
Pagi ini, entah mengapa Dena sangat bersemangat berangkat ke kantor.
Setelah mandi dan berpakaian, wanita itu mencium pipi putra kecilnya yang masih tidur kemudian pergi.
"Di mana nyonya Dena, bi?" tanya Ray pada pelayan yang bekerja di rumah besar milik istrinya itu setelah hampir setengah jam sudah Dena pergi dari rumah.
"Tadi kata nyonya, nyonya pergi ke kantor."
"Secepat itu?!" tanyanya terkejut.
"Iya tuan," jawab pelayan sedikit takut.
Ray benar-benar tidak percaya dengan tingkah Dena. Baru semalam Ray menemukan Dena tidak tidur sampai jam tiga pagi. Sekarang, sepagi-pagi ini, Dena sudah pergi. "Kapan dia tidur?" tanya Ray berbisik pada udara, dengan rasa cemas yang berlebihan.
"Sebelum nyonya pergi, Nyonya juga berpesan tuan jangan panik. Karena Nyonya akan balik-balik saja di luar."
"Ya sudah kalau begitu. Aku akan pergi. Tolong panggil babysitter untuk memandikan Rama."
"Baik, tuan."
Ray datang ke kamar hanya untuk mengambil kunci mobil. Ia melirik Rama yang sedari tadi menangis menjadi alasannya bangun. Ia benar-benar kesal. Karena nyatanya ia hanya ingin harta Dena makanya membiarkan Rama lahir.
__ADS_1
Kalau tidak, melihat perut Dena yang membuncit saat mengandung Rama dan sikap Dena yang tidak ingin disentuh sudah membuatnya murka.
Sekarang ia harus mencari Dena dan menyuruh istrinya supaya tidak bekerja berlebihan. Ia mengkhawatirkan bayi mereka.
Kehamilan Dena dari benihnya jelas merupakan rencana Ray sendiri.
Kalau jenis kelaminnya lelaki jelas sangat menguntungkan. Bisa bersaing mendapatkan harta Dena. Ray bisa menyusun strategi supaya harta Dena jatuh sepenuhnya kepada anak dari dari Ray bukan Rafa.
Sedang di sisi lain.
Beberapa waktu saat Dena keluar dari rumah.
Dena melihat Rafa di pinggir jalan. Pakaiannya terlihat sangat kumuh, kemudian tampak sangat panik.
Tanpa pikir panjang, Dena menepikan kendaraan dan turun dari mobil.
Pandangan Rafa memaku pada mobil di depannya. Putrinya sedang sakit dan Rafa benar-benar sangat panik saat ini.
Rafa melihat seorang wanita mendekatinya. Semakin dekat, Rafa melihat Dena.
Dia berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Hai…" sapa Dena ramah setelah di dekat Rafa.
Rafa diam, seolah tidak menganggap Dena di sampingnya.
Hati Dena sedikit terluka karena perilaku cuek Rafa. Namun ia cukup mencari juga mengapa pria ini berlaku seperti itu.
Dena mengganti pandangannya pada Ayunda. Dena mengamati keadaan Dena dan segera terkejut. "Kamu… em, Ayunda harus di bawa ke rumah sakit segera!" ucapnya mendesak.
Rafa meski khawatir pada gadis kecilnya yang sedang sakit. Tubuh Yunda panas namun gadis kecil itu menggigil kedinginan seperti tidak mendapatkan kehangatan. Rafa diam dalam perasaan menjadi manusia rendahan. Bukan marah atau tidak nyaman. Hanya saja merasa… tidak pantas mendapat bantuan Dena.
Dena menyentuh tangan Ayunda. "Dia harus di bawa ke rumah sakit, Rafa!" ucap Dena panik.
Rafa tertunduk menatap Ayunda yang menggigil.
"Aku tidak akan meninta bayaran. Aku bukan perempuan serakah!" ucap Dena lagi dan lagi semakin panik.
Melihat tiada reaksi Rafa, membuatnya sangat kesal. "Ya sudah kalau begitu. Aku tidak akan peduli keputusanmu sekarang! Aku akan bawa Ayunda."
Dengan sigap Dena mengangkat Ayunda dari alas karton tempat Rafa membaringkan Ayunda.
"Hey, jangan membawanya!"
__ADS_1
Tapi Dena tetap kekeh membawa Ayunda ke rumah sakit.
Sekali lagi, Ia bukan perempuan tegaan.