai lagi, berdiri di sana dengan wajah sendu dan mata yang memerah, rambut nya acak acakkan, bahkan kumis nya tumbuh terlihat, Reynald berdiri di sana dengan tampilan kacau balau.


Prisa pura pura tidak melihat, dia melongos saja melewati Reynald Tanpa melirik nya sedikit saja.


Grep! Tangan Reynald menahan pergelangan tangan Prisa.


Prisa menoleh jijik ke arah Reynald.


Reynald menatap Prisa sendu.


Jujur, prisa tidak bisa membenci Reynald terlalu jauh, dirinya sebenarnya sangat rindu akan kehadiran Reynald, tapi dia tidak bisa, Reynald adalah orang yang membunuh Dionar.


"Pris...tolong maafin gue..." Reynald berkata lirih, matanya sayu, wajah nya sendu, di sisi itu Prisa mencoba tegar dengan wajah datarnya


"Gu, gue benar benar gak sengaja waktu itu, gue udah bawa dia ke rumah sakit, tapi tuhan hendak dia pergi, jadi tolong...maafin gue..." Mata sayu menatap lamat lamat mata kegeraman milik Prisa.


Prisa menghempaskan tangan Reynald.


"Silahkan pergi" kalimat dingin yang dia ucapkan membuat Reynald terdiam. Prisa berjalan dengan cepat masuk ke kelas meninggalkan Reynald yang mematung tak berdaya di sana.


Prisa duduk di kursinya dengan perasaan yang campur aduk, dia tidak tahu harus apa sekarang.


Ingin sekali dia menangis, namun hanya mempermalukan diri sendiri menangis di kelas.


Namun matanya berkaca kaca, hatinya sakit saat berkata seperti itu pada Reynald, tangannya gemetar, bibir nya gemetar juga, prisa ingin menangis sejadi jadinya, namun tetap di buat nya tegar, dia tidak ingin murid lain melihat nya menangis, walaupun pagi itu hanya ada lima orang di kelas, namun tetap saja akan sangat memalukan.


Vionna yang duduk di kursi nya yang agak jauh dari belakang prisa, sadar bahu prisa sedikit bergoncang, dia menebak kalau Prisa akan menangis.


Vionna mendekat ke prisa dan berdiri di samping Prisa duduk, lalu memeluk kepala Prisa.


"Kalau ingin menangis, menangis saja, jangan di tahan" Kata Vionna seraya memeluk kepala Prisa.


Prisa meneteskan setetes demi setetes air matanya di pelukan Vionna, hatinya hancur.


Sudah seminggu kejadian itu berlalu, prisa sudah dapat melupakan Reynald, walau masih tersisa sedikit di hatinya.


Tapi itu bukan masalah besar buatnya, selama ada teman teman nya di sisinya, dia akan bisa melupakan Reynald dengan cepat.


Prisa sibuk mengerjakan tugasnya, setelah selesai mengerjakan tugas, dia langsung tidur nyenyak di kasur.


...***...


"Hey, kamu gak takut kehilangan orang yang kamu cintai lagi?" Tutur Dionar yang rebahan dengan Prisa di hamparan Rumput


"Siapa orang yang kucintai?" Tanya Prisa yang amnesia nya di buat buat


"Reynald kan namanya!!!"ingat Dionar


"Kamu tidak takut kalau suatu hari nanti dia tiba tiba meninggalkanmu"


"Hah? kenapa takut? dan lagi, aku lah yang meninggalkannya kan!!!" Jawab Prisa sok enteng.


"Jangan sok tidak perduli, saat orang itu akan pergi, kau akan tahu, betapa sakitnya kehilangannya daripada kehilangan ku" Jelas Dionar.

__ADS_1


Prisa berfikir sejenak.


"Kayak nya gak mungkin deh" Sahut Prisa meng entengkan kata kata Dionar.


Dionar menghembuskan nafas kasar, dia menutup wajah Prisa perlahan membuat kabut tebal dan semuanya jadi putih...


Prisa terbangun dari mimpi nya


Mimpi apa itu? apa maksud Dionar?Batin Prisa bingung.


Prisa melirik jam dinding, jam menunjukkan pukul 17:30, prisa segera berjalan menuju lemari untuk mencari pakaian dan membawa nya ke kamar mandi.


setelah mandi, prisa men cek isi handphone nya, dan banyak notifikasi panggilan tak terjawab dan satu Chat dari...Reynald.


Reynald: Aku akan Pergi ke London!


Hanya itu isinya, prisa hanya berwajah datar.


Dia menatap keluar jendela menatap matahari yang tenggelam.


