
Bagas melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Hari sudah sangat larut, ia baru sampai ke rumah saat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Langkah Bagas terhenti saat mata tajamnya menangkap seseorang yang sedang tertidur di sofa. Bagas menghela napas lalu menghampiri Tia, sosok yang tertidur di sofa.
"ma, mama," panggil Bagas membangunkan saraya mengusap pelan rambut Tia.
Tia terbangun, ia menatap sayu putranya yang ada dihadapannya. "kamu udah pulang," tanya Tia basa basi.
Bagas hanya menganggukkan kepalanya dan menegakkan kembali tubuhnya. "mama tidur dikamar aja, kasihan papa kalo ditinggal dikamar," suruh Bagas melangkah pergi meninggalkan Tia.
"jangan lupa makan Gas," kata Bagas sedikit keras lalu melangkahkan kakinya melangkah pergi ke kamarnya.
Bagas abai, ia melangkahkan kakinya memasuki kamarnya lalu meletakkan pemberian Rayra di meja belajarnya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan dirinya Bagas membaringkan dirinya di ranjang miliknya lalu menutup matanya berpindah kealam mimpi yang indah.
♡♡♡♡♡♡
Tia, wanita itu menata rapi makanan yang sudah ia masak bersama pelayan di rumah ini. Ia tersenyum saat melihat suami berjalan mendekatinya, mencium sekilas keningnya lalu mendudukkan dirinya di kursi yang biasa ia duduki untuk makan.
"bagas pulang jam berapa," tanya Haikal, suami Tia dan papa Bagas.
"aku gak tau mas, pas aku kebangun motor Bagas udah di bagasi, jadi aku gak tau pasti kapan dia pulang," bohong Tia, karna pada dasarnya ia tau kapan Bagas pulang. Hanya saja ia tidak ingin suaminya mengetahuinya dan terjadi pertengkaran lagi.
Haikal hanya mengangguk dan memulai makannya. Tia juga ikut duduk disampingnya dan memulai makannya.
"mama,"
Keduanya mengalihkan pandangan saat suara lembut anak perempuan mereka datang menghampiri keduanya dengan baju putih abu abu yang sudah rapi ia pakai.
"pagi ma, pa," sapanya lalu mendudukkan dirinya di hadapan kedua orang tuanya.
"pagi sayang," sahut keduanya.
Tidak lama setelah itu Bagas datang lalu duduk disamping perempuan itu. Ia memakan roti yang sudah disiapkan untuknya. Ia tidak suka makan dengan hal lain selain roti. Awalnya roti yang ia makan terasa sangat enak, sampai akhirnya rasa enak itu berganti dengan hambar saat sebuah perkataan mengganggu seleranya.
"aku bolehkan berangkat sama kakak," tanya Honey, adiknya.
"gak," jawab Bagas yang membuat Honey menunduk sedih. Bagas tidak peduli, ia meminum susu coklatnya lalu melangkah meninggalkan ruang makan. Ia harus cepat cepat pergi dari rumah sebelun papanya memaksanya mengantar adiknya karna ia tidak menyukai itu. Ia sangat membencinya.
"Bagas," panggil Haikal keras yang hanya diabaikan oleh Bagas walau ia masih bisa mendengarnya. "BAGAS," tariaknya lagi dengan suara yang mulai keras.
"pa udah," ujar Tia menghentikan hentikan teriakan Haikal. Ia tidak suka saat Haikal selalu berteriak marah pada Bagas.
__ADS_1
"kenapa kamu selalu bela Bagas, dia bandel Tia, durhaka," kesal Haikal.
"Bagas bukan orang kayak gitu pa, papa mending antar Honey aja udah mau telah," ucap Tia mengalihkan topik. "kamu juga Han, jangan terlalu manja ke kakak kamu, dia gak suka," ucap Tia menatap Honey yang sudah menunduk sedih.
"kamu jangan marahin Honey," sela Haikal.
"emang dia yang salah, dia udah tau Bagas gak suka malah dilakuin, udah mending kalian berangkat aja," ucap Tia mengusir, kepalanya sudah sakit dengan semua ini.
Haikal menghela napas lalu melangkah pergi dengan Honey yang mengikutinya dari belakang.
Tia, wanita itu menunduk mengusap wajahnya kasar lalu menatap meja makan yang masih penuh dengan makanan yang belum tersentuh.
"tuhan," kata Tia dengan lelah, ia benar benar lelah dengan kondisi keluarganya tapi ia harus bersabar. Ia harus tetap menjaga keluarganya dan ia harus terus memperhatikan Bagas. Anaknya yang susah untuk dimengerti.
♡♡♡♡♡♡
Rayra sangat bahagia hari ini. Ia memeluk pinggang Ji Hoon dan meletakkan kepalanya di pundak sang kakak. Menikmati angin pagi yang menerpa wajahnya. Ji Hoon yang mengendarai motornya hanya bisa pasrah karna ia tidak ingin senyum pagi indah itu hilang walaupun ia tidak tau apa penyebab senyum itu hadir. Ia tidak peduli, ia hanya ingin senyum itu jangan hilang untuk hari ini, besok dan seterusnya.
