
"kakak," panggil seseorang dengan riang menghampiri kakaknya yang ada diatas motornya.
Honey, ia tersenyum sangat bahagia karna Bagas menjemputnya hari ini. Bukan tanpa alasan, ia melakukan usaha yang keras dengan membujuk papanya agar mau menyuruh Bagas menjemputnya dan sekarang keinginannya terpenuhi. Ia tersenyum menang saat semua orang menatap iri padanya karna dijemput oleh Bagas yang sangat terkenal disekolahnya walaupun Bagas sendiri tidak sekolah disekolahnya.
"makasih ya kak udah mau jemput aku," katanya dengan senyum bahagianya.
Bagas hanya diam, ia menghidupkan mesin motornya saat Honey sudah duduk diatas motornya lalu melajukan motornya meninggalkan kawasan sekolah Honey.
♡♡♡♡♡♡
Bagas menghentikan motornya didepan minimarket. Ia turun dari motornya dan berjalan memasuki minimarket tanpa mempedulikan Honey yang mengikutinya dari belakang. Membeli semua hal yang dipesankan Tia padanya sebelum pulang sekolah tadi. Honey hanya tersenyum mengikuti Bagas. Walaupun Bagas tidak menganggapnya ia tetap merasa bahagia karna bisa mrnghabiskan waktu bersama Bagas.
"kak, aku bolehkan beli es krim," tanya Honey yang diabaikan oleh Baga. Karna Bagas hanya diam Honey langsung memilih es krim yang ia mau. Cukup lama ia langsung menghadap ke posisi Bagas saat ia mrnemukan es krim yang ia mau. Namun ia tidak melihat keberadaan Bagas. Ia memandang kesana kemari sampai akhirnya ia melihat Bagas yang sudah berdiri dudepan kasir.
Ia berjalan mendekati Bagas dan menggenggam lengan Bagas yang langsung disingkirkan oleh Bagas.
"totalnya seratus empat puluh tiga mas, ada yang ingin dibeli lagi," tanya mas kasir dengan memasukkan belanjaan Bagas ke plastik.
"ini mas, gabungin aja," kata Honey menyerahkan es krimnya.
"semuanya jadi seratus lima puluh mas,"
Bagas mengambil dompetnya lalu mengeluarkan uang berwarna merah dan biru lalu memberikannya pada mas kasir. Setelah itu Bagas langsung pergi dari sana.
"pacarnya ya mbak," tanya mas kasir yang mendapat senyuman dari Honey. Ia hanya mengangguk lalu menyusul Bagas.
♡♡♡♡♡♡
Sesampainya di rumah Bagas langsung menuju ke dapur untuk meletakkan belanjaan yang ia beli. Dan sialnya Honey masih mengikutinya yang membuatnya menghela napas kasar. Ia sudah menahan emosinya sejak tadi karna tingkah Honey dan apa perempuan itu tidak menyadarinya.
"menjauh dari gue," ucap Bagas penuh penekanan, ia memang sudah sangat muak sekarang. Ia sangat menbenci perempuan itu dan perempuan itu malah mencoba mendekatinya sekarang.
"gak mau," Honey menggeleng dengan bibir yang mengkerut tidak suka dengan ucapan Bagas yang seolah mengusirnya.
"menjauh Honey," tegas Bagas sekali lagi dengan tangan yang sudah mengepal kuat.
"gak mau kakak," balas Honey dengan ekspresi marahnya yang ia buat imut. Namun ekspresi itu berubah menjadi tatapan kaget saat tangan Bagas sudah mencekik lehernya.
"gue bilang menjauh berarti lu memang harus menjauh paham," seru Bagas pelan dengan aura gelapnya. Tangannya memperkuat cengramannya saat tangan Honey berusaha melepaskan tangannya.
"le-lepas kak," mohon Honey, napasnya sudah mulai menipis sekarang dan ia susah untuk bernapas.
__ADS_1
"nooo, lu pikir bisa semudah itu lepas dari gue? Jangan gara gara gue mau ngejemput lu itu artinya gue mau nerima lu karna itu gak mungkin," kata Bagas menatap tajam Honey saat kejadian masa lalu menghampiri pikirannya.
"ma-af kak, aku cu-man mau de-dekat sama kakak," kata Honey terbata bata.
"lu pikir semudah itu buat dekat sama gue?"
"a-ku min-ta maaf," isak Honey karna ia sudah menangis sekarang. Ia sangat takut dengan tatap Bagas sekarang. Tatapan yang sangat mengerikan.
Bagas melepaskan tangannya yang membuat Honey langsung terduduk dilantai. Ia terbatuk dengan tangan menggenggam lehernya yang terasa sakit karna ulah Bagas tadi.
Bagas merendahkan dirinya, menatap Honey dengan senyum tipisnya yang terlihat menyeramkan. Ia meraih rambut Honey dan menariknya kebelakang dengan kuat hingga membuat Honey mendongak menatapnya.
