BALAS DENDAM MANTAN ISTRI

BALAS DENDAM MANTAN ISTRI
30. Meluncur dari Atas ke Titik Terendah


__ADS_3

Sudah satu tahun lebih Rafa menjalani kehidupan 'kalau tidak kerja tidak makan'.


Di awal kehidupan sulitnya, Rafa mengandalkan uang dari penjualan mobil yang terpaksa dilakukannya untuk menyambung hidup.


Ijazahnya tidak diketahui entah ada di mana. Sehingga ia tidak bisa bekerja sesuai skil yang dimiliki.


Terpaksa bekerja sebagai pedagang kaki lima yang memang cukup memenuhi kebutuhannya dan Ayunda, putrinya.


Namun seminggu yang lalu, Rafa mengetahui rumah kontrakannya kebobolan dan di saat itu juga gerobak jualan bahkan uangnya ambil oleh pencuri.


Pencuri itu tidak memakai kendaraan. Bahkan bersikap seperti bukan pencuri.


Mereka jalan lewat semak-semak belakang rumah Rafa dan kejadiannya malam hari


membuat Rafa pusing kenapa hidupnya selalu ditimpa masalah bertubi-tubi.

__ADS_1


"Keluar kamu dari rumah ini sekarang juga, pak Yunda! Di mulai dari rumah ini, sampai hampir semua rumah warga kebobolan!" teriak ibu Muria, yang membuat Rafa yang sedang menidurkan Ayunda di kamar segera keluar mendatangi pemilik rumah kontrakan ini.


"Tapi bu Ria, bukan salah saya rumah saya dan warga dibobol. Saya sendiri masih ditimpa kemalangan, seluruh uang saya diambil sampai semuanya kosong. Tolonglah Bu. Saya juga sama seperti para warga di sini," jelas Rafa bersedih.


"Aduan warga yang bilang sama pak RT kalau kamu dalang semua ini. Pak RT datang sama saya terus bilang pak Yunda harus segra pindah dari sini!" ucap ibu Muria.


Kening Rafa mengerut. "Saya bukan pelakunya, bu Ria. Saya sendiri juga kehilangan. Sejak kapan pencuri yang mencuri rumahnya sendiri? Kan ga ada kan Bu." Rafa berusaha menolak segala tuduhan tidak masuk akal dari pemilik kontrakan tempat tinggalnya selama setengah tahun ini.


"Saya tau pak Yunda bukan pelakunya. Tapi sejak bapak kehilangan, rumah warga di sini juga kena imbasnya. Mungkin bapak ada masalah sama pencuri itu. Apalagi semenjak bapak datang, ada banyak masalah yang jelas mengganggu kami. Saya kasih waktu sampai besok malam. Kalau bapak ngotot ga pindah juga, maka dengan berat hati, kami usir bapak dari kontrakan ini!"


"Semua demi kenyamanan. Karna sudah 10 hari bapak tinggal di rumah ini, maka saya akan kembalikan 50%nya." Bu Muria membuka dompetnya dan mengeluarkan uang Rp. 600.000,00 pada Rafa.


Pria itu menerimanya dan Bu Muria pergi dari depan pintu kontrakannya.


Rafa menutup pintu. Dia menghela nafas. Benar-benar tidak percaya hidupnya akan seperti ini.

__ADS_1


Bagaikan grafik, meluncur bebas sampai titik nol, kemudian berusaha merangkak naik, tapi ditekan sampai kembali ke titik semula, nol.


Rafa menghela nafas. Dia melihat uang Rp. 600.000,00 yang dipegangnya.


Ia sudah rugi karena bulan ini baru 10 hari sejak dia membayar.


Namun merasa beruntung juga, karena bu Muria masih berbaik hati memberikan kembalian uang meski bagi kebanyakan pemilik kontrakan, mereka akan menolak mentah-mentah permintaan kembalian uang.


Rafa pergi ke kamar. Dia melihat putrinya yang entah sudah sejak kapan berdiri di depan pintu, mata mengantuknya, rambut berantakannya, dan tubuh super lemas yang melihat Rafa.


"Putri Ayah, kenapa berdiri di sana. Tidurlah…" pinta Rafa berusaha tegar pada putrinya yang berusia 3 tahun.


"Yah yah… Ciapa di depan cana?" tanya Ayunda sambil menggaruk tengkuknya.


"Enggak, bukan siapa-siapa, sayang," balas Rafa singkat.

__ADS_1


"Sualanya milip bu Mulia. Meleka mau usil kita ya Yah yah?"


__ADS_2