"Huh..."Prisa menghela nafas kasar


Tok...


tok...


" Masuk" Sahut Prisa pada si pengetok pintu.


Tampak mama prisa di sana.


"Ada apa ma?" Tanya Prisa.


"Ini" mama Prisa menyerahkan kotak kecil berwarna merah dengan pita kecil berwarna Putih.


"Apa ini ma?!" Tanya Prisa, mama prisa hanya mengedikkan bahunya lalu keluar kamar.


Prisa kepo dan membuka kotak itu.


Yang membuat Prisa terkejut adalah, kotak itu berisi Tali sepatu warna merah putih yang sedikit kotor, yang prisa ingat, itu seperti miliknya.


Ada kertas di dalam kotak itu yang bertuliskan...


"Gue akan pergi sesuai yang lo katakan saat di gerbang sekolah, dan oh iya, itu tali sepatu lo yang waktu itu gue tarik paksa lepas dan buang ke tong sampah, haha...kalau ingat itu gue jadi ketawa yang dandanan lo kayak orang mau ikut lomba fashion show, tapi yah...udah berlalu...gue mungkin gak akan balik lagi, jadi jangan rindu sama gue, eh sorry,lo pasti gak bakalan rindu sama gue, gue harap lo bisa maafin gue, tapi pasti gak mungkin haha, udah ya, semoga lo sehat selalu dan bahagia terus, mau bagaimana pun lo benci gue, gue tetap sayang dan cinta sama lo"


Tidak terasa Air mata Prisa mengalir deras, dia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara saat menangis, namun susah, air mata prisa mengucur deras!


Prisa berlari keluar kamar dengan tali sepatu di genggamannya.


"Ma!! tadi siapa yang kasih ini sama mama?!!" Tanya Prisa dengan setengah teriak di tangga sambil lari lari.


"Tadi nak reynald kemari, mau kasih itu sama kamu, tapi kamunya tidu...." Prisa langsung melongos keluar rumah tanpa membiarkan mamanya selesai bicara.


"Dur..." Sisa kata kata mama prisa yang terpotong.


Prisa berlari secepat mungkin menuju rumah reynald yang jarak nya luar biasa jauh.


semoga...belum pergi...!


Prisa membawa tali sepatu itu di genggamannya sambil lari larian ke rumah Reynald, tapi suara dering handphone nya menghambat acara lari lari Prisa.


Prisa merogoh saku celananya dan melihat nama yang tertera.


"VikyAlay?"


"Rese banget" Prisa mengangkat telfon nya tergesa gesa.


"Haloo!" Sahut Prisa ketus.


"Beb...Mending lo sekarang ke rumah sakit"


"Kenapa emang?"


"Reynald masuk rumah sakit"


Degh!!! Jantung Prisa seperti berhenti berdetak


"Rumah sakit mana?" Tanya Prisa panik


"...."


"Oke gue kesana sekarang" Prisa mematikan sambungan telfon dan bergegas menuju rumah sakit memakai taxi.


Prisa sampai di rumah sakit dengan tergesa gesa, nafas nya tersengal sengal keringatnya bercucuran.


Prisa mendekati Viky yang duduk bersama Mama Reynald di kursi tunggu.


"Beb..."


"Vik...mana Reynald?" Nafas prisa menderu panik.


"Dia...lagi di tangani dokter" Kata Viky lemah


Prisa menatap ke pintu UGD dengan mata berkaca kaca.


Prisa terduduk lemas di lantai.


"Gimana bisa?!!" Prisa menangis frustasi.


" Saat di jalan dia tabrak tronton saat itu, yang gue bingung padahal itu lampu merah, tapi dia lewat saja hingga kena tabrak, untung gue ada di tempat kejadian" jelas Viky.


Namun Prisa tidak terlalu mendengarkan, dia sedang menangis sekarang.


Seorang dokter keluar dari ruang UGD, prisa dan mama Reynald langsung berlari menyerbu Dokter itu.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan Anak saya?" Tanya mama Reynald yang sangat khawatir.


Dokter itu menjelaskan kronologinya dan bilang Reynald Koma, prisa seperti tidak dapat bernafas lagi mendengar kata 'KOMA', biasanya dia nonton di TV atau drakor, orang yang koma bisa singkat atau panjang bahkan bisa juga sampai bertahun tahun lamanya.


Prisa menangis tak percaya dengan apa yang dia dengar!!!


Prisa dan mama reynald juga Viky masuk ke ruangan itu.


