BALAS DENDAM MANTAN ISTRI

BALAS DENDAM MANTAN ISTRI
34. Nasip Sial


__ADS_3

"Kenapa lagi-lagi kamu ga tidur-tidur juga sih, sayang? Kamu lagi mikirin apa, hm…" tanya Ray seraya membelai rambut Dena yang sedari tadi tidak tidur.


Dena berdiri di balkon menatap keheningan malam. Angin sepou-sepoi menerpa. Mendengar suara suaminya, ia menoleh kemudian menggeleng. "Enggak. Enggak kenapa-napa," jawab Dena gugup.


Dalam kepala Dena terbayang-bayang sosok Rafa. Entah apa yang terjadi, namun yang pasti, otak Dena sudah bermasalah.


Kajadian ini tidak terjadi sekali dua kali.


Selama satu tahun setelah hukuman tahap pertama lancar, Dena merasakan perasaan asing yang tidak biasa.


Rasa bersalah dan terus kepikiran apakah Rafa baik-baik saja setelah semua kejadian yang menimpa.


Meski perbuatan Rafa di masalalu tidak seberapa dengan hukuman yang diberikan Dena, tetap saja. Dena bukan wanita tegaan.


"Tiap malam kamu gini. Ga cape? Harus pake obat tidur biar kamu bisa tidur, ya?" tanya Ray kembali.


"Kamu tau itu jelas ga baik sama kesehatan," jawab Dena segera pergi dari depan Ray. Ia melepas jaket tebal yang selalu dikenakannya supaya tidak kedinginan dan menggantungkan benda itu di hanger.


Ray menatap Dena. Jelas ia penasaran setelah semua yang terjadi. Namun terus menunda penyelidikan karena merasa Dena sedang banyak pikiran jadi sulit tidur.


Apalagi Dena yang semakin tertutup padanya.


'Huh, selagi bukan menggangguku. Untuk apa cari tahu,' pikir Ray tanpa berpikir panjang langsung masuk kamar dan menutup pintu yang menghubungkan kamar dan balkon.

__ADS_1


Sedang di sisi lain.


"Ini teh hangatnya, nak Ray."


"Makasih, Bi."


Di perjalanan, Yunda mendadak sakit dan Ray benar-benar tidak tau harus bermalan di mana. Jalan yang tengah dilewati Rafa adalah hutan. Jelas Rafa takut kalau ada hewan buas.


Rafa berjalan hingga bertemu seorang wanita penjual obat yang mengajaknya bermalam di rumah. Dia bahkan berkata. "Kasihan anak kamu sakit. Jangan sungkan, lagian saya bukan orang jahat."


Rafa menurut.


Wanita itu memberikan teh hangat pada Rafa dan Rafa memberikannya pada Yunda.


"Tidak usah Bi."


"Baik. Kalau begitu bibi pamit keluar dulu."


Benar-benar ramah dan sopan. Rafa memuji wanita itu dalam hati.


Dia tidak percaya setelah dalam keadaan seperti ini masih ada saja yang baik.


Malam itu Rafa tidur bersama putrinya yang

__ADS_1


sedang sakit.


Paginya Rafa pamit dan berterimakasih banyak pada wanita baik itu.


Selama di perjalanan, Yunda merasa lapar.


"Yah yah! Yunda lapal!"


Rafa merogoh koceknya dan benar-benar tidak percaya! Uangnya diambil.


"Kemana?" gumamnya panik.


Rafa mencari ke seluruh kantong baju-celana. Dan mulai bersasumsi kalau bibi itu yang mengambil semua uangnya. "Jangan-jangan uangnya, di ambil lagi Waktu aku tidur? Apa aku harus kembali ya?" tanya Rafa dalam hati.


Namun perjalanan sangat jauh dari rumah sang bibi sudah ditempuh.


Rafa hanya sanggup menangis tidak tahan dengan nasip buruk yang tengah menimpanya saat ini, sesuatu yang lebih sering dilakukan ketimbang bahagia.


Rafa duduk di rerumputan depan komplek rumah.


Matanya memerah karena nangis. Dia sesak, perlahan mulai menyesali sesuatu… "Apa mungkin Dena seperti ini saat kuusir?" gumamnya sedih.


Ayunda mengusap air mata sang ayah. "Yah yah. Ayah janan nangis gini lah."

__ADS_1


__ADS_2