Pagi ini Ji Hoon menjemput Rayra ke kost Rayla untuk berangkat bersama. Awalnya Rayra menolak tapi karna paksaan Ji Hoon dan ancaman lelaki itu yang tidak akan meneraktir susu kotak lagi membuat Rayra pasrah dan meninggalkan Rayla sendirian.
Rayra turun dari motor saat motor Ji Hoon sudah terparkir di parkiran sekolah. Ia menunggu Ji Hoon agar berjalan bersama menuju gedung sekolah. Rayra dan Ji Hoon mengalihkan pandangan saat motor Bagas dan Gara terparkir disamping motor Ji Hoon.
Rayra menggeleng tapi tangannya terulur untuk membuka tasnya lalu mengeluarkan bekal yang sudah ia masak tadi pagi bersama Rayla. Ia menyerahkannya pada Gara lalu kembali menutup tasnya.
"buat gue?" tanya Gara dengan senyum yang sudah mengembang.
"buat kak Bagas," jawab Rayra yang membuat senyum indah dan tampan milik Gara menghilang.
"buat gue," tanya Gara menanyakan perihal bekal untuknya.
"tanya Rayla aja, dia juga bawa bekal," jawab Rayra.
Gara mengangguk lalu mengulurkan bekal itu pada Bagas yang hanya ditatap datar oleh lelaki itu. "buat lu aja," tolak Bagas.
"gak bisa dong, ini khusus untuk kak Bagas," ucap Gara menolak lalu langsung memasukkan bekal pemberian Rayra kedalam tas milik Bagas. Ia lalu menatap Rayra yang tersenyum karena hal yang ia lakukan.
"lu tenang aja Ray, gue bakal jadi jembatan lu buat deketin Bagas," ucap Gara menepuk dadanya untuk menunjukkan keseriusannya walaupun menurut Rayra itu adalah becandaan yang ditunjukkan untuk menghiburnya.
"makasih ya kak," jawab Rayra dengan senyum manisnya. Ia lalu menatap Bagas yang menatapnya datar. Rayra membalas tatapan Bagas dengan tatapan memuja dan penuh cintanya. Ia benar benar sangat menyukai Bagas.
Bagas mengalihkan pandangannya menatap hal lain lalu melangkah menjauh dari posisi Rayra yang langsung di ikuti oleh Gara.
__ADS_1
"lu masak itu sendiri," tanya Ji Hoon. Ia tidak ingin jika Rayra melanggar peraturan keluarganya.
Rayra menatap Ji Hoon lalu menggeleng dengan mantap, "Rayla yang masak kok, gue cuman nonton sambil doa aja," jawab Rayra dengan kebohongan yang terlihat seperti kejujuran.
Ji Hoon mengangguk mengerti lalu melanjutkan langkahnya menyusul kedua temannya.
"jangan sampe lu langgar peraturan itu Ray, lu tau kan apa konsekuensinya," ucap Ji Hoon mengingatkan.
"iya kak, gue tau kok," jawab Rayra. Ia benar benar sangat tau apa konsekuensinya dan ia akan menerimanya karna sudah melanggarnya.
♡♡♡♡♡♡
"gak mau lu makan Gas," tanya Gara yang duduk disamping Bagas yang sedang fokus dengan buku bacaannya. Lelaki itu sangat suka menbaca.
Bagas menggeleng lalu menyerahkan bekal itu pada Gara.
"buat gue," tanya Gara yang mendapat anggukan dari Bagas.
"makan aja kali Gas, capek si Rayra buatnya," seru Gara.
"gue gak minat," balas Bagas.
Gara menggeleng lalu membuka bekal Rayra dan menyerahkannya pada Bagas.
"makan," perintah Gara dengan wajah seriusnya.
Dan Bagas langsung menghela napas lalu menerima bekal itu dan memakannya.
Gara tersenyum manis dan memainkan ponselnya.
Bagas adalah adik sepupunya dan untuk menyuruh Bagas dengan suara seriusnya akan sangat mudah. Walau Bagas terlihat seperti tidak memiliki sopan pada Gara ia akan tetap menerima perintah Gara karna Gara lebih tua darinya. Dan Gara yang menjadi si tua hanya memanfaatkan ke-tuaannya. Teman sepupu yang sangat rumit dan susah dimengerti.
"nanti tempatnya kasih langsung ke Rayra," kata Rayra mengingatkan.
"lu aja," tolak Bagas.
"nooo, harus lu," Gara menolak juga.
Bagas menghela napas dan melanjutkan makannya dengan malas. Ia mungkin akan memeringatkan Rayra nanti agar perempuan itu menjauhinya seperti perempuan sebelum Rayra.
Ia benar benar sangat tidak suka berdekatan dengan perempuan karna ia tidak tertarik untuk itu. Hidupnya sudah terlalu berat untuk menambah beban dengan berhubungan dengan perempuan yang dikenal rumit dan ribet.
__ADS_1