Mama Reynald berderai air mata sambil mengusap pipi Reynald, prisa hanya menangis tanpa suara di belakang mama Reynald, ingin sekali rasanya langsung memeluk tubuh kaku Reynald yang pucat di sana.


Wajah tampan dan putih Reynald terluka kena goresan yang di duga kena goresan kaca mobil


Tidak lama lelaki tua memakai jas kantoran yang prisa tebak adalah papa Reynald.


Dia memanggil mama Reynald untuk keluar dulu berbicara dengan beliau.


Tersisa Prisa dan Viky.


Prisa berdiri di samping kasur Reynald sambil menangis sesenggukan


Prisa menelungkupkan wajah nya di samping tubuh kaku Reynald.


Lalu mengangkat wajah nya lagi dan menatap reynald dengan mata yang berair.


"Rey...bangun, gue ada di sini, lo bangun, lo boleh sok arogan dan sok cool asalkan lo bangun, lo boleh buang dan merintah gue buat tali sepatu dan rambut gue asalkan lo bangun...hiks..."


Prisa sesenggukan, dia menggenggam tangan Reynald lembut.


"Gue...udah maafin lo" Prisa berkata lirih namun jelas.


Karena gue gak mau kehilangan orang yang gue cintai kedua kalinya.


Tidak lama mama Reynald kembali masuk, dia bilang akan membawa Reynald ke rumah sakit ternama di London agar Reynald lekas bangun, prisa tidak bisa bilang enggak, ini adalah kemauan orang tuanya, prisa sekarang hanyalah orang luar, dan Prisa merasa tidak berhak menentangnya.


Prisa tidak bergeming saat Reynald yang tertidur tak berdaya di bawa memakai Jet pribadi milik orang tuanya ke London, sakit? tentu saja, bagaimana tidak coba.


Apakah gue gak akan bertemu lagi dengan lo? batin prisa sambil meneteskan setetes air mata.


Viky mengelus pundak prisa, karena kebetulan Viky juga ikut mengantar Reynald.


"Jangan sedih lagi, gue yakin, dia gak bakalan mati kok" Ucap Viky asal namun dapat membuat hati Prisa sedikit lega.


Dua tahun kemudian


dua tahun sudah Tidak ada kabar dari Reynald, prisa sangat menantikan kabar Sadar dari Reynald, namun keluarganya sangat susah di hubungi, prisa sangat penasaran akan Reynald.


Lupakan dulu hal itu, hari ini adalah hari pertama gue masuk kuliah!!!


Prisa kuliah dengan jurusan ekonomi.


Prisa menatap bangunan besar itu sambil tersenyum.


Dia melangkah kan kaki nya masuk ke kampus.


Namun...


Satu sosok familiar berdiri di bawah naung nya pohon.


Sosok yang sangat ia rindukan itu ada, berdiri di sana dengan senyum cool nya dan tidak lupa wajah tampan nya yang arogan tidak pernah berubah.


"Rey..." Air mata Prisa jatuh


Dia langsung berlari memeluk Reynald yang berdiri di bawah pohon.


Reynald membalas pelukan Prisa lembut.


"Gue udah balik" gumam Reynald.


Prisa menangis karena rindu pada Reynald.


"Sekarang gue mau tanya" ucap Reynald yang masih memeluk Prisa.


Prisa masih menangis di pelukan Reynald.


"Lo udah maafin gue?"


Prisa melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata bahagia nya.


"hemm....gimana ya?!!" Prisa sok sok an berfikir mempertimbangkan.


"Tentu saja gue udah maafin lo" Kata Prisa sambil tersenyum


Senyum manis terpampang dari wajah Reynald.


"Lo tau..."


"Hampir dua tahun terbaring di rumah sakit, dan hampir dua tahun gue merindukan lo..."


Reynald mendekatkan wajahnya ke wajah Prisa.


"Dan sekarang...rasa itu terbalaskan..."


wajah reynald semakin dekat dengan wajah Prisa.


Reynald meletakkan bibir nya ke bibir Prisa.


"Gue...juga..." Timpal Prisa, sekaligus membalas ciuman Reynald.


Dedaunan di pohon itu berjatuhan, seperti sengaja di jatuhkan, Reynald dan Prisa masih di sana membalaskan rasa rindu masing masing yang sudah lama tertahankan, se akan tak perlu khawatir orang berlalu lalang menatap mereka.


Lo tau, gue sangat bersyukur karena lo hadir di kehidupan gue, gue bersyukur karena lo hadir untuk mewarnai hidup gue, terkadang gue berfikir, bagaimana jika seseorang yang hadir itu bukan lo?!


\~END\~

__ADS_1


__ADS_2