BALAS DENDAM MANTAN ISTRI

BALAS DENDAM MANTAN ISTRI
31. Perubahan Sikap


__ADS_3

"Yah yah… Kenaypa kita kelual dari lumah? Kita diusil ya?" satu pertanyaan sama yang terus Ayunda lontarkan tanpa henti membuat Rafa kesal. Bagaimana tidak? Kepalanya yang sedang pusing harus berpikir kemana akan pergi sekarang, malah ditanyai pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya.


"Bisa ga Yunda jangan tanya-tanya ayah lagi!?" amarah Rafa terlontar tanpa berpikir.


Mata bulat bersih Yunda menatap ayahnya untuk sepersekian detik sampai akhirnya Yunda memberontak seraya menangis. "Yah yah jaat! Tulunin Yunda setalang!"


Rafa terkejut melihat reaksi putrinya saat ini. "Kamu…"


Crak!


Aaahhh…!!!


Yunda menggigit tangan Rafa hingga pria itu terpaksa menurunkan Yunda.


"Mau kemana kamu, Yunda? Yunda!" Rafa yang sedang membawa koper besar yang hanya memuat pakaian dan beberapa mainan Ayunda berusaha berlari ke arah gedung Mall karena Yunda justru pergi ke sana.


Banyaknya orang yang berbelanja membuat Rafa tidak tau kemana Ayunda dan menyesal telah memarahi putrinya itu.

__ADS_1


Sedang Ayunda sedang berlari dengan langkah kaki kecilnya, ia lebih sering tertabrak kaki orang dewasa yang berhenti membeli barang yang mereka inginkan.


Dena, Ray dan Rama sedang berbelanja kebutuhan bayi karena Dena sedang hamil lima bulan mendadak terkejut karena seorang anak perempuan berlari dan menabrak Dena.


"Eh, eh…" Dena hampir jatuh. Beruntung Ray segera menarik tangan istrinya itu.


Ray melihat anak yang wajahnya justru rada mirip dengannya itu, hampir memarahinya. "Dek, kenapa malah lari-lari sih. Ke mana orangtuamu?"


"Mas, jangan marah-marah gitu lah sama anak kecil," peringat Dena lembut karena setelah mengetahui Istrinya hamil, Rayyan berubah menjadi pria siaga dan over protective.


"Yah yah jaat, ante! Yah yah Ndak cayang ama Yunda ladi!" Yunda berbicara pada Dena seperti mereka sangat dekat. Air mata pilu anak itu membuat Dena kasihan.


"Dena, sudahlah. Jangan terlalu dekat sama anak kecil. Siapa tau dia orang jahat yang mau celakain kamu?" ucap Ray memperingatkan.


Dena menoleh ke arah suaminya itu. "Dia masih anak-anak loh, mas. Mana mungkin jadi tangan kanan orang jahat," tolak Dena.


"Kamu seperti tidak tau saja. Justru semut yang tidak kita kira bahaya bisa menjadi ancaman. Jangan terlalu terpaut kasihan sama orang."

__ADS_1


Dena semakin tidak mengerti jalur pikiran suaminya ini. Dia menarik tangan mungil Ayunda dan pergi tanpa menoleh pada Ray.


Ray menatap kepergian istrinya itu semakin berpikir kalau Dena semakin menjadi istri pembangkang sejak dia hamil, berlaku sesuka hati seolah keputusannya yang paling benar.


Walau Dena yang paling berkuasa di perusahaan bahkan uangnya bukan main jumlahnya, dia tetap istriku dan aku yang lebih berhak mengaturnya! pikir Ray memutuskan.


Ia menyusul Dena dengan tetap menggendong Rama dan barang belanjaan mereka.


Setelah mencari-cari, Ray menemukan Dena sedang bercanda tawa entah apa yang mereka bicarakan. Anak perempuan berbaju lusuh itu memakan ice cream vanilla. Dena tampak sangat akrab sekali dengan Ayunda.


Ray entah mengapa kesal. "Anak itu… pasti dia akan jadi penghalang kehidupan nyamanku bersama Dena!" ucapnya marah.


Sedang di sisi lain.


Rafa benar benar frustrasi. Sudah uangnya hilang, rumahnya hilang, tambah lagi masalah, putrinya ikut hilang.


Ia sduah mencari si segala tempat. Tapi tidak kunjung ketemu.

__ADS_1


"Ayah menyesal, Yunda. Jangan pergi… hanya kamu yang ayah miliki sekarang. Semua hilang dan meninggalkan ayah. Ibumu, uang kerja keras ayah… tapi janganlah kamu ikut-ikutan," ucap Rafa dengan durai air mata.


Tidak peduli banyak orang menatapnya aneh dan banyak mencibir, mengatakan kalau Rafa itu sudah gila.


__ADS_2