"jangan sampe papa tau tentang hal ini, karna kalo papa tau lo bakal mati ditangan gue seperti yang lu lakuin dulu paham," ujar Bagas pelan yang membuat Honey langsung mengangguk mengerti.
"tutupi bekas yang ada di leher lu, jadi cewek gak usah murahan," kata Bagas sebelum meninggalkan Honey yang memantung sendirian.
"gak mungkin kak Bagas tau," lirih Honey menutupi leher yang menatap sekitar dengan takut. Takut jika ada orang lain yang melihat ia dan Bagas tadi.
♡♡♡♡♡♡
"appa," panggil Rayra seraya berlari menghampiri Kim Hyeong yang baru saja masuk ke dalam rumah. Hyeong tersenyum lalu merentangkan tangannya dan memeluk Rayra dengan bahagia.
"eomma mana," tanya Rayra saat pelukan Hyeong terlepas.
"disini sayang,"
Raysa, eomma Rayra datang menghampiri dengan Ji Hoon yang membawa koper dibelakang Raysa.
"eomma," panggil Rayra dengan senyum bahagianya lalu menghampiri eommanya dan memeluknya erat.
"kok lama," tanya Rayra masih memeluk Raysa.
"salahin appa kamu, masa eomma ditinggal sendiri dimobil mana kopernya gak bawa ke dalam lagi, jadi eomma masih harus ngurus itu untung ada oppa kamu yang datang bantu eomma," kesal Raysa mengingat bagaimana dengan teganya Hyeong meninggalkannya dengan koper besar milik mereka berdua. Untungnya Ji Hoon yang baru pulang mau membantunya.
"kok gitu sih," ucap Rayra ikut kesal dengan appanya.
"gak tau, tanya appa kamu sana," seru Raysa melepas pelukannya dan menatap kesal suaminya yang sudah ada dihadapannya.
"appa jahat, kok ninggalin eomma sendirian," gerutu Rayra kesal.
Hyeong yang dimarahi oleh putrinya terkekeh gemas, tangannya terulur mengusap rambut sang anak, "yah maaf, appa semangat banget buat ketemu sama kamu soalnya appa kangen banget sama kamu," kata Hyeong mencubit gemas pipi Rayra.
__ADS_1
"appa," kesal Rayra yang langsung menjauhkan tangan Hyeong. "appa jahat, eomma kita pergi saja," ajak Rayra yang langsung membawa Raysa menjauh dari Hyeong.
Hyeong hanya terkekeh lalu menghampiri Ji Hoon dan memeluk putra sulungnya. "kalian baik baik saja kan," tanya Ji Hoon setelah melepas pelukannya dan meraih koper yang Ji Hoon bawa.
"baik appa, tapi ada masalah dengan Rayra," kata Ji Hoon memberi tahu apa yang terjadi selama orang tuanya tidak ada dirumah.
"kita bicarakan nanti, sekolah kalian bagaimana? Kau menyukainya," tanya Hyeong lagi.
"suka, hanya saja aku tidak menyukai seseorang disana," jelas Ji Hoon lagi.
"kita urus itu semua nanti, sekarang aja adikmu ke mobil ada haduah untuk kalian disana, appa dan eomma ingin membersihkan diri dulu," ucap Hyeong yang mendapat anggukan dari Ji Hoon.
Ji Hoon lalu menghampiri Rayra yang terduduk nyaman di sofa, sedangkan Hyeong sudah pergi ke kamar menyusul istrinya.
"lu mau hadiah gak," tanya Ji Hoon saat sudah ada dihadapan adiknya.
"mau," jawab Rayra seraya menganggukkan kepalanya.
"yaudah ayo," ajak Ji Hoon.
"ayo kemana," tanya Rayra masih duduk di sofa seraya memainkan ponselnya.
"ngambil hadiah dimobil appa," jelas Ji Hoon.
"gak mau ahh, males," tolak Rayra.
"yaudah, tapi hadiah lu buat gue ya,"
"gak bisa gitu dong," ucap Rayra tidak terima dengan keputusan Ji Hoon. Enak saja hadiahnya diambil. Ia juga menginginkan hadiah itu.
"makanya ayo, hadiah di mobil gue gak bisa bawa sendiri," kata Ji Hoon.
"lu aja lah kak, lu kan kuat pasti bisa bawa semuanya," balas Rayra yang kembali duduk.
"yaudah buat gue 80 persen bat lu 20 persen, setuju gak setuju gue gak peduli, gue yang ambil," kata Ji Hoon lalu pergi dari ruang tamu tanpa mempedulikan Rayra yang menggerutu kesal.
"jahat banget," gerutu Rayra lalu bangkit dari duduknya dan menyusul Ji Hoon yang sudah keluar terlebih dahulu.
"lihat aja, bakal gue balas," batin Rayra tidak terima dengan apa yang Ji Hoon lakukan. 80 persen? 20 persen? Rayra tidak bisa menerima itu. Sangat tidak bisa.
Ji Hoon tersenyum miring melihat Rayra yang menghampirinya dan mulai mengambil hadiah yang ada di dalam mobil satu persatu.
__ADS_1