BAGAS KARA

BAGAS KARA
BAGASKARA 10


__ADS_3

"ada apa nih," tanyanya dengan senyum manis dibibirnya berbeda dengan matanya yang menatap tajam pada segerombolan murid perempuan dihadapannya.


Elsa memundurkan tubuhnya saat melihat siapa yang datang. Ia terdiam memandang takut.


"kenapa," tanya Gara lagi. Alisnya terangkat saat perempuan dihadapannya ini tidak mau membuka mulut untuk berbicara. Gara menghela napas kasar. "pergi," usirnya dengan tangan yang menunjuk ke mereka untuk menjauh. "PERGI GAK," teriaknta yang sudah emosi.


Gira, Elsa dan teman temannya langsing berlalu begitu saja, takut dengan Gara yang mulai emosi.


Gara menatap kepergian segerombolan perempuan itu lalu melepaskan rangkulannya dari Keyla yang masih mematung. "lu gak papa,"


Keyla menatap kearah Gara saat pertanyaan lelaki itu terdengar. Ia menatap Gara yang sedang menatap Rayra yang masih panik. Lelaki itu mengelus pelan rambut Rayra dengan senyum manisnya yang ditunjukkan untuk menenangkanRayra.


"gak papa," jawab Rayra yang langsung dipeluk oleh Ji Hoon.


"lu buat masalah," tanya Ji Hoon yang mendapat gelengan dari Rayra. Lelaku itu menghela napas lalu menyuruh Gara, Rayla dan Keyla untuk meninggalkan mereka berdua yang langsung dituruti oleh mereka.


"pulang," saran Ji Hoon yang mendapat gelengan dari Rayra.


"dirumah gak ada temen," ucap Rayra.


"ke rumah nenek, gue izinin nanti," Ji Hoon membujuk kembali. Ia tidak ingin Rayra kenapa kenapa jika dibiarkan tetap disekolah, Rayra harus beristirahatkan dirinya untuk menenangkan dirinya.


Rayra hanya memangguk, ia mengeratkan pelukannya pada Ji Hoon. Berusaha mencari ketenangan dan keamanan dari pelukan kakaknya.


"lu serius gak buat masalah sama mereka," tanya Ji Hoon sekali lagi. Ia takut jika hal ini terjadi lagi pada Rayra.


Rayra menggeleng, "gak ada," jawabnya lagi dengan jawaban yang sama.


"yaudah, kita pulang," kata Ji Hoon pafda akhirnya menuntun Rayra menuju kelas.


♡♡♡♡♡♡


Istirahat kedua, Bagas menghabiskan waktunya didalam perpustakaan dengan buku yang ia baca dengan fokus. Ia malas untuk pergi ketempat lain karna ia akan bertemu dengan Rayra adik Ji Hoon yang sangat menyukainya. Bukannya sombong atau percaya diri dengan hal itu tapi Bagas benar benar bisa menangkap bahwa Rayra benar benar menyukainya.


Fokus Bagas teralihkan saat suara dering dari ponselnya terdengar. Ia meletakkan ponselnya lalu mengambil ponselnya. Terdapat pesan dari Rayra. Awalnya ia menghiraukan pesan itu namun topik yang Rayra bahas terlihat menarik hingga ia akhirnya membuka pesan dari Rayra.


Ray


Kak bagassss


Ihhh maaf banget aku gak nyamperin kakak hari ini, soalnya aku lagi sakittt😔😔


Jadi gak bisa nyamperin kakakkkk dehhh


Tapi tenang ajaa, aku udah titip susu coklat sama cemilan lain buatt kaka sama ka Ji Hoon


Jadi nanti minta ajaaaa


Nanti kalo Kak Ji Hoon bilang gak ada bilang sama aku ajaaa


Biar kak Ji Hoon aku pukul pulang sekolahhh


udah yaaa


aku mau berobat dulu


Bay bayyy


Semangat belajarnya sayangggg


Love youuu

__ADS_1


ohh ya kakak


Tau gak, tadi aku diganggu ama kak Gira


Kata Keyla penggila kakakk


Ihh, gak suka bangett


Masa dia nyuruh aku buat jauh jauh dari kakakkkk


Kan gak bisaaa


Dia bilang jangan deketin kakak trus aku bilang bersaing secara baik ajaaa


Eh dianya gak mauuu


Malah nantang lagiii


Kakak jangan mau ya sama cewek kayak gituuu


Gak baikk


Sama aku ajaaa


Oke


Baybay nenek udah manggill


Bagas tampak berpikir saat nama Gira tergiang dikepalanya hingga akhirnya ia bisa mengingat siapa itu Gira. Sekian lama berfikir, Bagas langsung menggrlengkan kepalanya untuk melupakan hal tersebut karna tidak dapat mengingat sosok Gira dan untuk apa juga ia memikirkannya.


"Gas bagas," panggil seseorang dari arah belakang. Bagas menoleh, ada Gara dan Ji Hoon yang menghampirinya.


"buat lu," ucap Ji Hoon yang mendapat gelengan dari Bagas. "lu gak mau," tanya Ji Hoon yang mendapat gelengan kembali dari Bagas yang membuatnya mengangguk.


