BAGAS KARA

BAGAS KARA
BAGASKARA 01


__ADS_3

Semua orang hanya diam dan menatap takut pada lelaki dengan seragam sekolah yang sedang memukuli lawannya yang sudah tergeletak tidak berdaya di bawahnya. Ia menyelesaikan aksinya saat rasa puas sudah ia dapatkan, berdiri dari duduknya dan berlalu begitu saja tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Bawa ke UKS," suruh salah satu siswa pada yang lain. Saat korban sudah dibawa pergi oleh siswa lain, ia melangkah pergi meninggalkan kantin sekolah menyusul pelaku yang pergi entah kemana.


Gara terus berjalan seraya melihat sekitarnya untuk mencari Bagas yang merupakan pelaku kejadian di kantin tadi. Langkah kaki Gara terhenti saat melihat Bagas yang terlihat sedang bersama perempuan yang sedang berbicara dengannya. Gara mempercepat langkahnya menghampiri keduanya sebelum Bagas kembali meledakkan emosinya.


"Gas," panggilnya saat ia sudah berada di samping sahabtnya itu. Ia menatap perempuan yang menatap Bagas dengan polos. "Kenapa?" tanyanya pada Bagas yang hanya diam sejak tadi.


Bagas tidak menjawab, ia hanya menghela napas lelah lalu melangkah pergi. Ia sangat malas perdebat dengan orang lain yang tidak ia kenal.


"Heh, kamu mau kemana?" teriak perempuan itu yang diabaikan oleh Bagas.


"Kenapa?" tanya Gara yang sejak tadi menatap perempuan itu.


"Dia teman kamu?"


"I-iya," jawab Gara sedikit ragu karna Bagas tidak pernah berbicara dan meladeni sikapnya. Bagas selalu diam dan tidak peduli. Apakah Bagas memang temannya? Gara tidak tau.


"Namanya siapa?" tanya perempuan itu lagi.


"Bagas Kara ya," kata perempuan itu dengan senyum manis yang sudah mereka diwajahnya, "kelas berapa?" tanya lagi.


"XII IPA 2, kenapa memang?"


"Gak papa, aku duluan ya," ucapnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Gara tanpa menjawab dengan jelas pertanyaan Gara tadi.


♡♡♡♡♡


Rayra Kim, perempuan itu berjalan dengan riang sambil memakan roti yang ia beli di kantin seraya memainkan ponselnya. Ia tersenyum manis saat ia melihat sesuatu yang menarik dari ponselnya. "Kok lucu banget sih," ucapnya gemas dengan foto di ponselnya.


Rayra terus berjalan tanpa melihat jalannya dengan benar dan terus fokus pada ponselnya.


BRUKK


Ponsel dan roti milik Rayra terjatuh ke lantai saat tidak sengaja menabrak seseorang. Ia kaget lalu dengan cepat mengambil ponsel dan rotinya yang sudah tidak bisa dimakan lagi.


Emosinya meledak karna tidak terima roti kesukaannya sudah tidak bisa ia nikmati lagi. "Siapa sih yang-," ucapan Rayra terhenti saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


Ia terdiam kaku menatap sosok tampan yang ada di hadapannya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya saat mata tajam itu menatapnya.

__ADS_1


Terdiam beberapa saat akhirnya Rayra bangkit dengan cepat saat sosok tampan yang menabraknya melangkah untuk pergi. Ia lalu meraih tangan lelaki agar tidak pergi begitu saja.


"Kamu mau kemana?" tanya Rayra.


Lelaki itu tidak menjawab, ia malah menghempaskan tangan Rayra hingga terlepas dari tangannya dan kembali ingin melangkah, namun ia harus kembali berhenti saat tangan perempuan itu kembali meraih tangannya. Ia menatap perempuan itu meminta kejelasan.


"Ka-kamu harus minta maaf ke aku, ka-kamu juga harus ganti rugi karna udah nabrak aku sampe roti aku jatuh," jelas Rayra seraya menunjuk rotinya yang sudah tergelat dilantai.


Lelaki itu menatap Rayra sejenak lalu mengeluarkan dompet dari daku lalu memberikan uang pada Rayra yang langsung ditolak oleh perempuan itu.


"Gak mau uang, mau no WA kamu aja boleh gak?" tanyanya penuh harap dengan penuh harap. Tapi sebelum pertanyaan Rayra terjawab seorang pengganggu datang menghampiri keduanya.


"Gas," panggilnya saat ia sudah berada di samping seseorang yang ia panggil dengan sebutan Gas itu. Ia menatap perempuan yang menatap Bagas dengan polos. "Kenapa?" tanyanya pada lelaki disampingnya yang hanya diam sejak tadi.


Lelaki tidak menjawab, ia hanya menghela napas lelah lalu melangkah pergi. Ia sangat malas perdebat dengan orang lain yang tidak ia kenal.


