BALAS DENDAM MANTAN ISTRI

BALAS DENDAM MANTAN ISTRI
17. Suami Super Pengertian


__ADS_3

POV Dena


Aku baru saja memandikan Rama di kamar kami dengan bak mandi bayi berisi air hangat-hangat kuku, saat Ray keluar dengan mantel mandi dan terus diam, suamiku ini bahkan tidak berusaha menyapa atau setidaknya bicara entah apa gitu supaya suasana tidak canggung seperti ini.


"Maafkan karena kejadian semalam…"


"Rama mungkin hanya kurang kenyang saja semalam, atau karena lampu dimatikan, makanya dia menangis."


Ray langsung mencegahku bicara banyak, dia memang termasuk tripikal pria perhatian dan tidak mengedepankan kepentingan ego diri.


"Mungkin kita bisa melakukannya nanti malam, aku janji bahkan sampai Rama pun tidak akan menganggu kita," aku berusaha tidak mengecewakannya.


"Hari ini mungkin Rama, tapi nanti … ah sudahlah, untuk apa bicara kejadian yang sudah lewat. Aku akan menunggumu sampai siap saja, aku bukan laki-laki pemaksa kehendak meski itu sedang dalam keadaan gawat-gawatnya."


Beruntung sekali rasanya mendapatkan pria seperti Rayyan ini. "Sebenarnya aku sudah siap. Tapi mungkin belum waktunya."

__ADS_1


Ray hanya mengangguk dan berdiri di depan lemari serta memilihkan pakaiannya.


"Aku baru saja menyiapkan pakaianmu, ini kemejamu lengkap dengan pakaian dalammu," aku menunjuk sudut ranjang di mana kuletakkan pakaian suamiku sebelum memandikan Rama.


Terlihat dia tidak mengatakan apapun. Aku sering melayaninya dalam hal kecil seperti menyiapkan pakaiannya, tapi beberapa hari kemarin tidak, karena aku yang baru sebulan ini tamat kuliah harus menghadapi banyak pertemuan bersama pak tua Gilang. Sehingga melayani suami dan anakku sendiri sangat sulit dilakukan.


Aku meletakkan Rama di tengah ranjang. Ini sengaja kulakukan supaya Rama mendapat pancaran sinar matahari dari jendela yang terbuka. "Bisa menjaganya sebentar, aku mau mandi," ucapku seraya mengambil peralatan mandiku yang tergantung dalam lemari pakaianku.


"Mandilah," ucapnya.


Gemercik air selama mandi membuatku tidak tau apa yang terjadi. Takut Ray melakukan hal aneh sebagai 'balas dendam' terhadap Rama yang menganggu kami.


Aku mendekat pada Ray. "Apa dia tidak menangis sedaritadi?"


"Kurasa tidak. Dia tenang," balasnya.

__ADS_1


Memang ketika kulihat Rama tertidur sangat nyaman di tempatnya. Tapi bayangan kalau Ray habis memarahi Rama atau mungkin melakukan sesuatu agar Rama tenang? Soalnya selama ini, Rama akan selalu menangis di mana seolah menunjukkan kalau dia tidak menyukai Ray, jadi tidak mungkin Ray bisa mengangkatnya dengan keadaan Rama yang tenang.


"Kenapa Rama bisa ada di sini. Bukan kah Rama sedikit tidak menyukaimu?"


Ray menunjukkan senyum. "Ayolah, aku Ayahnya. Mungkin aku hanya perlu belajar cara menggendong bayi supaya Rama nyaman dan ketagihan bersamaku. Oh ya, hari ini aku hanya mengatasi pasien yang sudah menjadwalkan pemeriksaan hari ini. Jadi aku kira aku bisa menjaga Rama bersama bi Inah selagi kau tidak ada di rumah."


Aku tersenyum manis padanya. "Terimakasih."


"Untuk alasan apa?"


"Kamu sangat baik dan… aku merasa tidak pantas karena punya banyak salah padamu."


"Salah mu memang apa?" dia malah pura-pura tidak tau. "Aku rasa kau tidak punya salah apapun sejauh ini. Hanya waktu saja yang masih belum tepat. Aku suamimu, jadi apa kekuranganmu, itu kekuranganku juga."


Aku terharu. Tanpa sadar malah menangis.

__ADS_1


"Ayolah, jangan menangis seperti bayi. Aku bingung harus lakukan apa, Rama saja perlu dibujuk apa kamu perlu dibujuk juga, hm?"


__ADS_2