Ia mengeluarkan semua isi dalam plastik itu dan menyusunnya. "makan Gar, gue gak bisa makan sendiri," ajak Ji Hoon.


"wihhh, makan kita," seru Gara kegirangan dan langsung mengambil susu coklat kotak. Ia menatap Bagas bingung saat lelaki itu juga mengambil apa yang ingin ia ambil.


"buat gue," kataBagas menarik minuman itu untuknya. Membukanya lalu meminumnya.


"katanya gak mau," sindir Ji Hoon memakan coklatnya.


Bagas hanya diam dan kembali membaca bukunya.


"Rayra gimana," Gara bertanya dengan mulut penuhnya. Ia baru teringat dengan adik Ji Hoon karna tidak melihat perempuan itu sejak kejadian tadi.


"pulang," jawab singkat Ji Hoon.


Gara mengangguk mengerti lalu menatap Bagas yang sibuk dengan bukunya dan bodoh amat dengan kedua manusia dihadapannya.


"lu gak nanyain Rayra kenapa," tanya Gara.


"for what," tanya Bagas mengangkat alisnya bertanya.


"siapa tau lu peduli ama adik ipar gue,"kata Gara.


"gak," jawabnya singkat.


Gara ingin kembali membuka pembicaraan tapi terhenti saat ponsel Ji Hoon berdering. Tertera nama papanya disana.


Ji Hoon bangkit dari duduknya lalu berjalan menjauh dari kedua temannya yang membuat Gara penasaran.

__ADS_1


"Rayra udah gimana ya, tadi muka takut banget pas liat Gira," gumamnya pelan yang dapat ditangkap jelas oleh telinga Bagas.


"dia kenapa," tanya Bagas.


Gara mencibir menatap Bagas kesal. Tadi tidak ingin tau sekarang bertanya kenapa. Dasar plin plan.


"gak papa, kenapa nanya tadi gak mau tau," kesal Gara.


Bagas menghela napasnya mendengar perkataan Gara. Ia kembali fokus pada bukunya.


"gitu doang, gak maksa gue buat cerita gitu," ujar Gara tambah kesal.


Bagas menggeleng.


"serius gak mau tau," tanya Gara memastikan dan tetap mendapat gelengan dari Bagas. "yaudah," sambung Gara kembali memakan cemilannya.


"kenapa," tanya Bagas lagi yang membuat Gara menghela napas pelan. Benar benar plin plan. Batin Gara berteriak meneriaki Bagas.


"lu serius pengen tau, ini buat terakhir kalinya setelah itu gue bakal nendang lu ampe hutan nil," jelas Gara memberi ancaman.


"hutan amazon," kata Bagas memperjelas.


"iya itu, lu mau? Kalo gak mau jawab gue jujur, lu mau tau atau gak," tanya Gara memastikan untuk kesekian kalinya.


"gak," jawab Bagas singkat lalu bangkit dari duduknya dan pergi dari sana karna bel masuk sudah berbunyi.


"YAUDAH KALO GITU GAK USAH NANYA ANJING, PLIN PLAN BANGET JADI ORANG," emosi Gara meledak.


"GARA," teriakan itu membuat Gara terdiam, ia menatap kearah belakang dan melihat Bu Rika, penjaga perpustakaan yang sudah menatapnya dengan wajah galaknya.


"bu," gumam Gara pelan. Ia menatap kearah tempat Ji Hoon menerima telpon namun sayangnya lelaki itu sudah tidak ada disana. Ia menatap kearah pintu dan dapat melihat Ji Hoon yang sedang melambaikan tangan padanya dengan senyum jail yang tersungging indah diwajahnya.


"sial, Ji Hoon anjing," batin Gara. Lihat saja, ia akan membunuh Bagas dan Ji Hoon nanti.


"Gara, kamu dengar saya kan," tanya bu Rika karna Gara masih diam ditempatnya.


Gara tersenyum simpul lalu berbalik menatap Bu Rika.


"iya bu,"


"apa berteriak didalam perpus itu boleh," tanya Bu Rika.


"enggak bu,"


"apa makan didalam perpus itu boleh," tanya bu Rika lagi.


"enggak bu," jawab Gara lagi menunduk meratapi nasibnya.


"bagus kalo kamu tau," ujar Bu Rika.


"maaf bu,"


"saya maafkan, tapi kamu harus diberi hukuman," jelas Bu Rika.


"iya bu," balas Gara pasrah. Ia tidak bisa lari kemana mana lagi. Oleh karna itu, ia akan menerima hukuman ini dengan hati yang sedikit berat diikuti dengan umpatan pada kedua temannya itu.


"bersihkan seluruh perpus, SEKARANG," kata bu Rika penuh penekanan yang membuat Gara lagi lagi menghela napas pasrah.


"baik bu," kata pelan dan mulai mengerjakan hukumannya.


"Bagasnjing, Ji Hoon sialan awas lu berdua," batinnya dalam hatinya. Ia benar benar akan membunuh kedua temannya nanti. Ia berjanji akan membunuh keduanya

__ADS_1


__ADS_2