"Heh, kamu mau kemana?" teriak perempuan itu yang diabaikan olehnya.


"Kenapa?" tanya Gara, nama lelaki yang menghampiri mereka yang sejak tadi menatap perempuan itu.


"Dia teman kamu?"


"I-iya,"


"Namanya siapa?" tanya perempuan itu lagi.


"Bagas Kara ya," kata perempuan itu dengan senyum manis yang sudah mereka diwajahnya, "kelas berapa?" tanya lagi.


"XII IPA 2, kenapa memang?"


"Gak papa, aku duluan ya," ucapnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Gara tanpa menjawab dengan jelas pertanyaan Gara tadi.


Rayra tersenyum saat mengingat nama lelaki itu lagi, "Bagas Kara, namanya bagus banget," ucapnya dengan senyum yang semakin lebar di wajahnya.


♡♡♡♡♡♡


Bagas keluar dari kelasnya dengan wajah datar yang selalu menemaninya. Ia berjalan sangat tegap dengan tatapan tajam yang memandangi sekitarnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 10 menit dan sekolah sudah tampak sunyi. Mungkin hanya Bagas yang tersisa. Ia menuruni anak tangga dengan santai, namun ia harus menghentikan langkahnya saat suara dering ponselnya terdengar. Ia mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya. Nama mamanya tertera dilayar.


Ia langsung mengangkat panggilan tanpa menyucapkan salam atau basa basi lainnya, menunggu sang mama untuk berbicara.

__ADS_1


"Kak, mama bisa minta tolong gak? Beliin gula sama tepung di indomaret sama es krim buat adek kamu, bisa ya?"


"Iya," jawabnya singkat.


"Yaudah, mama matiin telponnya-"


Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel milik Bagas sudah terjatuh kelantai karna bahunya yang ditabrak dari belakang. Ia melihat kearah belakang dan sudah menemukan perempuan yang sedang menatapnya dengan wajah terkejut.


"upss, sorry gue gak sengaja," ucap Rayra, perempuan yang tidak sengaja menabrak Bagas. Ia pikir Bagas ada kakaknya, jadi ia asal menabrak untuk mengejutkan saja. Tapi, ia salah itu bukan kakaknya. Tapi ia bersyukur dengan ini karna bisa kembali bertemu dengan Bagas.


Rayra menunduk mengambil ponsel Bagas lalu memandangnya. "Hp lu jadi rusak deh, gue ganti aja ya," tawarnya. Ia masih bisa mengganti karna keluarganya adalah keluarga yang berada jika bukan mungkin ia akan menangis meminta maaf.


Bagas hanya diam dan langsung merampas ponselnya dan pergi begitu saja. Ia benar benar sangat malas dengan hal yang menyangkut orang yang tidak ia kenal.


Rayra yang melihat hal itu langsung berlari mengejar Bagas, saat sudah dekat Bagas ia langsung meraih tangannya. "Tunggu dulu," ujarnya.


"Aku minta maaf, aku benar benar gak sengaja jatuhin hp kamu," ucap Rayra penuh sesal. "Aku bakal ganti rugi, tapi kamu harus maafin aku. Kamu mau kan?" lanjut Rayra bertanya.


Bagas melepaskan tangannya dari Rayra, menatap perempuan itu dengan lelah. Kenapa hari ini ia harus bertemu dengan perempuan ini? Dan kenapa perempuan ini sangat menyebalkan baginya?


"Rayra,"


Keduanya langsung menoleh saat seseorang memanggil nama Rayra. Ia adalah Kim Ji Hoon, kakak laki laki Rayra. Ji Hoon berlari menghampiri adiknya dengan senyum manisnya.


"Kenapa?" tanyanya lembut.


"Aku gak sengaja rusakin hp dia," kata Rayra kembali menatap Bagas, namun sayang lelaki itu sudah berjalan pergi meninggalkan mereka.


"Bagas?" tanya Ji Hoon ikut menatap punggung Bagas yang sudah menjauh menuju mobilnya.


"Iya," kata Rayra lesuh, padahal ia masih ingin berlama lamaan dengan Bagas. Namun beberapa detik kemudian ia mendongakkan wajahnya menatap Ji Hoon, "kok kakak tau?" tanyanya terkejut.


"Temen sekelas,"


"Kok bisa,"


"Yah bisalah dia kelas 12 kakak juga, bisa ajakan satu kelas, gak kayak kamu kelas 10," ucap Ji Hoon melangkah meninggalkan adiknya yang terkaget dengan pernyataannya.


"Masih mau pulang gak?" teriak Ji Hoon saat adiknya tidak kunjung menghampirinya yang sudah berada didalam mobil.

__ADS_1


Rayra tersadar, "Tunggu," ucapnta lalu berlari menuju mobil sang kakak.


__ADS_2