
"akhh," Rayra berteriak saat tangannya ditarik dengan tiba tiba dari kelas kosong yang baru saja ia lewati.
"maaf maaf, gue gak bakal nyanyi nyanyi dilorong lagi, maaf," ucap Rayra meminta maaf dengan tangan yang disatukan. Yang ada dipikirkannya sekarang adalah hantu penunggu yang menyeretnya karna kesal dengan ia yang menyanyi di lorong sepi.
"maaf maafin gue, gie gak bakal gitu lagi ma-"
"diem," kata sosok itu menghentikan ucapan Rayra.
Rayra dengan perlahan membuka matanya lalu menemukan Bagas yang ada dihadapannya.
"kak Bagas," kata Rayra tanpa sadar.
"ka-kakak nga-ngapain disini," tanya Rayra.
"berhenti ngejar gue," ucap Rayra langsung ke poinnya.
"maksud kakak," tanya Rayra berusaha memperjelas keinginan Bagas.
"berhenti ngejar gue, jangan pernah ngasih apapun lagi sama gur karna gue gak suka itu jangan gara gara lo dekat ama Gara lu manfaatin keadaan, gue gak suka ama lu," lanjut Bagas memperjelas keinginannya yang mendapat gelengan keras dan tegas dari Rayra.
"aku gak bakal berhenti ngejar kakak, gak akan pernah," tolak Rayra tegas. Ia benar benar tidak akan berhenti mengejar Bagas.
"gila?" ucap Bagas bertanya.
"iya, aku memang gila karna suka ama kakak jadi aku mohon jangan paksa aku berhenti suka sama kakak," balas Rayra.
"gue gak bakal pernah suka sama lu jadi berhenti,"
"gak mau, aku udah janji sama diri aku buat ngejar kakak sampe kakak mau jadi milik aku," ujar Rayra. Perempuan itu tersenyum memandangi wajah Bagas yang benar benar sangat dekat dengan wajahnya. Ia bahkan bisa mencium aroma mint yang menderu keluar dari mulut lelaki itu karna mulai emosi.
Bagas menempelkan tangannya kepintu dan memperdekat jaraknya dengan Rayra. Ia menatap perempuan itu dengan tajam, "gue gak bakal pernah suka sama lu," ucap Bagas kembali dengan penekanan disetiap katanya.
__ADS_1
"aku janji bakal buat kakak suka sama aku," ucap Rayra lagi.
"gak akan pernah Rayra, gue gak akan pernah suka sama lu dan gak akan pernah," Bagas menolak mentah mentah.
"aku yakin kakak bakal suka balik sama aku, mau itu sekarang atau besok atau hari seterusnya," Rayra gigih dengan pilihannya yang akan tetap mengejar Bagas.
"cewek gila," ujar Bagas yang sudah lelah dengan Rayra yang masih kokoh dengan keputusannya. Bagas menjauhkan diri, ia lalu menatap Rayra dengan smirk nya.
"gue bakal lihat seberapa kuat lu nahan keinginan lu buat dapatin gue," ucap Bagas menantang, ia lalu meraih dagu Rayra dan menekannya kuat.
"gue bakal memperlakukan lu seperti gue memperlakukan orang lain sebelum lu dan gue harap lu tahan karna dari banyaknya cewek yang ngejar gue, gak ada yang pernah berhasil sampai finish," kata Bagas dengan kekehan kejamnya.
Yah, ia sangat ingat bagaimana perempuan perempuan yang mendekatinya dulu kini sudah menjauh karna sikapnya. Sikap seorang Bagas yang belum ia perlihatkan pada Rayra. Si murid baru ini.
"aku bakal berjuang sampai finish buat dapatin kakak," balas Rayra yang membuat emosi Bagas meningkat.
Bagas terkekeh, "kita liat aja," tegas Bagas yang langsung melepaskan pegangannya dari dagu Rayra hingga ia kesakitan. Tanpa rasa bersalah Bagas langsung keluar dari kelas kosong itu meninggalkan Rayra.
Rayra menghembuskan napasnya untuk menghilangkan rasa gugup dsn takut yang singgah dihatinya sejak Bagas menariknya. Ia menatap sekeliling lalu mendudukkan dirinya dilantai. Menundukkan kepalanya lalu memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
Setelah dirinya sudah tenang, Rayra membuka matanya lalu menatap kearah depan. Ia menggepalkan tangannya. Lalu tersenyum.
"lu harus semangat Ray, lu pasti bida dapatin kak Bagas," katanya menyemangati diri sendiri. Ia kembali tersenyum dengan indah dan mengangguk mantap.
