BAGAS KARA

BAGAS KARA
BAGASKARA 06


__ADS_3

"Rayla tolongin gue,"


Rayla menghela napas kasar saat teriakan Rayra kembali menggelegas dapur kost. Hanya ditinggal sebentar saja Rayra sudah berteriak meminta tolong padanya.


"kenapa sih Ray," tanya Rayla dengan nada lelahnya. Lelah menghadapi Rayra yang sudah belajar memasak dengannya selama seminggu ini.


"gue lupa potongin dada ayamnya," jawab Rayra.


"trus?" tanya Rayla lagi.


"gue lagi ngegoreng tempe, potongin ayamnya dulu biar nanti minyaknya gak gosong karna kelamaan nunggu ayamnya," jawab Rayra memperjelas maksudnya, ia memang sedang menggoreng tempe. Dan tempenya akan segera masak. ia takut jika menunggu ia memotong ayamnya minyak dalam wadahnya akan gosong.


"lu bisa matiin kompornya Ray," kata Rayla yang benar benar kesal dengan Rayra yang tiba tiba bodoh saat sedang memasak.


"oh iya ya," ucapnya tersadar lalu mematikan kompor dan mengangkat tempe yang sudah matang. Ia meletakkannya dimeja dapur lalu melanjut memotong ayamnya.


"nanti malam gue nginap ya," ucap Rayra meminta persetujuan dari Rayla si pemilik kamar kost.


"kenapa?" tanya Rayla dengan alis yang terangkat.


"gue mau masak buat dikasih ke kak Bagas," jelasnya.


"dirumah lu,"


"gue takut ketauan kak Ji Hoon,"


Rayla mengangguk paham dengan maksud Rayra lalu setelah itu ia membantu Rayra menyelesaikan masakannya untuk makan malam mereka malam ini.


"makasih ya La, udah ngajarin gue masak," ucap Rayra untuk sekian kalinya. Rayla sampai bosan mendengarnya.


"hm," jawab Rayla berdehem, "nanti kita ke indomaret bentar ya Ray, gue mau beli sesuatu," sambung Rayla yang mendapat anggukan mantap dari Rayra.


Keduanya sama sama terdiam dan terfokus dengan kegiatan masing masing. Rayra yang masih terlihat kaku karna masih hal baru baginya dan Rayla yang sudah terbiasa.


♡♡♡♡♡♡


Rayra dan Rayla, keduanya sudah berada di indomaret setelah mereka sudah siap dengan kegiatan mereka sore tadi.


Rayra sudah meminta izin pada Ji Hoon dan lelaki itu memberi izin dengan syarat jangan terlambat ke sekolah besok, karna besok adalah hari senin. Hari yang paling tidak disukai oleh Rayra.


"La, rasa coklat, vanila atau stroberi?" tanya Rayla yang sedang fokus dengan susu kotak yang ada dilemari pendingin.


"semua aja," jawab Rayra datang dengan baju tidur biru muda bermotif kuda poninya dibaluti dengan kardingan pink miliknya. Jangan lupa dengan rambutnya yang digerai menambah tingkat keimutan dan kecantikannya.


"oke, lu udah selesai belanjanya," tanya Rayla mengambil beberapa susu kotak sesuai arahan Rayra. Itu semua adalah milik Rayra si penyuka susu kotak.


"udah," jawab Rayra.

__ADS_1


Keduanya kini melangkah mendekati kasir lalu membayar belanjaan milik keduanya dan melangkah keluar dari indomaret.


"belanjaan lu banyak banget," kata Rayla mengejek Rayra yang membawa satu plastik penuh, berbeda dengan Rayla yang hanya membawa plastik setengah dari milik Rayra.


"lu juga banyak ya," balas Rayra dengan senyum yang terpatri diwajahnya.


Langkah Rayra terhenti saat ia berhadapan dengan orang lain yang ingin masuk ke dalam indomaret. Rayra lalu mendongak dan terkejut melihat Bagas yang mematapnya dstar dengan wajah yang terluka di sudut mata dan bibir.


"kak Bagas," panggil Rayra tanpa sadar. Ia terus menatap Bagas sampai akhirnya Bagas melangkah melewatinya.


"kak Bagas luka Ray," ucap Rayla menyenggol Rayra yang masih mematung langsung tersadar.


Rayra berbalik menatap punggung Bagas yang terlihat sedang memilih minuman di lemari pendingin.


"La, lu bisa gak bawa belanjaan gue ke kost," pinta Rayra meminta tolong.


"lah, lu mau kemana?" tanya Rayla bingung.


"mau ngurus kak Bagas bentar," jawab Rayra yang langsung menyerahkan belanjaannya pada Rayla. "nitip ya," sambungnya lalu melangkah kembali masuk ke dalam indomaret.


"orang bucin mah gitu," kata Rayla kesal lalu melangkah pergi meninggalkan Rayra dengan belanjaan yang sudah memenuhi tangannya.


♡♡♡♡♡♡


"kak Bagas,"


Rayra tersenyum, ia lalu meletakkan barang yang ia beli dimeja kasir. "samain sama milik kakak ini ya mbak," suruh Rayra sambil menunjuk Bagas.


