
"maksud lu tadi malam apa," tanya Gara pada Ji Hoon saat ia sudah duduk dihadapan Ji Hoon yang sedang fokus dengan tugas yang belum ia kerjakan tadi malam.
"gak ada," jawab Ji Hoon dengan pandangan yang fokus pada bukunya.
"gue yakin sih pasti ada, apaan," tanya Gara terlalu kepo. Siapa yang tidak kepo saat ditelpon tengah malam dengan pernyataan yang membingungkan. Gara saja belum mengerti sampai sekarang.
"intinya jangan pernah bantu bantu adik gue lagi buat deketin si Bagas," ucap Ji Hoon memerintah.
"napa,"
"biarin dia ngejar sendiri," kata Ji Hoon.
"tapikan kalo gue jadi jembatan buat adik lu, Bagas bakal cepat dapat," jelas Gara menyampaikan pemikirannya.
"gak usah,"
"napa, itu cara terbaik padahal," kata Gara tidak setuju dengan Ji Hoon.
"gak usah pake cara cara terbaik, Si Ray pasti bisa ngejar yang dia mau," ujar Ji Hoon yang mulai kesal dengan Gara yang banyak bicara itu.
"tapi-"
"udah deh, balik ke bangku lu sana boss lo udah datang," ucap Ji Hoon menyela perkataan Garan ia sudah benar benar kesal. Kesabarannta tang setipis tisu dibagi 5 harus dihadapin dengan Gara yang tingkat mood, kekepoan, keriaannya setinggi gunung.
"tapi-"
"balik," ulang Ji Hoon saat Gara masih tidak mau mendengarkan perkataan. "balik atau lu gue siram pake air got," ancam Ji Hoon yang mampu membuat Gara menyerah.
"iya, gue balik," jawab Gara pasrah, ia melangkah menuju bangkunya dengan malas. Rasa penasarannya masih belum terpenuhi.
Saat Gara duduk dibangkunya, ia sudah disodorkan dengan kotak bekal berwarna pink. Ia menatap Bagas.
"makan," kata Bagas seperti perintah yang membuat Gara menatap Ji Hoon yang juga menatapnya.
Ia meneguk ludahnya susah payah saat Ji Hoon memeraktekkan gerakan bahwa ia disuruh memakan makanan itu, lalu lelaki itu melihat bibir Ji Hoon berbicara tanpa suara. Ia dapat membacanya lalu Ji Hoon memeraktekkan ia yang sedang seperti menyiram sesuatu. Gara benar benar bisa dengan mudah memahami.
"makan atau lu gue siram pake air got,"
Itu adalah hal yang bisa Gara tangkap. Ia menghela napas lalu membuka bekal itu lalu memakannya.
Sangat disayangkan, padahal ia ingin kembali memaksa Bagas untuk memakannya. Karna ia bisa menebak bahwa itu adalah makanan yang diberikan oleh Rayra. Pahal ia sudah berjanji akan menjadi jembatan untuk perempuan itu tapi hal itu gagal karna kakak perempuan itu yang mengancamnya.
"kenapa gak lu makan sendiri sih, padahal enak," kesal Gara pada Bagas.
Bagas hanya diam, ia fokus pada ponselnya yang tidak berhenti berhenti berdering sejak tadi. Pesan menyebalkan yang berhasil membuat moodnya hancur dengan mudahnya.
Ray
Pagiiii kak bagas gantengggg
__ADS_1
Udah dimakan belum bekal dari akunyaa
Aku buat itudengan usaha kerass lohhhh😊
Jadi haruss dimakan yaaaa
Jangan dikasih ke kak Gara or aku bakalmarah😡😡😡
Gak boleh dikasih yang makan haruss kakak yaaa
Aku mau ngerjain tugas duluu yaaaa
Tadi malam gak sempat dikerjain karna mikirin menu sarapan buat kakakkkkm
Kakak usah ngerjain tugas kannn
Jangan kayak kak Ji Hoon yang kalo ada tugas rumah ngerjainnya di sekolahhh
Aku bisa tebak sih kalo kak Ji Hoon lagi ngerjain tugas pake muka serius jeleknya ituuuu
Entah karena apa, Bagas langsung menatap Ji Hoon saat ia membaca pesan itu. Dan ia dapat melihat bahwa Ji Hoon benar benar sedang fokus dengan bukunya.matanya yang jeli menatap buku yang satu dengan buku yang satu lagi twrlihay sangat tampan.
Bagas kembali melihat layar ponselnya dan ia dengan kaget langsung menatap sekeliling dan kembali menatap ponselnya.
