
"Gimana pekerjaanmu hari ini. Tadi kutanya sama Ayah, dia malah menjawab, tanya saja pada Istrimu. Apa pekerjaanmu kurang menyenangkan? Tapi wajahmu baik-baik saja." Pertanyaan dari suamiku.
Aku hanya diam sementara dia terus berbicara. Dan tersenyum kecil, ternyata dia sangat mengkhawatirkanku.
"Baik-baik saja," aku melangkah mendekat padanya setelah menidurkan putraku tersayang, Rama Lian Safaarga.
"Lalu kenapa Ayah bilang tanya saja pada Istrimu. Apa kau berbohong?"
Aku menggeleng. "Tidak. Untuk apa aku bohong. Hariku hari ini … baik-baik saja! Bahkan lebih spesial dari hari sebelumnya!" sangkin bahagianya, aku memeluknya dengan mengalungkan kedua tangan di lehernya.
"Apa kau mau menggodaku?"
Hah? Dia katakan kebahagiaanku adalah trik menggoda? Aku menjauh dan merasa malu. "T-tidak, aku hanya … senang. Hanya itu, tidak lebih," tuturku jujur.
Hahaha.
Tawa. Hanya itu yang kudengar. Membuat kepala ini mendongkak dan melihat wajahnya yang penuh senyum lebar.
__ADS_1
"Pada suami sendiri malu, kamu kenapa sih, Dena?" dia mendekat dan menjadikan bahu ini sandarannya.
Dia menyentuh rambutku, menyingkirkan rambut kecil itu ke belakang telinga. Aku sangat tersipu.
Jujur, selama dua tahun menikah dengannya, kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri, berpegangan tangan saja jarang apalagi bercanda seperti ini.
Dia memang bermulut manis dan lembut, tapi lagi-lagi dia jarang berbicara padaku.
Apalagi tuntutan pekerjaannya dan pelajaranku selama kuliah, kami seperti orang asing yang bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan.
Dia sangat baik. Entah mengapa aku mengangguk. Senyum terlihat di kedua sudut bibirnya, malah semakin lebar adanya.
Mendadak dia menggendongku ala bridal style. Oh, Tuhan ini mengejutkan sampai aku perlu berteriak. "Aaaa…" dia membaringkanku di tengah ranjang. Jas dokternya belum terlepas dari tubuh, kini dilepasnya. Tampaknya dia sangat bersemangat, tetapi aku? Aku deg-degan di sini.
Kami memang sudah menikah, namun lagi-lagi bayangan masalalu terlintas membuatku takut. Ini juga membuatku menyesal akan keputusan yang kubuat.
"Apa kita boleh mengundurnya?"
__ADS_1
Dia mendekat padaku dengan posisi telungkup, tapi kedua tangan dan kakinya dijadikan sanggahan supaya aku tidak tertindih.
"Aku sudah menunggunya lama … sekali. Memang aku dokter, selalu melayani banyak wanita dengan berbagai keluhannya. Dan malam ini aku mau lepas dari puasa, aku sudah lama tidak menyentuh wanita, sejak almarhum istriku pertama mengandung anak pertama dan satu-satu kami yang juga sudah meninggal. Boleh, ya? Hanya hari ini … saja, bukankah aku sudah janji, aku akan tetap menyayangi putramu seperti aku menyayangi putramu sekarang? Apa yang perlu ditakutkan? Kita sah dalam pernikahan, Dena Aulia. Aku berhak atasmu."
Penjelasannya panjang lebar. Memang ada benarnya, dia membujukku, merayuku dengan banyak cara agar pertahanan ku goyah.
Apa hari ini kami akan bersatu layaknya suami istri?
Tapi aku sangat takut untuk menolaknya.
"Jangan ingat-ingat lagi masalalu, semua sudah hilang terhempas sejak lama. Ayo kita mulai hidup baru, DenaAulia, aku sudah membahagiakanmu, apa ini balasan atas semua kebaikanku?" dia menyentuh anak rambutku dan memutarnya.
"Ya sudah, aku setuju."
Dia terlihat sangat bahagia. Langsung mencium keningku dan turun perlahan ke hidung dan bibirku. Dia melakukannya dengan sangat baik, ini cukup membuatku terbuai.
Turun ke leher, kecupan hangat dari bibirnya yang basah, membuatku geli. Lampu dimatikan… dan malam itu terjadi.
__ADS_1