Bagas menatap Rayra dengan bingung. Kenapa perempuan ini menyamakan belanjaannya?


"aku beli itu buat kakak, aku mau ngobatin luka kakak jadi beli itu," jelas Rayra saat menyadari Bagas yang menatapnya penuh tanya.


"gak perlu," tolak Bagas.


Rayra terpaku saat suara milik Bagas yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Suara Bagas membuat jantung berdegup dua kali lebih cepat.


"ha-harus di-diobatin aku ta-takut luka kakak infeksi," jelas Rayra yang sudah tersadar, ia mengambil plastik belanjaan yang mbak kasir berikan lalu menatap Bagas penuh gugup. Rayra merasa gugup karna suara yang Bagas keluarkan tadi.


"a-ayo," ajak Rayra.


Bagas hanya mampu menghela napasnya pelan. Ia ingin pergi tapi minuman yang ia beli ada dalam plastik milik Rayra. Ingin membeli kembali sangat malas, jasi ia hanya bisa pasrah mengikuti Rayra.


Keduanya terduduk di kursi yang sudah tersediakan di depan indomaret. Rayra langsung mengeluarkan kapas dan dan botol minum yang ia beli untuk membersihkan luka Bagas.


"kakak bisa deketan dikit gak," tanya Rayra.


Bagas melakukan apa yang Rayra katakan untuk mendekat dan meminum minuman kaleng miliknya. Untuk sekarang ia sangat malas berdebat dengan Rayra yang sudah bisa ia baca sifat karna perempuan itu yang selalu mengejarnya beberapa hari ini. Apalagi moodnya yang sedang berantakan membuatnya hanya terdiam saat Rayra mulai membersihkan lukanya.

__ADS_1


"kalo sakit bilang aja," ucap Rayra. Ia melanjutkan perkerjaannya memberikan luka Bagas dengan pelan. Walau dalam hati ia sedang merapalkan doa agar dirinya bisa mengendalikan dirinya dan bersikap baik tanpa rasa gugup yang mendera dirinya.


"kakak habis dari mana, kok bisa luka gini," tanya Rayra mencoba mencairkan suasana diam antara keduanya.


"bukan urusan lu," jawab Bagas datar kembali meminum minumannya. Ia menatap Rayra sekilas. Dan kembali membuang pandangannya saat Rayra kembali menatapnya.


"nanti sampe rumah lukanya diobatin lagi ya," suruh Rayra mengingatkan lalu menempelkan dengan perlahan plaster bermotif bunga di sudut mata Bagas yang terluka.


"hm," jawab Bagas singkat.


"suara kakak bagus deh," puji Rayra dengan senyum manis di wajahnya. "aku belum pernah dengar suara kakak, aku pikir kakak gak mau ngomong karna suara kakak kecil ternyata enggak, suara kakak bagus banget aku suka," sambung Rayra lagi dengan kedua jempol yang ia tunjukkan pada Bagas menandakan bahwa suara Bagas benar benar sangat bagus untuknya.


Bagas hanya menatap Rayra sekilas tanpa mau membalas pujian Rayra padanya. "gue pulang," Bagas berdiri dari duduknya.


"tunggu,"


Bagas berhenti, ia menatap Rayra bertanya.


"aku boleh ikut sama kakak gak? sampe depan sana kok," ujar Rayra meminta seraya menunjuk kost milik Rayla yang tidak terlalu jauh dari indomaret.


"gak," tolak Bagas melangkah menuju motornya.


"aku ikut pokoknya," kata Rayra membereskan barangnya lalu mengikuti Bagas.


"aku ikut ya," mohon Rayra lagi dan Bagas hanya diam diatas motornya. "diam artinya iya," sambung Rayra menjawab sendiri lalu meraih pundak Bagas untuk membantunya menaiki motor sport milik Bagas.


"udah,"


"udah," balas Rayra.


Bagas lalu menghidupkan motornya dan mengemudikannya menjauh dari indomaret.


♡♡♡♡♡♡


"ini jangan lupa dibawa pulang buat bersihin luka kakak kalo luka lagi,"


Rayra mengulurkan plastik berisi kapas dan plaster sisa ia mengobati Bagas tadi.


"hm," jawab Bagas menerima pemberian Rayra.


Ia lalu melajukan motornya tanpa memerdulikan Rayra.


"hati hati kak," teriak Rayra kuat agar Bagas mendengarnya walau ia yakin lelaki itu tidak akan mendengarnya. Setelah itu Rayra tiba tiba tersenyum manis saat mengingat apa yang baru ia alami beberapa menit yang lalu. Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat suara merdu Bagas kembali terdengar dalam pikirannya.


"merdu banget," ucapnya penuh ria.


Ia lalu menghembuskan napasnya teratur agar menghilangkan rasa bahagianya gar tidak tertangkap oleh Rayla nanti. Ia tidak ingin sahabatnya itu tau tentang apa yang ia alami. Ia akan menyembunyikannya untuk beberapa saat dan akan menceritakannya suatu saat nanti.

__ADS_1


"semangat Ray, kak Bagas didepan mata," seru Rayra menyemangati diri sendiri dan melangkah masuk kedalam kost tempat Rayla tinggal.


__ADS_2