Ray
Jangan ditengokkkk
Cuman mata batin aku aja yang kuat sampe bisa tau apa yang kakak lakuinnnn
kakak tau gak karna apaaaaaaa
Itu karna rasa cinta aku ke kakakkkk
Udah yaa
Bay bayyyy
Sampe jumpa di kantin nantiiiii
Love you
"lagi meliatin apa lu," tanya Gara heran karna Bagas yang sejak tadi sangat fokus dengan ponselnya sampai tidak mendengar panggilan darinya yang sudah mmanggilnya sejak tadi.
Bagas yang kaget langsung menutup ponselnya agar tidak dilihat oleh Garan si kepo.
"lu punya cewek ya," tanya Gara dengan nada menggodanya. Ia tersenyum jahil pada Bagas yang diam. "lu punya pacar kan," tanyanya sekali lagi yang mendapat pukulan dikepalanya.
"gak usah ngawur," kata Bagas lalu menyimpan ponselnya saat guru sudah maduk kedalam kelas. Bel sudah berbunyi sejak tadi. Dan Bagas tidak mendengarnya karna terlalu fokus pada pesan yang dikirimkan oleh Rayra.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡
Rayra tersenyum tipis saat pesan yang ia kirim pada Bagas sudah dibaca oleh lelaki itu. Walau yang ia harapkan adalah sebuah jawaban tapi ia tetap bahagia karna Bagas tidak mengabaikan pesannya dan tetap mau membacanya.
"kantin Ray," ajak Rayla dan Keyla yang sudah berdiri dihadapannya.
"tunggu," katanya langsung memasukkan ponselnya kesaku roknya dan menghampiri kedua temannya, keluar dari kelas dan menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah berbunyi untuk diisi.
"kak Bagas gimana," tanya Keyla.
"belum ada jawaban sih, tapi gue bakal tetap berjuang," kata Rayra.
"bagus, lu memang harus semangat buat ngejar kak Bagas," kata Rayla menyemangati yang diberi anggukan setuju oleh Keyla.
"what,"
Perkataan itu membuat ketiganya terdiam ditempat. Dan tidak lama setelah itu sekumpulan perempuan dengan make up tebal mendatangi mereka bertiga.
"lu bilang apa tadi," tanya perempuan dengan rambut yang diikat kuda. Tidak lupa dengan seragam ketatnya.
Alis Rayra terangkat bingung, ia tidak pernah bertemu dengan perempuan ini.
"kakak senior, kak Gira penggila kak Bagas," kata Keyla berbisik menghilangkan rasa bingung Rayra.
Perempuan itu mengangguk paham lalu menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
"kenapa kak," tanya Rayra dengan sopan.
"maksud lu apa tadi, mau ngejar Bagas,"
"iya, ada yang salah ya kak," tanya Rayra masih dengan senyum manisnya.
"menurut lu," tanyanya sewot. Wajahnya terlihat kesla dengan jawaban Rayra.
"menurut aku gak papa sih kak, kan kita sama sama suka sama kak Bagas jadi kita juga harus berjuang dengan cara masing masing," jelas Rayra. Ia berusaha untuk kembali tersenyum seperti tadi.
Tapi sayangnya ia tidak bisa saat perempuan dihadapannya menghela napas keras lalu menatapnya menantang. Ia mulai takut.
"lu mau ngambil Bagas dari gue, itu maksud lu," tanya Gira dengan suara kerasnya. "lu mau nyari mati masa gue," sambungnya lagi dengan suara yang lebih keras seraya ia melangkah mendekati Rayra.
"jangan main kasar," ucap Keyla yang sudah mengambil posisi didepan Rayra saat menyadari kondisi perempuan itu. Dan Rayla sudah merangkul Rayra untuk menenangkan gadis itu.
"gak usah ikut campur lo," kesal Gira.
"sorry, tapi gue harus ikut campur karna dia temen gue, dan kakak serta temen temen kakak lebih baik pergi sekarang," usir Keyla secara halus.
Elsa, teman Gira terkekeh pelan. Ia berjalan maju, "lu ngusir kita, iya," tanyanya menyondorkan wajahnya tepat dihadapan Keyla. Wajah songongnya menatap Keyla rendah. "mending lu mundur aja sebelum lu yang jadi korban," sambungnya berkata pelan.
"maaf kak, tapi gue gak bakal biarin temen gue jadi korban lu," jelasnya menolak ucapan Elsa.
__ADS_1
Elsa kembali terkekeh, baru saja tangannya terangkat untuk mendorong Keyla sebuah tangan merangkul Keyla.
"ada apa nih," tanyanya dengan senyum manis dibibirnya berbeda dengan matanya yang menatap tajam pada segerombolan murid perempuan dihadapannya.