
"Kita akan pindah."
"Hah?" detik selanjutnya setelah Ray dan Dena diam, Dena malah mengucapkan sesuatu yang membuat Ray terkejut.
"Kita akan pindah," ulang Dena lagi. Kini suaranya terdengar tidak dingin dan datar lagi.
Ray mengangkat sebelah alisnya. Dia menghentikan tangan yang sedari tadi menyuapkan makanan ke mulutnya. "Apa kamu tidak betah tinggal di sini?" tanya Ray penasaran.
Dena menggeleng. "Bukan tidak betah. Aku sangat betah, malah!"
"Terus, apa masalahnya?" tanya Ray lagi.
"Sudah kubilang tidak ada masalah!" tekan Dena tanpa sadar menguatkan suaranya.
"Apa kamu ada masalah hari ini, Dena? Cerita padaku, aku suamimu. Kita sudah berjanji, membagi suka duka satu sama lain. Kalau aku punya kesalahan yang buat kamu ga nyaman, aku minta maaf…"
Dena membulatkan mata. Dia tertegun sejenak. "Maaf… aku lupa," bisik Dena sedih. "Kamu tidak salah, jadi jangan minta maaf. Kamu suami terbaik. Di saat semua orang menjauhiku, kamu mendekat. Menikahi ku, dan mengangkat derajat ku setinggi-tingginya. Di saat hampir seluruh suami menginginkan istrinya di rumah menjaga anak, kamu justru membuka pintu sebesar-besarnya tanpa sebuah batu sandungan kepadaku untuk berkarir dan balas dendam. Maaf waktunya cukup lama. Tapi langkah pertama balas dendamku sudah tunai. Aku berhasil mengambil rumahku kembali. Maka aku minta kita pindah. Rumah sakit tempatmu kerja bahkan lebih dekat kalau kita tinggal di sana. Aku mau kita tinggal di sana, supaya si penghianat di sana tidak mengambil rumah itu lagi," pinta Dena.
__ADS_1
Ray menghela nafas. "Aku kira kamu marah. Soalnya tampak, moodmu tidak baik-baik saja," ucap Ray lega.
"Hehehe… aku hanya melatih kegaranganku," cicit Dena malu.
"Tapi itu sudah membuatku ketakutan! Jangan memperlihatkannya padaku, ya… Aku takut!" pinta Ray dengan kesungguhannya.
"Sebagai ucapan minta maafku, hari ini aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya."
Ray terkejut. "Kamu tidak berbohong kan?" tanya Ray tidak percaya.
"Aku akan memberikan yang terbaik!" ucap Ray senang.
Sedang di sisi lain.
"Kenapa semuanya hilang sih!" gerutu Lidia kesal, saat ini emosinya sedang dalam tingkat sedikit tinggi. "Itu semua uangku loh…" ucapnya sedih.
Rafa hanya diam, dia juga sama seperti Lidia pusingnya. Namun ia masih mampu mengontrol amarahnya.
__ADS_1
"Ini semua karnamu!" ucap Lidia menyalahkan Rafa.
"Loh kenapa malah aku?" tanya Rafa tidak terima.
"Ya! Karenamu hidupku jadinya gini! Aku bakal ambil semua uang terisisaku di brangkas dan jangan kejar aku! Aku mau hubungan kita usai sekarang! Aku ga mau miskin sepertimu!" teriak Lidia segera keluar dari mobil bahkan tanpa membawa putri mereka bersamanya.
Rafa diam seperti keinginan Lidia. Hatinya teriris. Lidia memiliki brangkas yang memang diketahuinya ada sejumlah uang dan perhiasan.
Brangkas itu dikeluarkan dan Rafa mengira, Lidia akan berbagi dengannya untuk menghadapi kehidupan sulit ini.
Namun Lidia benar-benar menunjukkan sifat ketidaksetiaannya padanya.
Lidia sudah menghilang jauh entah ke mana saat Rafa keluar dari mobil bersama Ayunda, putri mereka.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Rafa lemah karena tidak percaya, dalam satu malam segalanya habis bahkan istri yang sejak awal dibangga-banggakannya justru meninggalkannya.
"Andai, Dena masih jadi istriku…" Rafa benar-benar menyesal telah meninggalkan bongkahan permata demi sebiji emas palsu.
__ADS_1