"iya, gue pasti bisa. Gue harus ngelewati banyak rintangan itu buat dapatin kebahagiaan gue, gue haru semangat," kata Rayra lagi sebelum bangkit dari duduknya.
Ia berdiri tegap dan membersihkan pakaiannya yang kotor karna debu. "semangat Ray, lu harus jadi satu satunya cewek yang bisa dapatin Kak Bagas," kata Rayra terakhir kalinya sebelun keluar dari kelas kosong itu.
♡♡♡♡♡♡
Rayra, perempuan itu terduduk dikursi belajarnya, ia sedang menulis target misinya untuk mendapatkan Bagas dibuku yang baru ia beli tadi untuk menjadi tempat mencurahkan idenya mendapatkan Bagas. Ia juga sudah menanyakan kesukaan dan kebiasaan Bagas pada Gara dan ia sudah mencatatnya dengan indah dan penuh riasan.
__ADS_1
"tahan Ray," ucap Rayra saat matanya sudah terasa sangat berat, ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan kantuknya walau ia tau itu tidak akan berhasil.
Hari sudah larut dan Rayra masih fokus dengan bukunya. Hingga pada akhirnya perempuan itu memang tertidur dengan kepala yang berbatalkan tangan yang ia lipat diatas meja. Tidak lupa dengan tangannya yang masih memegang pulpen yang ia gunakan untuk menulis.
cklek
Pintu terbuka, Ji Hoon memandang kearah dalam lalu menemukan Rayra yang sudah tertidur di meja belajar. Ia berjalan masuk dan mendekat kearah Rayra. Memandang wajah adiknya sesaat lalu beralih pada buku yang tidak sengaja Rayra timpah.
Ji Hoon menajamkan tatapannya saat matanya menangkap nama Bagas dalam buku itu. Ia memandang Rayra sebentar sebelum mengambil buku itu dengan perlahan agar tidak membangunkan Rayra. Dan berhasil, Rayra sama sekali tidak terusik dengan apa yang ia lakukan.
Ji Hoon mendudukkan dirinya disofa yang ada didalam kamar Rayra. Membuka buku itu dari awal lalu membaca semuanya dengan teliti. Ia tersenyum tipis saat membaca beberapa yang terlihat aneh dan lucu. Sesekali ia memandang wajah Rayra yang tertidur nyenyak dan nyaman.
Beberapa menit kemudian, Ji Hoon selesai dengan bacaannya. Ia menatap Rayra yang masih tertidur cukup lama lalu menggelengkan kepala menyadari keinginan adiknya. Ia mendekat lalu menyelipkan rambut Rayra kebelakang telinga karna menghalangi pandangannya.
"sepengen itu ya Ray lu sama si Bagas," tanya Ji Hoon yang tidak mendapat jawaban.
"semangat ya, gue belum pernah liat lu sesemangat ini sebelumnya," ucap Ji Hoon karna memang ini pertama kalinya ia melihat Rayra sangat semangat untuk suatu hal.
Ji Hoon meletakkan buku Rayra diatas meja lalu perlahan menggendong Rayra dan memindahkan Rayra ke ranjang. Ia mengelus rambut adiknya saat tidurnya terganggu. Ia menarik selimut untuk menyelimuti Rayra lalu mengusap kembali rambut Rayra.
"semoga hidup lu bahagia Ray, gue sayang lu," seru Ji Hoon pelan. Ia mencium sekilas kening adiknya lalu menghidupkan lampu tidur.
Ia menegakkan badannya lalu beranjak pergi. Sebelum keluar, ia terlebih dahulu mematikan lampu, "selamat malam adik gue," ucapnya lalu menutup pintu.
Beranjak menuju kamarnya untuk menidurkan diri. Tapi saat sampai dikamar ia teringat sesutu yang membuatnya langsung membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.
"kenapa?" tanya seseorang diseberang sana dengan suara seraknya.
"jangan bantu Rayra lagi, gue mau liat dia berjuang," jawab Ji Hoon menyampaikan keinginannya.
"maksud lu," tanyanya tidak mengerti.
__ADS_1
"gue mau ngeliat perjuangan Rayra, jadi gue mohon lu berhenti jadi jembatan biar Rayra yang buat jembatannya sendiri," ucap Ji Hoob langsung mematikan sambungan telepon tanpa mempedulikan seseorang yang sudah penasaran karna ucapannya tadi. Ia tidak peduli.
Ji Hoon kembali tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Dan setelahnya ia berjalan menuju ranjang dan menidurkan dirinya. Untuk mengistirahatkan dirinya.